Ahlan Wasahlan Sugeng Rawuh ....

"SELURUH DUNIA ADALAH PESANTRENKU" demikian fatwa Sunan Kalijaga, 600 tahun yang lalu. Sabda pangandika ini mengisyaratkan bahwa tugas dakwah adalah ke seluruh alam tanpa batas. Maka Pesantren Khusnul Khatimah, nyendikani dawuh ini dengan mengirim ratusan santri, kyai, ulama, ustadz ke seluruh penjuru dunia untuk terus mengabarkan ketauhidan Allah SWT.

Zakat Mal, Sumbangan, Infak dan Sedekah Anda
akan kami salurkan untuk membantu program dakwah ke pelosok-pelosok nusantara.

Minggu, 13 Juni 2010

AL MAGHFURLLAH GUS DUR


Menurut keterangan Kyai Agil siraj (Ketua PBNU) - SCTV dalam acara Mengenang 7 Hari Gus Dur tanggal 6 Januari 2010 jam 10.58

1. Kisah Makam Surya Memesa dan Ziarah Syekh Ali Uraidi bin Imam Ja’far Shadiq

Di sela-sela acara tahlilan hari ke-7 wafatnya Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa (5/1), Said Agil pernah diajak ziarah ke pedalaman Tasikmalaya, Panjulan. Gus Dur membawanya ke sebuah kuburan yang sepi. Untuk mencapai lokasi saja, harus menyebrang sebuah situ (danau).

Saat tiba, Gus Dur menuju sebuah makam. Saat ditanya Said Agil, siapa jenazah yang telah dikebumikan di tanah ini? Gus Dur tidak langsung menjawab. “Dia orang sakti. Dia mencari musuh agar dia bisa dikalahkan,” ujar Said Agil meniru ucapan Gus Dur.

Orang sakti yang dimaksud Gus Dur, sambung Said Agil, ternyata bernama Surya Mesesa, seorang penyebar agama Islam di pulau Jawa. Gus Dur memberitahukan kepada Said Agil, mengapa Surya Mesesa bisa masuk Islam.

“Untuk mendapatkan musuh, Surya Memesa sampai ke Madinah, dan bertemu Syeikh Ali. Sama Syeikh Ali, Surya Mesesa disuruh mengangkat sebuah tongkat, dan tidak bisa. Karena itu, dia masuk Islam,” ujarnya.

Ceritanya, Gus Dur bersama Said Aqil ingin membacakan surat Al-Fatihah untuk Syekh Ali sebanyak seribu kali. Namun ketika mereka baru membacakan al-Fatihah sebanyak 30 kali tiba-tiba seorang polisi datang mengusir mereka dan mengatakan, “Musyrik, haram!”

Untung saja mereka bukan penduduk setempat, sehingga tidak dihukum berat, karena bagi mereka ziarah kubur adalah larangan berat. Namun Gus Dur sempat marah kepada polisi itu, “Kamu musuh Allah, Wahabi,” kata Gus Dur seperti dikutip Said Aqil saat memberikan testimoninya usai memimpin tahlilal 7 hari di Ciganjur, Selasa (5/1) malam.

Said Aqil bercerita, Gus Dur berziarah ke makam Syekh Ali al-Uraidhi karena Syekh ini konon sempat mengalahkan seorang yang hebat bernama Surya Mesesa. Ia merasa tak terkalahkan. Bahkan untuk mendapatkan musuh, Surya Memesa sampai ke Madinah, dan bertemu Syekh Ali al-Uraidhi.

“Sama Syeikh Ali, Surya Mesesa disuruh mengangkat sebuah tongkat, dan tidak bisa. Karena itu, dia masuk Islam,” ujar Said Aqil. Cerita ini diperolehnya dari Gus Dur saat ia diajak berziarah ke pedalaman Tasikmalaya, Panjulan.

Said Aqil bertanya, “Makam siapa Gus?” Gus Dur menjawab, “Dia orang sakti. Dia mencari musuh agar dia bisa dikalahkan.” Karena itulah Gus Dur berziarah ke makam tersebut dan kemudian ke makam Syekh Ali al-Uraidhi.

Menurut Kang Said, panggilan akrab KH Said Aqil Siradj, Gus Dur memang gemar berziarah ke makam para ulama dan sesepuh. Selain mendoakan mereka, dengan cara itu Gus Dur merangkai sejarah peristiwa yang terjadi beberapa ratus tahun yang lalu, yang bahkan tidak tertulis dalam buku-buku sejarah.

Namun ada yang yang menarik ketika Gus Dur berziarah kesuatu makam, kata Kang Said. ”Kalau ada makam yang diziarahi Gus Dur, pasti kemudian makam itu ramai diziarahi orang. Gus Dur memang tidak hanya memberkahi orang yang hidup, tapi juga orang yang sudah mati,” katanya disambut tawa hadirin. (nam) (sumber 1 , sumber 2)

2. Bertemu dan didoakan wali di madinah

setelah berziarah (point 1) , beliau berdoa di raudah, malamnya gus dur ngajak kyai agil jalan2 ke masjid untuk mencari seorang wali

setelah muter2 dimasjid, kyai agil ketemu sm orang pake surban tinggi, lagi ngajar santrinya banyak, bilang sm gus dur

‘apa ini wali gus ?’
gus dur bilang, ‘bukan’

akhirnya cari lagi,ketemu sm orang yg pake surban dengan jidat hitam , gus dur bilang ‘bukan ini’

kemudian gus dur menghentikan langkah di dekat orang yg pake surban kecil biasa, duduk diatas sajadah, baru gus dur bilang, ‘ini adalah wali’

kemudian kyai agil memperkenalkan pada wali tersebut, dalam bahasa arab, dan terjemahannya seperti ini

‘Syekh, ini sy perkenalkan namanya ustad Abdurrahman Wahid, ketua organisasi islam terbesar di asia’,

tujuan dari mencari wali ini ialah ingin didoakan oleh seorang wali. akhirnya wali ini berdoa untuk gus dur semoga di ridloi, di ampuni , hidupnya sukses. setelah itu wali tersebut pergi sambil menyeret sajadahnya dan mengatakan ‘dosa apa saya? sampai2 maqom/kedudukan saya diketahui oleh orang’…

dalam sebuah atsar (perkataan ulama2) menyatakan bahwa ‘yang mengetahui kedudukan seorang wali adalah sesama wali itu sendiri’

3. Weruh sak durunge wineruh.

Artikel ini sy ambil dari http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/index/72/Selamat-Jalan-Gusdur

Kiayi Haji Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI yang ke-4 sudah lama saya kenal melalui siaran televisi, koran-koran dan buku-buku yang memuat pemikiran beliau. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah saat kami berdua pernah duduk bersama seharian penuh dari pukul 07.00 pagi hari sampai 19.00 malam hari. Kebersamaan kami berlangsung di Riau, tepatnya di kediaman Gubernur Riau, H. M. Rusli Zainal. Ketika itu Gubernur Riau sendiri yang meminta saya untuk menemani Gusdur sebagai ‘pengganti’ tuan rumah, karena Gubernur Riau tidak dapat terus menerus menemani Gusdur.

Jadilah pertemuan kami itu berlangsung aman, tanpa ada gangguan sedikitpun. Saya masih ingat rombongan Gusdur saat itu lumayan ramai juga, di antaranya adalah Muhaimin Iskandar (sekarang menjadi Menteri Tenaga Kerja RI), dan saudara Lukman Edi (seorang anggota DPR RI). Sepanjang hari itu, kami duduk bersebelahan dan berbicara panjang lebar mulai dari masalah agama, masalah negara, masalah pemimpin-pemimpin Indonesia.

Ketika membicarakan masalah agama kami terlibat dalam pembicaraan sangat serius. Saat itu kami berkesempatan untuk membuktikan secara langsung kata-kata orang yang banyak saya dengar, yang menyatakan bahwa Gusdur menguasai banyak kitab-kitab klasik. Maka kami membuka dialog dengan mencuplik kitab-kitab klasik yang pernah kami baca mulai dari karangan Imam As Syafi’i, Imam Harmaini, Imam Al Ghazali, Imam Ibnu Katsir, dan lain-lain. Apa yang terjadi…? Gusdur ternyata bukan hanya mahir mengimbangi pembicaraan mengenai berbagai permasalahan yang kami kemukakan, namun dengan mahir beliau malah membacakan matan-matan semua persoalan tersebut dalam bahasa Arab yang asli, tepat seperti isi kitab yang asli. Tidak dapat kami pungkiri bahwa saat itu hati kami bergetar, kagum, heran, juga bahagia. Yakinlah kami bahwa Allah benar-benar Maha Kuasa dan telah menciptakan hamba-hambaNya dengan berbagai kelebihan. Subhanallah…

Ketika membahas kepemimpinan nasional, Gusdur dengan disertai humor-humor kocak sana sini menjelaskan dan berdiskusi dengan kami tentang banyak hal. Satu yang sangat kami catat kuat dalam ingatan kami bahwa tidak pernah sekalipun terucap kata-kata jelek yang bersifat mempersalahkan seorangpun dari pemimpin nasional kita. Ketika membahas Pak Harto, nada ucapan beliau berubah menjadi sangat lembut dan serius. Saat itu Gusdur berkata dan kami masih ingat benar, beliau berucap begini: “Pak Harto sebagai seorang pemimpin nasional telah memberikan contoh sebuah pekerjaan yang terencana dan terukur. Program beliau direncanakan rapi dan diukur setelah waktu pelaksanaan berakhir.” Kemudian beliau berdiam berapa saat. Kemudian beliau tertawa kecil seraya berkata sambil tertawa: “laahha kalo saya, kerja kapan inget, terus saya buat saja..”

Kesan saya saat itu muncul, sebagai orang Jawa asli, Gusdur terbiasa dengan sikap dan adab orang Jawa, mikul nduwur yaitu menghormati orang yang lebih tua. Beliau jujur dan humoris. Jujur dalam arti tidak menyembunyikan kelemahan dirinya.

Pertemuan kami berjalan manis. Kami hanya berpisah beberapa menit saat waktu sholat Dzuhur dan Ashar tiba, untuk kemudian duduk kembali di meja yang sama. Ada beberapa keistimewaan Gusdur yang saya yakin muncul dari indera keenam beliau. Ketika beliau bertanya kepada kami: “Sampeyan itu kan orang Medan, kok kata Gubernur tadi, sampeyan orang Riau?” Kemudian kami menjelaskan bahwa ibu kami adalah orang Riau dari Rokan Hilir, Bagan Siapi-api. Namun kemudian beliau berkata: “Rumah sampeyan di Klender, sampeyan buat pengajian malam senin di Klender, terus sampeyan begini…sampeyan begitu..” yang kesemuanya tepat dan benar. Paling aneh adalah saat kami katakan bahwa kami akan pulang pukul 17.00 dengan pesawat Mandala, saat itu beliau berkata kepada saya dengan tegas: “Ndak, sampeyan pulang dengan saya naek Garuda jam 7 (malam).” Menanggapi ucapan itu kami diam saja sebab di tangan kami sudah ada tiket Mandala pukul 5 sore rute Pekanbaru-Jakarta.

Ternyata pesawat Mandala delay sampai pukul 21.00, maka jadilah kami bertukar pesawat naik Garuda Indonesia bersama dengan Gusdur. Ada satu nasehat beliau kepada kami yang akan tetap kami ingat. “Negeri Riau adalah negerinya orang-orang Naqsyabandi. Dan dari sini telah muncul seorang wali besar Syaikh Abdul Wahab Rokan. Sampeyan musti jaga negeri ini, jangan dibiarkan begitu saja apalagi ibunya sampeyan orang asli negeri ini.” Saat itu beliau pegang tangan saya dan saya pun menjawab dengan rasa haru: “Iya Gus, saya pasti akan menjaga negeri saya ini.”

Sekarang Gusdur telah berpulang bertemu dengan Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Setelah sebelumnya memandang dengan bashirah beliau kedatangan sang kakek tercinta, Ulama Besar pendiri NU untuk mendampingi beliau di alam barzakh. Kami berdoa semoga beliau nyaman berdekatan dengan Kakek dan Bapak beliau di tanah Jombang, Pesantren keluarga besar Syaikh Asy’ari.

Selamat jalan Gusdur…Nasehat panjenengan senantiasa akan kami ingat sebagai kenangan manis antara orangtua kepada anaknya. Assalamu’alaika…
[Dikutip dari dinding sebelah li ridoillahi ta'ala ]


Gus Sholah Minta Peziarah Gus Dur Jauhi Syirik
Tak jarang di antara peziarah itu menangis dan menitikkan air mata di depan makam Gus Dur dan para sesepuh NU di komplek pemakaman itu. Di sela-sela mereka membaca surat Yasin dan tahlil.
Namun selain memanjatkan doa, tak jarang di antara peziarah yang mulai berperilaku berlebihan. Misalnya mengambil tanah gundukan di pusara mantan presiden RI ke-4 tersebut. Bukan hanya itu, sejumlah peziarah juga mengambil bunga yang berada di atas makam Gus Dur.
Umayah, satu peziarah mengaku setelah memanjatkan doa di depan makam Gus Dur ia bersama rombongan kembali ke kota asalnya, yakni Gresik.
Namun sebelum beranjak dari makam, ia terlebih dahulu mengambil tanah segenggam. Tanah tersebut akan dibawa pulang dan disimpan di rumahnya.
Umayah bersama rombongan percaya bahwasannya tanah tersebut akan membawa berkah tersendiri. Sebab, mantan ketua PBNU itu merupakan tokoh bangsa dan keturunan kiai. “Insya Allah, dengan menyimpan tanah ini kami akan mendapatkan barokah,” kata perempuan berjilbab ini sembari menunjukkan tanah yang digenggamnya, Jumat (1/1) kemarin.
Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), yang juga adik kandung Gus Dur sudah memperingatkan agar tidak berlaku berlebihan di makam. “Jika diteruskan hal itu bisa mengarah kepada kemusyrikan,” tegas Gus Sholah.

Gus Solah menjelaskan, ia sudah mendengar laporan dari para santri terkait fenomena tersebut. Ia juga sangat menyayangkan aksi ‘irasional’ yang dilakukan oleh peziarah tersebut.
Syeikh As Sudais Pimpin Shalat Gaib untuk Gus Dur di Istiqlal

Doa khusus untuk almarhum Gus Dur dipanjatkan di Masjid Istiqlal. Ustad yang memimpin doa tersebut sungguh istimewa, Imam Masjidil Haram Syekh Dr H Abdurrahman Bin Abdul Aziz Al Sudais. Abdurrahman juga memimpin shalat gaib.

Sebagaimana dikutip detikcom, Jumat (1/1) doa yang dipanjatkan untuk Gus Dur dilakukan sebelum shalat Jumat digelar. Takmir masjid mengumumkan bahwa akan dipanjatkan doa untuk almarhum Gus Dur yang dipimpin oleh Abdurrahman Sudais. Takmir meminta jamaah bersama-sama ikut mendoakan.

“Kepada para jamaah Masjid Istiqlal, mari bersama-sama kita panjatkan sejenak doa-doa untuk almarhum Gus Dur, semoga selamat dunia akhirat,” kata takmir.

Abdurrahman Sudais yang mengenakan jubah warna putih dan mengenakan sorban bercorak merah dan putih kemudian memanjatkan doa dengan bahasa Arab. Doa dipanjatkan sekitar lima menit. Para jamaah mengirinya dengan ‘amien’.

Jamaah shalat Istiqlal kemudian mendapat siraman rohani dari Abdurrahman Sudais, karena ulama berkacamata itu bertindak sebagai pengkhutbah.

Dalam khutbah berbahasa Arab itu, Abdurrahman menyinggung tentang pentingnya membina keluarga sakinah. Dia menjelaskan perlunya seorang muslim menjadi kepala keluarga dalam membina istri dan anak-anaknya dalam berpakaian, bergaul dan berakhlak islami.

Seusai shalat Jumat, Abdurrahman Sudais juga diminta takmir masjid untuk memimpin shalat gaib untuk Gus Dur. Shalat gaib diikuti sebagian besar jamaah. Di hari libur Tahun Baru ini, masjid Istiqlal tetap dipadati jamaah, meski tidak terlalu penuh.

Salah seorang takmir Masjid Istiqlal, Yanto, saat ditemui detikcom mengatakan Abdurrahman Sudais berada di Istiqlal untuk silaturahmi. “Kebetulan hari ini Istiqlal mendapat tamu kehormatan dari Abdurrahman Sudais dan sejulah tamu dan utusan dari beberapa negara seperti Mesir, Arab Saudi, dan negara-negara Islam lainnya,” kata Yanto.

Abdurrahman Sudais berada di Jakarta sejak beberapa hari lalu. Sebelumnya, Abdurrahman bertemu Presiden SBY di Istana Negara terkait penyelenggaraan Musabaqah Hafalan Alquran dan Hadist Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz Al Suud Tingkat ASEAN Tahun 2009

Desakan penetapan Gus Dur sebagai pahlawan Nasional

Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat mendesak pemerintah menetapkan mantan Presiden Abdurrahman Wahid sebagai pahlawan nasional. Gus Dur, menurut politisi yang tergabung dalam Kaukus Parlemen Pancasila ini, adalah figur yang menjaga ide Bhinneka Tunggal Ika tetap relevan.

Anggota Kaukus Parlemen Pancasila ini terdiri dari Eva Kusuma Sundari (PDIP), Rieke Diah Pitaloka (PDIP), Bambang Soesatyo (Golkar), M Romahurmuziy (PPP), Ahmad Muzani (Gerindra) dan
Akbar Faizal (Hanura).

“Pernyataan simpati dan kehilangan atas berpulangnya Gus Dur begitu meluap melintasi batas negara dan sentimen-sentimen primordial berbasis apapun,” kata mereka dalam pernyataan tertulis ke VIVAnews, Jumat 1 Januari 2009.

Gus Dur adalah putra Republik dan tokoh dunia karena pikiran dan tindakannya mencerminkan kepentingan universal. “Demi memberikan penghargaan atas kerja-kerja almarhum dan keberlangsungan ide-ide kebhinnekaan untuk memperkuat NKRI maka Kaukus Parlemen Pancasila mengusulkan kepada DPR dan pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada almarhum Gus Dur,” ujar mereka.

Usul gelar pahlawan nasional juga telah disampaikan Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Kebangkitan Bangsa. Dua partai ini dikenal sebagai partai yang banyak didukung massa Nahdlatul Ulama, yang tiga periode dipimpin Gus Dur.
[dari dinding tetangga]

ALMAGHFULLAH KI AGENG TARUB


Makam Ki Ageng Tarup teletak 10 km sebelah timur kota Purwodadi. Sebagai obyek wisata spiritual, makam Ki Ageng Tarup ini sangat ramai dikunjungi oleh para peziarah dengan tujuan untuk mencari berkah agar permohonannya dikabulkan oleh Tuhan YME. Ki Ageng Tarup sendiri menurut cerita yang berkembang di masyarakat sekitar khususnya atau masyarakat Jawa umumnya, diakui pernah memiliki istri seorang bidadari yang keturunannya akhirnya menjadi orang besar di jawa salah satu keturunannya adalah Ki Ageng Selo.

Ki Ageng Selo adalah cikal bakal yang menurunkan raja - raja di tanah Jawa. Bahkan pemujaan kepada makam ki ageng selo sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja - raja Surakarta dan yogyakarta. Sebelum gerebeg mulud, utusan dari surakarta datang ke makam Ki Ageng Selo untuk mengambil api abadi yang selalu menyala di dalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja - raja Yogyakarta.

AL MUKAROM KI AGENG SELO




MAKAM KI AGENG SELO TELETAK DI DESA SELO, KECAMATAN TAWANG HARJO 10 KM SEBELAH TIMUR KOTA PURWODADI. SEBAGAI OBYEK WISATA SPIRITUAL, MAKAM KI AGENG SELO INI SANGAT RAMAI DIKUNJUNGI OLEH PARA PESIARAH PADA MALAM JUM'AT, DENGAN TUJUAN UNTUK MENCARI BERKAH AGAR PERMOHONANNYA DIKABULKAN OLEH TUHAN YME. KI AGENG SELO SENDIRI MENURUT CERITA YANG BERKEMBANG DI MASYARAKAT SEKITAR KHUSUSNYA ATAU MASYARAKAT JAWA UMUMNYA, DIAKUI MEMILIKI KESAKTIAN YANG SANGAT LUAR BIASA SAMPAI - SAMPAI DENGAN KESAKTIANNYA IA DAPAT MENANGKAP PETIR.

KI AGENG SELO DIPERCAYA OLEH MASYARAKAT JAWA SEBAGAI CIKAL BAKAL YANG MENURUNKAN RAJA - RAJA DI TANAH JAWA. BAHKAN PEMUJAAN KEPADA MAKAM KI AGENG SELO SAMPAI SEKARANG MASIH DITRADISIKAN OLEH RAJA - RAJA SURAKARTA DAN YOGYAKARTA. SEBELUM GEREBEG MULUD, UTUSAN DARI SURAKARTA DATANG KE MAKAM KI AGENG SELA UNTUK MENGAMBIL API ABADI YANG SELALU MENYALA DI DALAM MAKAM TERSEBUT. BEGITU PULA TRADISI YANG DILAKUKAN OLEH RAJA - RAJA YOGYAKARTA. API DARI SELA DIANGGAP SEBAGAI API KERAMAT


Cerita Ki Ageng Selo merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja - raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Selo atau Kyai Ageng Ngabdurahman Selo, dimana sekarang makamnya terdapat di desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Dati II Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg).

Menurut cerita dalam babad tanah Jawi (Meinama, 1905; Al - thoff, 1941), Ki Ageng Selo adalah keturunan Majapahit. Raja Majapahit : Prabu Brawijaya terakhir beristri putri Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki - laki yang dinamakan Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh ayahnya, maka oleh raja, Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja : Ki Buyut Masharar setelah dewasa oleh raja diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk berguru agama Islam dan ilmu kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub, namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Dia dikawinkan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari perkawinan antara Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang putri yang kawin dengan Ki Ageng Ngerang.

Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh orang yaitu : Ki Ageng Selo, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya .

Kesukaan Ki Ageng Selo adalah bertapa dihutan, gua, dan gunung sambil bertani menggarap sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi - bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki Ageng Selo mendirikan perguruan Islam. Muridnya banyak, datang dari berbagai penjuru daerah. Salah satu muridnya adalah Mas Karebet calon Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam tapanya itu Ki Ageng Selolu memohon kepada Tuhan agar dia dapat menurunkan raja - raja besar yang menguasai seluruh Jawa .

Kala semanten Ki Ageng sampun pitung dinten pitung dalu wonten gubug pagagan saler wetaning Tarub, ing wana Renceh. Ing wanci dalu Ki Ageng sare wonten ing ngriku, Ki Jaka Tingkir (Mas Karebet) tilem wonten ing dagan. Ki Ageng Selo dhateng wana nyangking kudhi, badhe babad. Kathinggal salebeting supeno Ki Jaka Tingkir sampun wonten ing Wana, Sastra sakhatahing kekajengan sampun sami rebah, kaseredan dhateng Ki Jaka Tingkir. ( Altholif : 35 - 36 ) .

Impian tersebut mengandung makna bahwa usaha Ki Ageng Selo untuk dapat menurunkan raja - raja besar sudah di dahului oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Sultan Pajang pertama. Ki Ageng kecewa, namun akhirnya hatinya berserah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya kemudian kepada Jaka tingkir, Ki Ageng Selo berkata :

Nanging thole, ing buri turunku kena nyambungi ing wahyumu (Dirdjosubroto, 131; Altholif: 36 ). Suatu ketika Ki Ageng Selo ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak. Syaratnya dia harus mau diuji dahulu dengan diadu dengan banteng liar. Ki Ageng Selo dapat membunuh banteng tersebut, tetapi dia takut kena percikan darahnya. Akibatnya lamarannya ditolak, sebab seorang prajurit tidak boleh takut melihat darah. Karena sakit hati maka Ki Ageng mengamuk, tetapi kalah dan kembali ke desanya : Selo. Selanjutnya cerita tentang Ki Ageng Selo menangkap “ bledheg “ cerita tutur dalam babad sebagai berikut :

Ketika Sultan Demak : Trenggana masih hidup pada suatu hari Ki Ageng Selo pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar - benar hujan lebat turun. Halilintar menyambar. Tetapi Ki Ageng Selo tetap enak - enak menyangkul, baru sebentar dia mencangkul, datanglah “ bledheg “ itu menyambar Ki Ageng, berwujud seorang kakek - kakek. Kakek itu cepat - cepat ditangkap nya dan kena, kemudian diikat dipohon gandri, dan dia meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah cukup, dia pulang dan “ bledheg “ itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada Sultan demak. Oleh Sultan “ bledheg “ itu ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun - alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “ bledheg “ itu. Ketika itu datanglah seorang nenek - nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg “ dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “ bledheg : tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “ bledheg hancur berantakan.

Kemudian suatu ketika Ki Ageng nanggap wayang kulit dengan dhalang Ki Bicak. Istri Ki Bicak sangat cantik. Ki Ageng jatuh cinta pada Nyai Bicak. Maka untuk dapat memperistri Nyai Bicak, Kyai Bicak dibunuhnya. Wayang Bende dan Nyai Bicak diambilnya, “ Bende “ tersebut kemudian diberi nama Kyai Bicak, yang kemudian menjadi pusaka Kerajaan Mataram. Bila “ Bende “ tersebut dipukul dan suaranya menggema, bertanda perangnya akan menang tetapi kalau dipukul tidak berbunyi pertanda perangnya akan kalah.

Peristiwa lain lagi : Pada suatu hari Ki Ageng Selo sedang menggendong anaknya di tengah tanaman waluh dihalaman rumahnya. Datanglah orang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuhnya, tetapi dia “ kesrimpet “ batang waluh dan jatuh telentang, sehingga kainnya lepas dan dia menjadi telanjang. Oleh peristiwa tersebut maka Ki Ageng Selo menjatuhkan umpatan, bahwa anak turunnya dilarang menanam waluh di halaman rumah memakai kain cinde .

… Saha lajeng dhawahaken prapasa, benjeng ing saturun - turunipun sampun nganthos wonten ingkang nyamping cindhe serta nanem waluh serta dhahar wohipun. ( Dirdjosubroto : 1928 : 152 – 153 ).

Dalam hidup berkeluarga Ki Ageng Selo mempunyai putra tujuh orang yaitu : Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba ( Wanasaba ), Nyai Ageng Basri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen, Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki - laki bernama Kyai Ageng Enis. Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng Pamanahan yang kawin dengan putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan bernama Ki Juru Martani. Ki Ageng Enis juga mengambil anak angkat bernama Ki Panjawi. Mereka bertiga dipersaudarakan dan bersama - sama berguru kepada Sunan Kalijaga bersama dengan Sultan Pajang Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ). Atas kehendak Sultan Pajang, Ki Ageng Enis diminta bertempat tinggal didusun lawiyan, maka kemudian terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan. Ketika dia meninggal juga dimakamkan di desa Lawiyan. ( M. Atmodarminto, 1955 : 1222 ) .

Dari cerita diatas bahwa Ki Ageng Selo adalah nenek moyang raja - raja Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Selo sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja - raja Surakarta dan Yogyakarta tersebut. Sebelum Garabeo Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Selo untuk mengambil api abadi yang selalu menyala didalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja - raja Yogyakarta Api dari Sela dianggap sebagai keramat .

Bahkan dikatakan bahwa dahulu pengambilan api dilakukan dengan memakai arak - arakan, agar setiap pangeran juga dapat mengambil api itu dan dinyalakan ditempat pemujaan di rumah masing - masing. Menurut Shrieke ( II : 53), api sela itu sesungguhnya mencerminkan “asas kekuasaan bersinar “. Bahkan data - data dari sumber babad mengatakan bahkan kekuasaan sinar itu merupakan lambang kekuasaan raja - raja didunia. Bayi Ken Arok bersinar, pusat Ken Dedes bersinar; perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke Demak diwujudkan karena adanya perpindahan sinar; adanya wahyu kraton juga diwujudkan dalam bentuk sinar cemerlang .

Dari pandangan tersebut, api sela mungkin untuk bukti penguat bahwa di desa Sela terdapat pusat Kerajaan Medang Kamulan yang tetap misterius itu. Di Daerah itu Reffles masih menemukan sisa - sisa bekas kraton tua ( Reffles, 1817 : 5 ). Peninggalan itu terdapat di daerah distrik Wirasaba yang berupa bangunan Sitihinggil. Peninggalan lain terdapat di daerah Purwodadi .

Sebutan “ Selo “ mungkin berkaitan dengan adanya “ bukit berapi yang berlumpur, sumber - sumber garam dan api abadi yang keluar dari dalam bumi yang banyak terdapat di daerah Grobogan tersebut .

Ketika daerah kerajaan dalam keadaan perang Diponegoro, Sunan dan Sultan mengadakan perjanjian tanggal 27 September 1830 yang menetapkan bahwa makam - makam keramat di desa Selo daerah Sukawati, akan tetap menjadi milik kedua raja itu. Untuk pemeliharaan makam tersebut akan ditunjuk dua belas jung tanah kepada Sultan Yogyakarta di sekitar makam tersebut untuk pemeliharaannya. ( Graaf, 3,1985 : II ). Daerah enclave Selo dihapuskan pada 14 Januari 1902. Tetapi makam - makam berikut masjid dan rumah juru kunci yang dipelihara atas biaya rata - rata tidak termasuk pembelian oleh Pemerintah.
[dARI DINDING SEBELAH]

Sabtu, 12 Juni 2010

SIAPAKAH SYEKH SYUBAKIR?


Legenda Gunung Tidar Magelang

Keberadaan daerah Magelang terbungkus oleh berbagai legenda. Salah satu dongeng yang hidup dikalangan rakyat mengisahkan --sebagaimana dikisahkan M. Bambang Pranowo (2002)-- bahwa pada zaman dahulu kala, ketika Pulau Jawa baru saja diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dalam bentuk tanah yang terapung-apung di lautan luas; tanah tersebut senantiasa bergerak kesana kemari. Seorang dewa kemudian diutus turun dari kahyangan untuk memaku tanah tersebut agar berhenti bergerak. Kepala dari paku yang digunakan untuk memaku Pulau Jawa tersebut akhirnya menjadi sebuah gunung yang kemudian dikenal sebagai Gunung Tidar. Gunung yang terletak di pinggir selatan kota Magelang yang kebetulan berada tepat dibagian tengah Pulau Jawa tersebut memang berbentuk kepala paku; karena itu gunung Tidar dikenal luas sebagai “pakuning tanah jawa”.

Dongeng lain yang tentunya diciptakan setelah masuknya Islam mengisahkan bahwa pada zaman dahulu daerah ini merupakan kerajaan jin yang diperintah oleh dua raksasa. Syekh Subakir, seorang penyebar agama Islam, datang ke daerah ini untuk berdakwah. Tidak rela atas kedatangan Syekh tersebut terjadilah perkelahian antara raja Jin melawan sang Syekh. Ternyata Raja Jin dapat dikalahkan oleh Syekh Subakir. Raja Jin dan istrinya kemudian melarikan diri ke Laut Selatan bergabung dengan Nyai Rara Kidul yang merajai laut Selatan. Sebelum lari Raja Jin bersumpah akan kembali ke Gunung Tidar kecuali rakyat didaerah ini rela menjadi pengikut Syekh Subakir.

Legenda ini sangat melekat bagi masyarakat tradisional Jawa, tidak sekedar di Magelang, tapi juga ke daerah-daerah lain di Jawa, bahkan sampai di Lampung dan mancanegara (Suriname). Hal ini karena telah disebutkan dalam jangka Joyoboyo dan mengalir secara tutur tinular menjadi kepercayaan masyarakat. Apalagi pemerintah kota Magelang menjadikan Tidar sebagai simbol atau maskot daerah dengan menempatkan gunung Tidar yang dilambangkan dengan gambar paku di dalam logo pemerintahan. Di samping itu nama-nama tempat begitu banyak menggunakan nama Tidar, seperti nama Rumah Sakit Umum Daerah, nama perguruan tinggi, nama terminal dll. Yang semuanya menguatkan gunung Tidar menjadi legenda abadi.


Ribuan Warga Padati Haul Syech Subakir

Peringatan Haul Syeikh Subakir ke-534 yang digelar di kawasan Makam Astana Gedong Kenep, Kelurahan Mangunjiwan, Kecamatan Demak Kota berlangsung sangat meriah.

Rombongan warga yang datang dari berbagai daerah memadati tempat acara yang berlangsung di areal Yayasan Karaton Glagahwangi ini, Minggu malam (25/1). Mereka datang dari berbagai penjuru desa di Demak serta berasal dari luar daerah, seperti Kudus, Jepara, Grobogan, Semarang, Solo, Jakarta, Sumatera, Bali dan daerah-daerah lainnya.

Humas panitia haul, Mukti Wijaya, menuturkan, Syeikh Subakir dikenal sebagai salah seorang tokoh penasihat Walisongo. Syeikh Subakir adalah salah seorang penyebar Islam pertama yang berdarah asli Jawa.

"Para pengunjung yang berdatangan dengan harapan dapat ngalab berkah. Mereka juga rela begadang semalam suntuk menonton pementasan wayang yang dimainkan Dalang Ki Manteb Sudarsono asal Surakarta, kata Mukti.

Lebih lanjut Mukti menuturkan, makam Syeh Subakir diakui oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Berdasarkan legenda kesejarahan yang ada, jasad yang dimakamkan di tempat itu merupakan tokoh penanda tangan masuknya agama Islam ke tanah Jawa. (min)

SYEKH JUMADIL KUBRO MAJAPAHIT


Membincangkan Islamisasi tidak bisa dilepaskan dari peran pendidikan di dalamnya. Karena antara Islamisasi dan pendidikan saling berkaitan erat. Untuk menyukseskan Islamisasi diperlukan pendidikan sebagai upaya penyebaran ide-ide Islam ke dalam nalar masyarakat. Islamisasi akan berhasil jika memperhatikan pendidikan masyarakat dengan baik. Islamisasi akan mendulang sukses jika pendidikannya di tata dengan apik, efektif sesuai dengan local genius masyarakat..
Dalam tulisan ini, penulis hendak mengambil mutiara hikmah perjalanan Syekh Jumadil kubro dalam mengembangkan Islamisasi di tanah jawa khususnya keterkaitannya dengan pendidikan yang dikembangkannya dalam masyarakat heterogen di Majapahit. Penulis berkeinginan untuk mencari model pendidikan yang ideal di Majapahit kemudian ditarik dalam ranah kekinian untuk dikembangkan dalam membangun masyarakat seperti kondisi masyarakat saat ini. Karena penulis berkeyakinan bahwa masyarakat Indonesia seperti kondisi saat ini tidak begitu jauh dengan kondisi Majapahit kala itu. Lihat saja term-term yang dipakai pemimpin-pemimpin kita dari Sukarno sampai Suharto hingga berlanjut zamannya Susilo Bambang Yudhoyono. Kata istana, nusantara, dan lain sebagainya. Strategi-strategi politik pun tidak bisa dilepaskan dari Majapahit. Bahkan wilayah Indonesia seperti saat ini konon juga merupakan peninggalan denah wilayah yang dikuasai Majaphit.
Pendidikan Islam Dalam Ranah Sejarah
Sejak awal perkembangan Islam, pendidikan mendapat prioritas utama masyarakat Muslim. Di samping karena besarnya arti pendidikan, kepentingan Islamisasi mendorong umat Islam melaksanakan pengajaran Islam kendati dalam sistem yang sederhana.
Pendidikan Islam mencapai bentuknya hingga sekarang ini merupakan hasil dari proses Muslim menyikapi ajaran agamanya, karena Muslim dalam melakukan tindakannya senantiasa didasarkan pada acuan teks wahyu yang matluw (al-Quran) atau yang ghairu matluw (Hadis).[1] Evolusi ini berlangsung cukup lama, mulai dari periode klasik (650 – 1250 M) saat nabi Muhammad saw. mengajarkan Islam kepada masyarakat Makkah dan Madinah, disusul masa khilafah Rasyidah, kemudian khilafah bani Umayyah, dan khilafah bani Abbasiyah. Proses ini terus berlanjut pada periode pertengahan (1250 – 1800 M) yang ditandai dengan kemunduran Islam dan akibat serangan Mongol serta muncul dan tenggelamnya tiga kerajaan besar, yakni Usmani di Turki, Safawi di Persia, Mughal di India. Hingga periode modern; 1800 sampai sekarang.[2]
Dinamisasi proses pendidikan Islam tersebut berlangsung baik secara internal sebagai hasil ijtihad muslim dalam menyikapi kebutuhan umatnya, maupun eksternal sebagai akibat dari interaksi dengan umat dan budaya lain dimana Muslim berkomunikasi, seperti dengan bangsa yang ditaklukkan dalam ekspansinya, persentuhan dengan alam pemikiran Yunani, Persia, India, Cina, Mesir, maupun dengan kolonialisasi Barat, dan dunia global dewasa ini.
Meskipun terjadi perbedaan corak dan mode karena pengaruh dimensi tempat dan waktu.[3] Tetapi sumber pendidikan Islam esensinya tetap sama, yaitu al-Qur'an dan Hadis Nabi saw. Adanya variable ruang dan waktu yang terbentang antara nabi Muhammad saw. dengan keberadaan muslim pada zamannya melahirkan buah karya peradaban Islam yang beragam (seperti Fiqih, ilmu Kalam, Filsafat, Sufisme, Kebudayaan, Teknologi, dan lain-lain) sebagai hasil dari muslim membaca Islam dan menafsirkannya. Perambahan dan pengembangan peradaban Islam tersebut tidak lepas dari peranan pendidikan Islam sejak masa awalnya sampai sekarang.
Pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam di atas bisa dirujuk dari masa Rasulullah saw. memulai pendidikan Islam dalam bentuknya yang paling awal sampai pada masanya Islam memberi kontribusi yang sangat besar terhadap peradaban dunia, dan telah memberi pengaruh yang sangat yang luas dalam rentang waktu berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas, terutama pada masa kejayaan Islam di Baghdad dan Andalusia, dan dinasti-dinasti lain yang tumbuh seiring dengan melemahnya kekhalifahan Abbasiyah.
Pendidikan Islam pada masa Rasulullah saw. dan Khulafa Rasyidun, bahkan sampai akhir masa dinasti Umayyah, pendidikan Islam masih menyatu dengan dakwah Islam, belum ada pemisahan yang subtantif antar keduanya, kesemuanya berfokus pada pembebasan umat manusia dari pola kehidupan Jahiliyah menuju pola hidup yang tercerahkan.[4]
Menurut Syalaby, pendidikan Islam pada masa awalnya diselenggarakan di beberapa tempat yang berbeda-beda, seperti di rumah-rumah para ulama, di toko-toko buku, di masjid-masjid, dan lain-lain (seperti Baitul Hikmah masa Abbasiyah, Darul Hikmah Mesir, Kuttab (lembaga pendidikan dasar), perpustakaan (riset), Ruwaq, zawiyah (latihan spiritual di masjid, Ribath (semacam zawiyah namun lebih khusus aliran tertentu – tarekat – semacam pesantren), Baidiyah (sanggar pengajaran sastra, terutama sastra Arab kuno), Saloon (sanggar seni), Majlis (semacam seminari-seminari, ulama melakukan diskusi spesialisasi, seperti majlis li al-hadis, majlis li al-tarikh), Bimaristan (teaching hospital, uji coba praktik kedokteran), Observatorium), dengan bidang studi yang berbeda-beda juga, tetapi yang paling dasar adalah belajar membaca al-Qur'an, menulis dan pengetahuan dasar tentang agama dan akhlak Islam,[5] sampai pada tahun 459/1067, merupakan awal penyelenggaraan pendidikan Islam di tempat khusus, yaitu Madrasah Nidhomiyah[6], yang mempunyai ciri-ciri di samping tempat belajar yang terbagi menjadi kelas-kelas, ada guru-guru khusus yang bertugas, ada kurikulum yang ditetapkan, ada batasan waktu yang harus ditempuh. Salah seorang guru yang pernah mengajar di madrasah Nidhomiyah tersebut adalah Imam Abu Hamid Al-Ghozali.[7] kemudian setelah itu dibuka madrasah-madrasah lain di beberapa kota bahkan ke desa-desa.[8]
Pemetaan kekuasaan Politik Majapahit
Dari model pendidikan Islam yang ada di negara-negara yang berpenduduk Muslim, terlihat bahwa pendidikan Islam dalam proses dan perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik, ekonomi, dan kondisi sosial-budaya suatu negara dimana Muslim berada. Hal yang sedemikian itu dialami pula pada masa kerajaan Majapahit.
Majapahit disebut-sebut sebagai sebuah kerajaan besar, menguasai seluruh wilayah yang sekarang bernama Indonesia, bahkan kekuasaannya sampai ke beberapa wilayah manca; Semenanjung Tanah Melayu, Singapura, Brunei.
Tercatat dalam Nagarakretagama, Pararaton dan berita dari Cina zaman dinasti Ming bahwa, sejak tahun 1331, wilayah Majapahit diperluas berkat penundukan Sadeng, di tepi Sungai Badadung dan Keta di pantai utara, dekat Panarukan, seperti diberitakan dalam Nagarakretagama pupuh 48/2, 49/3 dan dalam Pararaton. Pada waktu itu, wilayah kerajaan meliputi seluruh Jawa Timur dan Pulau Madura.[9]
Baru setelah seluruh Jawa Timur dikuasai penuh, Majapahit mulai menjangkau pulau-pulau di luar Jawa, yang disebut Nusantara. Menurut Pararaton, politik perluasan wilayah ke Nusantara bertalian dengan program politik Gadjah Mada yang diangkat sebagai patih amangkubumi pada tahun 1334. Untuk mensukseskan program politik itu, pembesar-pembesar Majapahit yang tidak menyetujui, disingkirkanoleh Gadjah Mada.[10] Program politik tersebut baru dijalankan secara efektif mulai tahun 1343 dengan penundukan Bali, pulau yang paling dekat dengan Jawa.
Penundukan Suwarnabhumi terjadi sekitar tahun 1350; keruntuhannya mengakibatkan daerah-daerah bawahannya di Sumatra dan di Semenanjung Tanah Melayu jatuh ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Dua belas negara bawahan Suwarnabhumi: 1. Pahang; 2. Trengganu; 3. Langkasuka; 4. Kelantan; 5. Woloan; 6. Cerating; 7. Paka; 8. Tembeling; 9. Grahi; 10. Palembang; 11. Muara Kampe; 12. Lamuri, hampir sernuanya disebut dalam daftar daerah-daerah bawahan Majapahit dalam Nagarakretagama pupuh 13 dan 14. Daftar itu menyebut juga nama-nama daerah bawahan lainnya.[11] Rupanya, Palembang dijadikan batu loncatan bagi tentara Majapahit untuk menundukkan daerah-daerah lainnya di sebelah barat Pulau Jawa.
Daerah-daerah di luar Jawa yang dikuasai Majapahit pada pertengahan abad 14 seperti diberitakan oleh Nagarakretagama pupuh 13 dan 14 itu, seperti berikut:

Di Sumatra: Jambi, Palembang, Dharmasraya, Kandis, Kahwas, Siak, Rokan, Mandailing, Panai, Kampe, Haru, Temiang, Parlak, Samudra, Lamuri, Barus, Batan, Lampung.
Di Kalimantan (Tanjung Pura): Kapuas, Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Singkawang, Tirem, Landa, Sedu, Barune, Sukadana, Seludung, Solot, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjung Kutei, Malano.
Di Semenanjung Tanah Melayu (Hujung Medini): Pahang, Langkasuka, Kelantan, Saiwang, Nagor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang, Kedah, Jerai.[12]
Sebelah timur Jawa: Bali, Badahulu, Lo Gajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Dompo, Sapi, Gunung Api, Seram, Hutan Kadali: Sasak, Bantayan, Luwuk, Makasar, Buton, Banggawi, Kunir Galian, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon atau Maluku, Wanin, Seran, Timor.[13]

Dengan wilayah yang seluas itu, hubungan antara pemerintah pusat dan daerah, dan dengan negeri manca diatur sedemikian rupa.
Di Jawa, ada sebelas negara bawahan, masing-masing diperintah oleh raja, dan lima daerah atau provinsi yang disebut mancanegara, masing-masing diperintah juru pangalasan atau dipati, yakni 1. Daha, diperintah oleh Bhre Daha alias Dyah Wiyat Sri Rajadewi; 2. Wengker, diperintah oleh Raja Wijayarajasa; 3. Matahun, diperintah oleh Raja Rajasawardhana; 4. Lasem, diperintah oleh Bhre Lasem; 5. Pajang, diperintah oleh Bhre Pajang; 6. Paguhan, diperintah oleh Raja Singawardhana; 7. Kahuripan, diperintah oleh Tribhawana Tanggadewi; 8. Singasari diperintah o1eh Raja Kertawardhana; 9. Mataram, diperintah oleh Bhre Mataram alias Wikramawardhana; 10. Wirabhumi, diperintah oleh Bhre Wirabhumi; 11. Pawanuhan, diperintah oleh puteri Surawardhani. Semua yang memegang kuasa di negara bawahan adalah keluarga raja Majapahit.
Lima provinsi yang disebut mancanagara disebut menurut kiblat, yakni utara, timur, selatah, barat, dan pusat, masing-masing diperintah oleh juru pangalasan yang bergelar rakryan. Baik negara bawahan maupun daerah, mengambil pola pemerintahan pusat. Raja dan juru pangalasan adalah pembesar yang bertanggung jawab, namun pemerintahannya dikuasakan kepada patih; sama dengan pemerintahan pusat, di mana raja Majapahit adalah orang yang bertanggung jawab, tetapi pemerintahannya ada di tangan patih amangkubumi atau patih seluruh negara. Nagarakretagama pupuh 10 menuturkan, jika Para patih datang ke Majapahit, mereka mengunjungi gedung kepatihan amangkubumi yang dipimpin oleh Gadjah Mada. Administrasi pemerintahan Majapahit dikuasakan kepada lima pembesar yang disebut sangpanca ri Wilwatikta, yakni patih seluruh negara, demung, kanuruhan, rangga, dan tumenggung.
Mereka itulah yang banyak, dikunjungi oleh para pembesar negara bawahan dan daerah untuk urusan pernerintahan. Apa yang direncanakan di pusat, dilaksanakan di daerah oleh para pembesar tersebut.
Dari patih perintah turun ke wedana, semacam pembesar distrik; dari wedana turun ke akuwu, pembesar sekelompok desa, semacam lurah zaman sekarang; dari akuwu turun ke buyut pembesar desa; dari buyut turun kepada penghuni desa. Demikianlah tingkat organisasi pernerintahan di Majapahit dari pucuk pimpinan negara Sampai rakyat pedesaan. Apa yang berlaku di Jawa diterapkan di Pulau Bali dengan patuh.
Tidak demikian halnya dengan pemerintahan di daerah seberang lautan. Pemerintahan daerah seberang lautan tidak-mengalami perubahan apapun setelah menjadi daerah bawahan Majapahit. Dalam urusan negara, raja-raja atau pembesar daerah bawahan di seberang lautan berdaulat penuh. Kewajiban utama daerah bawahan terhadap pusat ialah menyerahkan upeti tahunan dan menghadap raja Majapahit pada waktu-waktu yang ditetapkan sebagai tanda kesetiaan dan pengakuan kekuasaan Majapahit. Pemerintah pusat tidak mencampuri urusan daerah. Nagarakretagama pupuh 16/5 menegaskan bahwa Majapahit memelihara angkatan laut yang sangat besar untuk melindungi daerah-daerah bawahan dan menghukum pembesar daerah yang membangkang terhadap pusat pemerintahan.
Dengan demikian kerajaan-kerajaan Islam di luar pulau Jawa yang telah eksis, seperti Samudra Pasai, kerajaan Melayu, tetap mengembangkan keislamannya, hingga pada masanya kelak, Islam mengambil peran yang sangat signifikan dalam melangsungkan kontinum sosial, budaya, ketika pemerintahan pusat melemah
Nagarakertagama pupuh 15/1 mencatat nama beberapa negara tetangga yang konon mempunyai hubungan persahabatan dengan Majapahit, seperti Syangka, Ayudhapura, Dharmaanagari, Marutama, Rajapura, Campa, Kamboja, dan Yawana. Daftar nama itu hampir serupa dengan nama-nama yang disebut dalam pupuh 83/4 tentang tamu-tamu asing yang sering berkunjung ke Majapahit, terutama Para pedagang dan para pendeta. Banyak di antara para pendeta asing yang menetap di Majapahit berkat pelayanan yang baik. Mereka itu adalah penyebar kebudayaan India. Berkat usaha pendeta asing, Hinduisme di Majapahit bertambah kuat. Mungkin sekali hubungan persahabatan itu terutama didasarkan atas kunjungan para pedagang dan pendeta, bukan karena adanya perwakilan asing timbal-balik di negara-negara yang bersangkutan seperti pada zaman sekarang. Tali persahabatan itu dimaksudkan sebagai usaha untuk menghindarkan serbuan tentara asing di daerah bawahan Majapahit di seberang lautan, terutama di Semenanjung Tanah Melayu, karena negara-negara tetangga itu kebanyakan berbatasan atau berdekatan dengan daerah bawahan tersebut. Lagi pula sebagian besar negara-negara tetangga itu menganut agama Hindu/Budha seperti Majapahit.
Hubungan antara Syangka (Sri Langka) dan Majapahit mungkin telah dimulai sejak pemerintahan Jayanagara (1309-1328), karena dalam piagam Sidateka, 1323, Raja Jayanagara menggunakan nama abhiseka Sri Sundarapandya Adiswara, sedangkan unsur Pandya mengingatkan dinasti Pandya di Sri Langka. Nama Sri Langka sudah dikenal pada abad 13 sebagai negara bawahan Sriwijaya. Mungkin sekali persahabatan antara Sri Langka dan Majapahit terutama akibat kunjungan pendeta-pendeta Budha dari Sri Langka ke Majapahit.
Hubungan antara Ayudhya[14] dan Majapahit bertarikh di sekitar tahun 1350, setelah Ramadhipati berhasil menyerbu Sukhothai dan menawan Raja Lu Thai pada tahun 1349, kemudian mendirikan kerajaan Dwarawati. Negara baru Dwarawati yang berpusat di Ayudhya, banyak dipengaruhi oleh negara tetangganya, yang bercorak Hindu. Dari Khmer di sebelah timurnya, negara Dwarawati mengambil pola pernerintahan, kebudayaan, kesenian, dan sistem tulisan. Dari bangsa Mon dan Burma di sebelah baratnya, negara Dwarawati mengambil pola perundang-undangan yang bersumber pada perundang-undangan India, sedangkan dari Sri Langka, negara Dwarawati mengambil agama Budha.
Dharmanagari di pantai timur Semenanjung Tanah Melayu, di bagian selatan Siam, terkenal sebagai Ligor atau Nakhon Sithammarat, adalah kerajaan lama, yang dikenal sejak abad 8 seperti tercatat pada piagam Ligor. Pada waktu itu, menjadi negara bawahan Sriwijaya. Pada tahun, 1350, ketika Ramadhipati mendirikan kerajaan Dwarawati yang berpusat di Ayudhya, Dharmanagari masih tetap berdiri sebagai negara merdeka dan mengadakan hubungan persahabatan dengan Majapahit. Bahkan, ketika Rama Khamheng dari Sukhothai pada akhir abad 13 menegakkan kekuasaannya di wilayah Indo-Cina, Darmanagari tetap bertahan karena pada abad 14, seluruh Semenanjung Melayu dari Tumasik sampai Semang adalah daerah bawahan Majapahit, sedangkan daerah sebelah baratnya dikuasai oleh Ayudhya maka Dharmanagari hanya merupakan kerajaan kecil, terjepit antara Ayudhya dan daerah bawahan Majapahit.

Marutma, biasa disamakan dengan Martaban,[15] terletak di delta Sungai Saluen, adalah kerajaan Mon. Sejak timbulnya kerajaan Burma dan Sukhotai pada abad 13, kerajaan Mon ini menjadi rebutan antara bangsa Burma dan bangsa Thai. Pada tahun 1201, kerajaan Mon berhasil dikuasai oleh Waeru dari suku Thai dengan bantuan Tarabaya, yang mengakibatkan kematian kedua belah pihak. Martaban pada tahun 1318 jatuh dalam kekuasaan bangsa Thai di bawah pernerintahan Lai Thai, putera Rama Khamheng; diperintah bangsa Thai sampai tahun 1347, ketika bangsa Mon berhasil menggulingkan kekuasaan Lai Thai dan membebaskan negaranya dari kekuasaan bangsa Thai. Demikianlah pada pertengahan abad 14, kerajaan Mon di Martaban adalah negara merdeka dan menjadi tetangga daerah bawahan Majapahit di Semenanjung Melayu.
Kerajaan Campa dengan ibu kota Wijaya (Caban) di dekat Kota Binhdinh, terletak di pantai timur Vietnam, adalah kerajaan lama, yang telah dikenal sejak permulaan abad Masehi., Campa mengadakan hubungan persahabatan dengan Jawa sejak zaman pernerintahan Raja Kertanagara, yang memerintah Singasari dari tahun 1270 sampai 1292. Konon, puteri Tapasi dari Singasari kawin dengan Raja Jaya Singawarman III dari Campa.[16]
Berkat perkawinan itu, Raja Jaya Singawarman melarang tentara Tartar, yang berlayar ke Jawa pada akhir tahun 1292, untuk menghukum Raja Kertanagara, mendarat di pantai Campa.
Pada tahun 1314, Campa diperintah oleh Tran-Minh-tong, juga dikenal sebagai Che Nang dalam Sajarah Vietnam. Setelah gagal usahanya untuk merebut kembali daerah bagian utara dari kekuasaan bangsa Vietnam, ia diusir dari negaranya. Konon, Che Nang mengungsi ke Jawa pada tahun 1318. Pada waktu itu, Jayanagara yang memerintah kerajaan Majapahit.
Menurut Nagarakretagama, pada tahun 1365, kerajaan Campa mempunyai hubungan persahabatan dengan Majapahit. Pada waktu itu, Campa diperintah oleh Che Bong Nga, orang besar di Campa berkat kejayaannya dalam peperangannya melawan Dai Viet dari tahun 1361 sampai 1390. Masa pernerintahannya bertepatan dengan masa pernerintahan Dyah Hayam Wuruk di Majapahit, yakni dari tahun 1351 sampai 1389. Baik jalannya sejarah maupun masa keruntuhannya, kerajaan Campa hampir mirip dengan kerajaan Majapahit. Che bong Nga digantikan oleh Ngaut Klaung Wijaya yang memerintah Campa dari tahun 1400 sampai 1441 dan mengambil nama abhiseka Indrawarman pada tahun 1422. la berjaya menyelamatkan negaranya dari ancaman Dai Viet, namun sepeninggalnya, timbullah perang saudara. Dalam masa tiga puluh tahun semenjak matinya Indrawarman, Campa diperintah oleh lima orang raja dari pelbagai dinasti, ganti berganti melalui peperangan, yang melemahkan kedudukan negara, sehingga ketika pada tahun 1471 diserang oleh bangsa Vietnam, kerajaan Campa runtuh dan sejak itu diduduki oleh bangsa Vietnam, dan tidak pernah bangun lagi.
Serat Kanda dan Babad Tanah Jawi memberitakan bahwa pada permulaan abad 15, Raja Brawijaya dari Majapahit kawin dengah puteri Campa, seorang Muslim, yang juga bergelar puteri Dwarawati. Karena puteri Campa itu meninggal pada tahun 1448 seperti tercatat pada batu nisannya di Trawulan[17] maka ia meninggalkan Campa kira-kira pada zaman pernerintahan Indrawarman. Tetapi, tak ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya agama Islam di Campa sebelum tahun 1471, sehingga berita tentang puteri Campa di atas tidak cocok dengan epigrafi Campa, sehingga merupakan persoalan yang tidak gampang pemecahannya.
Sebaliknya, pengumuman Kaisar T’ai-tsu, pada tahun 1370, yang mendirikan dinasti Ming sejak jatuhnya dinasti Yuan pada tahun 1368, jelas menyatakan bahwa pada tahun 1370 Campa mengadakan hubungan persahabatan dengan Cina. Hubungan persahabatan meningkat pada permulaan abad 15 dalam pemerintahan Kaisar Yung-lo berkat aktivitas duta keliling Cheng Ho. Campa merupakan pelabuhan penting dan dijadikan pangkalan untuk melancarkan aktivitas Cheng Ho ke daerah-daerah di Asia Tenggara. Kiranya persoalan puteri Campa perlu dihubungkan dengan aktivitas duta keliling Cheng Ho, yang jelas seorang pemeluk agama Islam.
Mengenai hubungan antara Majapahit di satu pihak dan Kamboja sertai Dai Viet (Yawana) di lain pihak, seperti dinyatakan dalam Nagarakreagama pupuh 15, tidak ada beritanya, baik dalam karya-karya sejarah maupun dalam epigrafi.
Masa kerajaan Majapahit (1923 – 1478[18]) dalam konfigurasi kekhalifahan besar di dunia Islam adalah sezaman atau berada pada masa kekhalifaan Islam di Andalusia (711 – 1492), Mamalik di Mesir (1250 – 1517), Safawi di Iran (1252 – 1736), Moghul di India (1482 – 1858), dan Usmani di Turki (1290 – 1924). Sementara itu kerajaan-kerajaan Islam yang berada di Nusantra dan sezaman dengan masa Majapahit adalah Samudra Pasai (1207 – 1524[19]), . Hal tersebut penting dikemukakan, karena erat kaitannya dengan aspek dan variabel masuknya Islam ke Majapahit (Jawa) dan pola pendidikan Islam yang akan dibahas nanti. Karena disinyalir komunitas Islam telah berada di dalam lingkar kekuasaan kerajaan Majapahit pada akhir abad 13, ditandai dengan banyaknya makam Islam di Tralaya (sebelah selatan bekas istana Majapahit) nisan tertua bertahun 1376 dan nisan termuda 1611.[20]
Namun dari sangat sedikit sekali ilmuwan atau sumber-sumber lain yang membicarakan secara khusus pendidikan Islam pada masa Majapahit. Bagaimana pendidikan tersebut memproduk kader ulama dan kader politisi dalam menjaga keberlangsungan Islam dan merubah karakter kawula Majapahit dari Hindu-Budha dan memberi nilai Islam.
Mengingat masa akhir kerajaan Majapahit merupakan titik balik dari kerajaan-kerajaan di Nusantara yang tergabung dalam satu hegemoni panji Majapahit menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang berdiri sendiri-sendiri, demikian pula masa akhir kerajaan Majapahit merupan titik balik dari kerajaan-kerajaan di Nusantara yang banyak bercorak Hindu-Budha menjadi kerajaan-kerajaan bercorak Islam.
Mencurigai Syekh Jumadil Kubro sebagai Ulama Peletak Islamisasi Majapahit
Membincangkan sosok Syekh Jumadil kubro tidak lepas dari perdebatan panjang dalam menemukan sejarah utuh tentang asal usulnya. Darimanakah ia? Bagaimanakah kehidupannya? Dan dimanakah ia bersemayam diakhir hidupnya?
Adalah menarik sebuah sarasehan dalam peringatan haul ke 632 Syekh Jumadil Kubro yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Mojokerto. Dari sejumlah pakar, baik dari ahli arkeologi, sejarawan maupun dari kalangan ulama yang diundang ada benang merah dalam menyepakati sosok Syekh Jumadil Kubro. Syekh Jumadil Kubro adalah tokoh nyata dan benar adanya dan bukan tokoh fiktif. Namun bagaimana meninggalnya dan dimana syekh Jumadil Kubro dimakamkan, masih diperdebatkan.
Ada anggapan bahwa makam tujuh yang nisannya bertuliskan arab di Tralaya salah satunya adalah Syek Jumadil Kubro. Namun anggapan tersebut terbantahkan tatkala merujuk penelitian S.T. Damais seorang arkeolog Belanda. Dari penelitiannya, ia menyimpulkan bahwa tujuh makam di Tralaya yang bertuliskan Arab tersebut adalah seorang muslim. Namun tidak ada satu nisanpun yang bertuliskan nama seseorang.[21] Artinya tidak ada bukti kongkret bahwa salah satu makam tujuh tersebut adalah Syekh Jumadil Kubro. Tapi, yang sangat menarik justru adalah posisi makam muslim yang ditempatkan dalam makam kerajaan Majapahit. Padahal tralaya, menurut bahasa kawi berasal dari kata Ksetralaya (lapangan mayat), merupakan makam khusus untuk penguburan kerabat raja, atau orang-orang dalam istana. Menurut Agus Sunyoto makam tralaya merupakan makam khusus penganut aliran Yoga-tantra.[22] Aliran Yoga-tantra merupakan sekte dari Hindu yang banyak diikuti oleh kerabat Istana. Baik Damais dan Sunyoto sepakat menyatakan bahwa ketujuh makam muslim tersebut adalah kerabat raja, atau orang yang sudah mendapat kehormatan dari raja.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa makam Syekh Jumadil Kubro yang diyakini oleh masyarakat ada di Tralaya seperti sekarang ini, tidak memiliki dasar otentik. Tidak ada satupun bukti bahwa makam tralaya terdapat nama Syekh Jumadil Kubro. Karena jika kita menelaah lagi, makam Syekh Jumadil Kubro terdapat diberbagai tempat. Ada yang meyakini Syekh Jumadil Kubro dimakamkan di Gresik, ada pula yang meyakini di Mantingan, dan ada pula yang meyakini makamnya di desa Turgu, Gunung Kawastu Yogyakarta, ada pula yang meyakini di Bugis. Bahkan ada yang meyakini di Madinah. Semuanya mengklaim kebenaran masing-masing.
Tetapi ada satu hal yang banyak disepakati oleh para ilmuwan bahwa Syekh Jumadil Kubro adalah ulama awal pra-Wali songo bahkan menurut Babad Cirebon merupakan buyut dari semua wali songo.[23] Oleh karenanya sangatlah tepat jika kita meletakkan Syekh Jumadil Kubro-lah peletak dakwah Islamisasi di jagat Nusantara ini. Syekh Jumadil Kubro-lah peletak model pendidikan Islam sebagai transformasi nilai kepada masyarakat jawa khususnya Majapahit.
Dengan kesepakatan demikian penulis menyimpulkan bahwa Syekh Jumadil Kubro adalah tokoh Islam awal Masa Majapahit.[24] Karena dari catatan Van Bruinessen menceritakan ada cerita dari mulut ke mulut di desa-desa yang terletak di lereng Gunung Merapi, sebelah utara Yogyakarta, Syekh Jumadil Kubro dipercaya sebagai wali Muslim Jawa yang paling tua, yang berasal dari Majapahit dan hidup sebagai pertapa di hutan gunung tersebut.[25] Begitupun dengan beberapa catatan-catatan dari Gresik menceritakan bahwa Syekh Jumadil kubro merupakan pembimbing para wali. Diceritakan Raden Rahmat yang kemudian menjadi sunan Ampel, lahir dari perkawinan seorang ulama Arab dengan putri Campa, pertama-tama datang ke Palembang dan dari sana meneruskan perjalanan ke Majapahit. Dia mendarat di Gresik, di mana dia menunjungi Syaikh Molana Jumadil Kubro, seorang abid yang menetap di Gunung Jali.[26] Bukti lain, di dalam serat Kandha, ada disebutkan keberadaan empat tokoh suci umat Islam di jaman kuno, yaitu Jumadil Kubro di Mantingan, Nyampo di Suku Dhomas, Dada Pethak di Gunung Bromo dan Maulana Ishak di Blambangan. Sementara menurut cerita tutur dikalangan pengikut Syaikh Siti Jenar, Syekh Jumadil Kubro adalah teman baik Syekh Siti Jenar saat membawa tawar tanah-tanah angker bekas pemujaan aliran Yoga-tantra yang terkenal dengan kesaktiannya.[27] Dari beberapa bukti tersebut meskipun berbeda versi, membuktikan peran besar dan eksistensi Syekh Jumadil Kubro dalam menyumbangkan Islamisasi ditanah jawa.
Model pendidikan Islam Majapahit
Tidak ada bukti-bukti jelas untuk menggambarkan pendidikan Islam di Majapahit. Beberapa ilmuwan meyakini bahwa cikal bakal penelitian di Jawa adalah pesantren.[28] Namun terdapat perbedaan dalam mengidentifikasi kapan pesantren awal itu didirikan. Dalam Babad Tanah Djawi, dijelaskan bahwa di Ampel telah mendirikan lembaga pendidikan Islam sebagai tempat ngelmu atau ngaos pemuda Islam. Zamarkasyi Dofier mengidentifikasi pesantren mulai berkembang pada abad ke-15.[29] Dofier mengidentifikasi bahwa manuskrip-manuskrip keIslaman kebanyakan ditulis dengan tulisan dari bahasa Jawa, baik yang isinya merupakan terjemahan karya asli dari bahasa Arab, maupun karya ulasan.[30] Berbeda dengan Manfred, ia meyakini bahwa pesantren telah ada pada pertengahan abad ke-9. Ia mendasarkan bentuk Asrama yang mirip dengan pendidikan Budha. Namun ia tidak menjelaskan lebih jauh bagaimana pesantren yang kemudian menjadi label khusus untuk orang yang menekuni agama Islam itu berdiri.
Dari pemaparan tersebut dapat diidentifikasi bahwa kehadiran Pesantren lebih akhir dari kehidupan Syekh Jumadil Kubro. Artinya masa Syekh Jumadil Kubro dalam kehidupan di Majapahit belum ada istilah pesantren. Belum ada bangunan pesantren sebagai tempat belajar agama Islam. Jadi pendidikan Islam di Masa Majaphit, bukan dalam bentuk pesantren. Kemungkinan besar pendidikan Islam dalam bentuk yang sangat sederhana.
Penulis lebih meyakini bahwa pengajaran Islam dilakukan di masjid-masjid. Karena masjid merupakan tempat vital dikalangan umat Islam. Dimanapun ada komunitas Islam pasti akan berdiri sebuah bangunan Masjid. Apalagi jika telah terbentuk komunitas baru, pasti pendirian Masjid merupakan keharusan, selain sebagai tempat beribadah ia juga merupakan simbol akan keberadaan umat Islam. Hal yang sama jika mengamati keberadaan komunitas muslim di pusat Kerajaan Majapahit dengan terdapatnya makam Muslim di Tralaya, bukannya tidak mungkin bahwa di pusat Majapahit telah dibangun Masjid.[31]
Hal ini dikuatkan oleh Kidung sunda, teks jawa dari abad pertengahan menyebut istilah Masigit Agung, mirip istilah Masjid Agung. Kata masigit agung disebutkan berkaitan dengan keberangkatan rombongan Raja Sunda yang mengantar anak perempuannya untuk dipersunting oleh Raja Hayam Wuruk dari Majapahit. Sesampai di bubat, dekat surabaya, Raja Sunda tidak menjumpai sambutan kerajaan sebagaimana diharapkan. Kemudian raja sunda mengirim patihnya ke Majapahit untuk menemui Gajah Mada. Dalam perjalanan Patih ke Majapahit, ia pertama kali tiba di Masigit Agung.[32]
Dengan demikian, proses Islamisasi atau proses pengajaran Islam di Masa Majapahit kemungkinan besar banyak dilakukan lewat Masjid. Jika sebuah pendidikan atau pengajaran dilakukan di Masjid bentuk dari pengajarannya biasanya menggunankan bentuk halaqah-halaqah.[33] Halaqah-halaqah - bentuk lingkaran, mirip orang berdiskusi dengan guru ditengah-tengah- sudah dilakukan di masa-masa awal perkembangan Islam.[34] Sejak masa Nabi, Masjid berfungsi sebagai tempat sosialisasi, tempat ibadah, tempat pengadilan dan lain sebagainya. Tetapi yang lebih penting adalah sebagai lembaga pendidikan.
Dan yang kedua, kemungkinan besar pendidikan Islam di Masa Majapahit dilakukan pula lewat rumah-rumah ulama. Karena jika kita melihat sistem pendidikan awal Islam juga banyak dilakukan di rumah-rumah sebelum terbentuknya Masjid. Ketika masih di Mekkah, Rasulullah menggunakan rumah al-Arqam sebagai tempat memberikan pelajaran bagi kaum muslimin. Di rumah-rumah ulama ini pulalah masa-masa penyebaran Islam, digunakan secara efektif untuk transformasi ilmu-ilmu agama kepada masyarakat luas.[35]
Dengan demikian bisa dipastikan bahwa pendidikan masa Majapahit tidak jauh dari logika penyebaran masa awal Islam. Rumah ulama dan Masjid sebagai lembaga pendidikan pada tingkat sederhana menjadi sarana efektif pendidikan Islam kepada masyarakat Jawa sebelum terbentuknya pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang lebih sempurna.
Adapun pelajaran yang disampaikan kepada masyarakat, kemungkinan besar masih berkutat pada ilmu agama yang mendasar. Hal ini didasarkan pendapat Raffles, meskipun secara general jawa telah ter-Islam-kan namun sedikit sekali kelompok-kelompok masyarakat yang betul-betul mengerti dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Raffles menegasakan bahwa hanya beberapa orang saja yang sebenarnya memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam dan perilakunya sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Secara umum dapat disimpulkan bahwa sementara mereka percaya kepada Allah yang Maha Kuasa dan Nabi Muhammad sebagai utusannya dan mengerjakan beberapa perintah-perintah ibadah, tetapi mereka sebenarnya masih sedikit sekali mengetahui doktrin-doktrin Islam.[36]
Meletakkan Pendidikan berbasis Hati
Jika kita melihat konversi besar-besaran penduduk Jawa kepada Islam, kita syah untuk mencurigai kehebatan dan kelihaian mubalig-mubalig (baca: Syekh Jumadil Kubro) di dalam mengatur dakwah Islamnya. Bagaimana tidak, kekuatan Hindu-Majapahit yang begitu kokoh dengan didukung nama besar kerajaannya mampu “ditaklukan” dalam cengkraman aqidah Islam. Kenapa?
Agus Sunyoto dalam analisanya menyatakan bahwa Hindu dan Budha yang berkembang di Majapahit ternyata hanya banyak dianut oleh keluarga kerajaan. Sedangkan arus grass root tetap melestarikan keyakinan mereka yakni ajaran Kapitayan. Di dalam ajaran kapitayan ada kemiripan-kemiripan dengan ajaran Islam. Dan disinilah kearifan yang ditunjukkan ulama terdahulu. Mereka tidak memaksakan konsep Islam secara utuh, namun mereka dengan bijak ngemong kepada masyarakat dengan tetap membiarkan alur term-term yang sudah membudaya dan menjadi makanan sehari-hari mereka. Istilah-istilah agama setempat yang masih menganut agama kapitayan, tidak dibuang begitu saja. Tetapi tetap dipakai untuk menyamakan dengan istilah ajaran Islam. Misalnya dalam melakukan pemujaan kepada Allah tidak menyebutkan sholat tetapi memakai istilah sembahyang. Begitupun dengan istilah tempat pemujaan, orang jawa menamakan tempat pemujaan kepada dewa disebut sanggar, namun oleh ulama diganti menjadi langgar. Istilah surga dikenalkan kepada masyarakat menggantikan istilah jannah. Istilah nar digantikan dengan istilah neraka.[37] Dan lain sebagainya. Sehingga, masyarakat awam dapat begitu mudah menerima ajaran Islam yang tidak jauh berbeda dengan istilah-istilah agama yang lama
Lebih dari itu, penulis berkeyakinan bahwa kedalaman spiritual dan akhlakul karimah dari sang mubalig juga merupakan hal yang menarik perhatian masyarakat grass root. Kepedulian, saling menyantuni, kesabaran, dan tata krama indah lainnya yang dianjurkan Islam menjadi tempat tersendiri dalam hati masyarakat yang konon menurut Agus Sunyoto orang Majapahit tidak mengenal demikian. Orang Majapahit, menurut Agus Sunyoto, berperingai kasar, sombong dan tidak mengenal kalah. Prinsipnya menang atau mati. Namun anasir-anasir kebrutalan prilaku tersebut lambat laun dihapuskan dengan kehadiran Islam. Penulis meyakini dengan bahasa hati-lah orang jawa mampu menerima Islam dan berIslam dengan sungguh meskipun dalam taraf yang masih sederhana. Dan sejarah telah mencatat kesuksesan gemilang Islamisasi Nusantara begitu cepat dan menyebar luas sehingga negara yang kita huni ini berpenduduk Muslim terbesar di dunia.
Membaca hal tersebut, sekirannya kita semuanya sadar, di dalam mendidik masyarakat tidak bisa dengan menggunakan bahasa kekerasan untuk mematuhi aturan agama. Atau dengan bahasa kekuasaan. Karena jika kita mendidik masyarakat dengan bahasa kekerasan atas nama agama atau bentuk-bentuk kekuasaan maka yang akan muncul selalu bentuk resistensi. Namun jika kita semuanya menggunakan sentuhan-sentuhan hati atau dalam bahasa lain gerakan cultural, maka masyarakat kita akan mudah menerima. Karena bahasa hati adalah bahasa fitrah. Bahasa hati adalah bahasa kesadaran universal yang diidealkan oleh semua manusia. Bahasa hati adalah bahasa revolusi kesadaran berakhlak dan bertauhid. Mudah-mudahan kita semuanya mampu membaca itu semuanya. Semoga !!!!!!
[1] Mengenai perbedaan antara wahyu yang matluw dengan wahyu yang ghairu matluw lebih lanjut baca, Muhammad ‘Ajaj Al-Khathib, Ushul al-Hadis bab makanatu as-sunnah fi al-Tasyri’. Libanon: Dar al-Fikr, Beirut.
[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007, h. 6. sementara Harun Nasution membagi sejarah Islam ke dalam tiga periode, yaitu klasik, pertengahan, dan modern dengan perincian dapat dibagi menjadi 5 masa, yaitu: 1) Masa hidupnya Nabi Muhammad saw. (571-632 M). 2) Masa hidupnya Khulafa ar-Rasyidin (632-661 M). 3) Masa hidupnya Daulah Umayyah di Damsyik (661-750 M). 4) Masa hidupnya Daulah Abbasiyah di Baghdad (750-1250 M). 5) Jatuhnya kekuasaan khalifah di Baghdad (tahun 1250 M sampai dengan sekarang). (Harun Nasution, Pembaharuan Terhadap Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1975, h. 11)
[3] Muhammad Tholhah Hasan, Dinamika Pemikiran tentang Pendidikan Islam, Jakarta: Lantabora Press, 2006, h. ix
[4] Muhammad Tholhah Hasan, Dinamika Pemikiran tentang Pendidikan Islam, Jakarta: Lantabora Press, 2006, h. 55
[5] Ahmad Syalaby, Tarikh at-Tarbiyah al-Islamiyah, hal. 43, 116-118. Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, II, hal. 49-50
[6] Nama tersebut dinisbahkan kepada pendiriya, Perdana Menteri daulat Bani Saljuq, Nidhomu al-Mulk, Dalam penelitian-penelitian lain menemukan bukti,bahwa madrasah yang pertama didirikan bukanlah madrasah Nidhomiyah di Baghdad, tetapi jauh sebelum tahun 459 H. di Nisabur telah berdiri madrasah Al-Baihaqiyah, dan pendirinya adalah Abul Hasan 'Ali Al-Baihaqy (w. 414 H) (Al-Maqrizy, Al-Mawaidh wa al-I’tibar, h. 380), Pendapat tersebut juga didukung oleh penulis-penulis lain, seperti Naji Ma'ruf dalam bukunya "Madaris Makah" yang mengungkapkan, bahwa selama 2 abad sebelum madrasah Nidhomiyah di Baghdad berdiri, sudah ada madrasah di Transoksania dan Khurasan. Sebagai bukti, ia mengemukakan data dari Tarikh al-Bukhari yang menjelaskan, bahwa Ismail bin As'ad (w. 295 H) mempunyai madrasah yang dikunjungi oleh para siswa untuk melanjutkan pelajaran mereka. Dari hasil penelitian Richard W. Bulliet di tulis dalam The Patricians of Nisapur (Cambridge : Mass Havard. University Press, 1972) mengungkapkan, bahwa di Nisabur terdapat sebanyak 39 madrasah, pada 2 abad sebelum berdirinya madrasah Nidhomiyah di Baghdad, dan madrasah yang tertua adalah Miyan Dahiya yang mengkhususkan pengajaran fiqih madzhab Maliki. Pada umumnya madrasah-madrasah tersebut mengajarkan satu madzhab fiqih saja dan sebagian besar madzhab Syafi'i. Rinciannya, dari 39 madrasah tersebut hanya satu madrasah yang mengajarkan fiqih Maliki, empat madrasah mengajarkan fiqih Hanafi, dan yang lain mengajarkan fiqih Syafi’i. (Depag R1, Sejarah Madrasah, Jakarta: Depag RI, 2004, h. 37).
[7] Ahmad Syalaby, Tarikh at-Tarbiyah al-Islamiyah, hal. 43, 116-118. Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, II, hal. 49-50.
[8] Pemakaian istilah madrasah secara definitif baru muncul pada abad ke- 11. universitas pada jenjang tertentu dalam pendidikan disebut juga madrasah. Penjelasan istilah madrasah merupakan transformasi dari masjid ke madrasah. Ada beberapa teori yang berkembang seputar proses transformasi tersebut antara lain George Makdis (1981) menjelaskan bahwa madrasah merupakan transformasi insitusi pendidikan Islam dari masjid ke madrasah terjadi secara fidak langsung melalui tiga tahap: Pertama, tahap masjid. Kedua, tahap masjid-khan; dan Ketiga, tahap madrasah. (Ahmad Ibrahim Syarif, Daulat al-Rasul Fi al-Madinat, Quwait: Dar al-Bayan, 1972, h. 76)
[9] Piagam Camunda, 1332, menguraikan bahwa Tribhuwanatunggadewi menguasai seluruh dwipantara. Istilah dwipantara ini kiranya harus ditafsirkan sebagai hyperbol, karena pada waktu itu kekuasaan Majapahit hanya terbatas sampai Pulau jawa dan Madura saja, tidak sama dengan istilah Nusantara dalam program politik Gajah Mada pada tahun 1334.

[10] Pada waktu itu para menteri sedang lengkap duduk menghadap di balai penghadapan. Kembar memperolok olok Gajah Mada dengan menyebut kesalahan kesalahan dan kekurangan-kekurangannya, dan menumpahkan telempak, Ra banyak ikut serta menambah mengemukakan celaan-celaan. Jabung Terewes, Lembu Peteng tertawa. lalu Gajah Mada turun mengadukan soal itu kehadapan batara di Koripan, baginda marah, kemarahan dan penghinaan ini disampaikan kepada Arya Tadah. Dosa Kembar telah banyak, Warak dilenyapkan, tak dikatakan pada Kembar, mereka mati semua. (Pararaton, IX)

[11] Di daerah-daerah ini tidak ditemukan piagam sebagai bukti adanya kekuasaan Majapahit. Hikayat-hikayat daerah, yang ditulis kemudian, menyinggung adanya hubungan antara pelbagai daerah dan Majapahit dalam bentuk dongeng, tidak sebagai catatan sejarah khusus. Dongeng-dongeng itu menunjukkan kekagumannya terhadap keagungan dan kekuasaan Majapahit.
[12] Kesah Raja Marong Mahawangsa, Penerbitan Pustaka Antara, Kuala Lumpur, 1965, h. 79. “Akan Pulau Serai itu pun juga hampirlah sangat bertemu dengan tanah daratan besar; maka akhimya itulah yang disebut oleh Gunong Jerai karena ia tersangat tinggi”. Lihat juga Paul Wheatley, The Golden Khersonese, h. 261.
[13] Perlu dipahami bahwa pengertian daerah bawahan pada abad 14 berbeda dengan pengertian koloni dalam zaman modern. Persembahan upeti yang tidak banyak nilainya, oleh daerah tertentu kepada Majapahit, sudah dapat dianggap sebagai bukti pengakuan kekuasan Majapahit atas daerah yang bersangkutan dan karenanya daerah itu dianggap sebagai daerah bawahan.
[14] G. Coedies, The Indianized States of Southeast Asia, 1968, h. 222-223.
[15] Ibid h1m. 219.
[16] Ibid h1m. 217.
[17] Dr. J.L.A. Brandes, Pararaton, h. 197.
[18] Ada yang menyebut berakhirnya kerajaan Majapahit pada masa prabu Girindrawardhana (1474-1527), dan memindahkan pusat kerajaan dari Trawulan ke Keling, dan oleh banyak ahli kurang diperhitungkan, karena “pusaka kerajaan” tidak diboyong ke Keling tetapi diboyong ke Demak.
[19] A. Hasyimi dalam Marwan Saridjo, dkk, Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia, Jakarta: Dharma Bhakti, 1980, h.19)
[20] Louis-Charles Damais, Epigrafi dan Sejarah Nusantara,
[21] Di sana terdapat 44 nisan kuno dari 36 makam. Tidak ada goresan yang menyebutkan nama di nisan. Tulisan Arab yang memenuhi batu nisan di sana lebih banyak melantunkan dakwah, misalnya kutipan Surat Ar-Rahman Ayat 26-27. Lainnya adalah bacaan doa dan kalimat thayibah, kalimat tauhid, kutipan ayat-ayat Al Quran, doa permohonan ampun dan pengagungan Tuhan dengan tanda-tanda sufistik. Lebih jauh bisa dilihat pada gambar dibelakang tulisan ini tentang nisan-nisan yang diteliti oleh Damais.
[22] Agus Sunyoto, Mengkaji dan Merefleksikan Dakwah Syekh Jumadil Kubro, ( Mojokerto: Makalah pada Sarasehan Dinas Pariwisata Kab. Mojokerto, 2008), 2.
[23] Al-Baqir dalam Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning ( Bandung: Mizan, 1995), 237
[24] Menurut Zamarkasyi Dofier Islam memasuki arena kehidupan orang Jawa pada masa pertumbuhan dan perluasan Kerajaan Hindu Majapahit. Berkaitan dengan pernyataan Dofier dapat disimpulkan jika kita meyakini bahwa Syekh Jumadil Kubro adalah ulama awal peletak Islamisasi maka bisa jadi Syekh Jumadil Kubro-lah ulama yang berkiprah didalam Majapahit. Zamarkasyi Dofier, Tradisi Pesantren ( Jakarta: LP3ES, 1982), 8
[25] Van Bruinessen, Kitab Kuning...., 240
[26] Van Bruinessen, kitab kuning...., 239
[27] Agus Sunyoto, Mengkaji...,
[28] Mengenai arti kata pesantren, telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan santri yang mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti tempat tinggal para santri. Sedangkan istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji. Menurut Robson, kat santri berasal dari bahasa Tamil “sattiri” yang diartikan sebagai orang yang tinggal disebuah rumah miskin atau bangunan keagamaan secara umum. Walaupun kedua pendapat diatas terdapat perbedaan satu sama lain, masih bisa ditarik benang merah yang sama untuk menafsirkan arti kata “santri”. Keduanya berpendapat bahwa santri berasal dari bahasa Tamil. Bila menengok pendapat pertama, bahwa santri guru mengeji,terdapat persamaan dengan fenomena santri, dimana santri adalah orang-orang yang memperdalam agama kemudian mengajarkannya kepada umat Islam dan orang-orang demikian oleh masyarakat Jawa dikenal dengan istilah “guru mengaji”. Meski tidak sama redaksinya, pendapat Robson tentang santri bisa diterima karena rumusannya mengandung ciri-ciri yang berlaku bagi santri. Ketika memperdalam ilmu agama, para santri harus tinggal di asrama yang bangunannya merupakan bangunan keagamaan. Kalaupun disebutkan sebagai orang yang tinggal di rumah miskin, ada benarnya. Kehidupan santri dikenal sangat sederhana. Sampai tahun 60-an, pesantren dikenal dengan nam pondok, karena terbuat dari bambu; yang mana pada saat itu masih terdapat kesan kesederhanaan. Hanun Asroha, Sejarah Pendidikan Islam ( Jakarta: Depag, 1999), 145

[29] Zamarkasyi Dofier, Tradisi Pesantren....., 23
[30] Ibid
[31] E. Badri Yunardi, Mesjid-mesjid kuno di Gresik Jawa Timur dalam Rudy Harisyah, Sejarah Masjid-masjid Kuno di Indonesia, (Jakarta: Depag, 1999), 73-76.
[32] Hanun Asroha, Pelembagaan Pesantren (Jakarta: Depag, 2004), 73
[33] Halaqah artinya lingkaran. Seorang guru biasanya duduk di atas lantai sambil menerangkan, membacakan karangannya, atau komentar orang lain terhadap suatu karya pemikiran. Murid-muridnya akan mendengarkan penjelasan guru dengan duduk di atas lantai, yang melingkari gurunya. Kadang-kadang sistem ini juga menggunakan kursi tidak duduk dilantai. Hanun Asroha, Sejarah Pendidikan Islam ( Jakarta: Depag, 1999), 49
[34] Hanun Asroha, Sejarah Pendidikan Islam ( Jakarta: Depag, 1999), 67
[35] Ibid
[36] Zamarkasyi Dofier, Tradisi Pesantren.....,8
[37] Agus Sunyoto, Mengkaji...,7

SYEKH JUMADIL KUBRO


Syech Jumadil Kubro adalah tokoh yang sering disebutkan dalam berbagai babad dan cerita rakyat sebagai salah seorang pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Ia umumnya dianggap bukan keturunan Jawa, melainkan berasal dari Asia Tengah. Terdapat beberapa versi babad yang meyakini bahwa ia adalah keturunan ke-10 dari Husain bin Ali, yaitu cucu Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Martin van Bruinessen (1994) menyatakan bahwa ia adalah tokoh yang sama dengan Jamaluddin Akbar.
Sebagian babad berpendapat bahwa Syech Jumadil Kubro memiliki dua anak, yaitu Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dan Maulana Ishaq, yang bersama-sama dengannya datang ke pulau Jawa. Syekh Jumadil Kubro kemudian tetap di Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, dan adiknya Maulana Ishaq mengislamkan Samudera Pasai. Dengan demikian, beberapa Walisongo yaitu Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sunan Giri (Raden Paku) adalah cucunya; sedangkan Sunan Bonang, Sunan Drajad dan Sunan Kudus adalah cicitnya. Hal tersebut menyebabkan adanya pendapat yang mengatakan bahwa para Walisongo merupakan keturunan etnis Uzbek yang dominan di Asia Tengah, selain kemungkinan lainnya yaitu etnis Persia, Gujarat, ataupun Hadramaut.
Makamnya terdapat di beberapa tempat yaitu di Semarang, Trowulan, atau di Turgo Yogyakarta. Belum diketahui yang mana yang betul-betul merupakan kuburnya.

Rabu, 09 Juni 2010

Kisah Syeh Ahmad Mutamakin


Syeh Ahmad Mutamakin adalah seorang yang disegani serta berpandangan jauh, salah satu tokoh yang berjasa besar dalam penyebaran Agama Islam di Utara Pulau Jawa terkhusus wilayah Pati. Beliau juga seorang yang arif dan bijaksana. ia pernah mencari ilmu sampai ke negeri – negeri Arab selama bertahun-tahun. belajar ilmu-ilmu dibidang Syariat, selanjutnya belajar Thoriqoh menurut dorongan hatinya, sebagai landasan hidupnya.[1]

Dalam perjalanannya mencari ilmu itu, beliau mendapat seorang guru besar bernama Syaikh Zain Al- Yamani. Setelah beberapa lama berguru, beliau mendapat pengesahan resmi dari guru besar tersebut, ia mohon pamit pulang ke Jawa pulang untuk segera mengamalkan ilmu-ilmu yang diperolehnya.

Beliau melanjutkan perjalanan sampai ke Desa Cebolek untuk menyebarkan Agama Islam sampai kepedalaman, beliau memasuki wilayah baru.[2] Dan bertemu dengan H. Syamsudin yang dikenal dengan sebutan Surya Alam, sehingga nama wilayah itu Kajen dari kata “Kaji Ijen”. Beliau mendapat kepercayaan dari H. Syamsudin untuk ditempati dan mengolah daerah tersebut menjadi Desa yang dapat mengenal Agama Islam.[3]

Selain belajar dan meperdalam Ilmu Pengetahuan agama dengan bersungguh-sungguh, ia juga belajar melatih jiwa dalam mengendalikan hawa nafsu, beliau pernah melatih dengan puasa, disaat mau buka puasa, beliau memasak yang paling lezat. Kemudian beliau mengikat diri dan tangannya pada tiang rumah. Masakan yang tersaji di maja makan hanya ia pandangi saja. Beliau mau menguji tingkat kesabaran hatinya. Namun yang keluar kedua ekor anjing.[4] Yang bernama Abdul Qohar dan Qumarudin sebagai lambang nafsu yang keluar dari diri manusia. Kuda mahluk tersebut memakan habis hidangan yang berada di meja makan. Pemberian nama pada kedua anjing tersebut seperti nama seorang penghulu dan khotib Tuban.

Pada suatu hari beliau kedatangan tamu, yang kebetulan saat itu Syeh Ahmad Mutamakin mendapat satu makanan yang hanya berisikan ikan asin kering. Kemudian tamu itu diajak makan bersama, namun si Tamu melahap habis nasi sama ikan kering tersebut. Tamu tersebut marah dan mau naik pitam ketika Syeh Ahmad Mutamakin bilang bahwa anjing mereka saja tidak suka sama Ikan kering. Hal tersebut sangat menghinanya, maka dia menyebarkan isyu kepada para ulama-ulama se jawa.

Selebaran-selebaran tersebut mengatakan bahwa Syeh Ahmad Mutamakin sebagai seorang Muslim senjati telah memelihara anjing dan memeberi nama anjing tersebut dengan nama orang seperti Qomarudin dan Abdul Qohar, selain itu Beliau gemar melihat dan mendengarkan wayang dengan cerita Bima Suci dan Dewa Ruci.[5]

Pihak keraton mendengar berita tersebut, sehingga ia mengutus seorang ulama bernama Ki Kedung Gede untuk menguji kebenaran tersebut sebelum Keraton memanggil dengan surat teguran atau panggilan dari pihak keraton. Syeh Ahmad Muthamakin tahu maksud hati dari tamu tersebut. Sehingga Syeh Ahmad Mutamakin bahwa beliau belum tahu huruf alif sekalipun, Ki Kedung Gede semakin Gusar, karena maksud yang ada dalam pikirannya telah tertebak dengan benar oleh Syeh Ahmad Mutamakin.

Selebaran yang telah beredar di seluruh ulama Jawa, ulama-ulama tersebut mendesak kepada pihak keraton[6] untuk mengadakan sidang pengadilan terhadap Syeh Ahmad Mutamakin yang telah keliru dalam pemahaman terhadap Agama Islam. Mereka kuatir bila hal ini tidak diatasi akan berdapak buruk pada penyebaran Agama Islam di pulau Jawa.

Persidangan terhadap Syeh Ahmad Mutamakin dihadiri oleh ulama seluruh jawa. Seperti Khotib Anom dari Kudus, Ki Witono dari Surabaya, Ki Busu dari Gresik. Dan ulama-ulama lainnya. Mereka sepakat menyidangkan Syeh Ahmad Mutamakin pada persidangan kartosuro. Selanjutnya tuntutan terhadap beliau dibacakan oleh Patih Danurejo, setelah mereka membacakan tuntutan-tuntutan tersebut. Patih menyuruh anak buahnya segera mengutus dua orang sebagai duta tugas kepada Syeh Ahmad Mutamakin.[7]

Undangan yang hadir banyak sekali merka ingin menyaksikan Sidang Pengadilan Syeh Ahmad Mutamakin. Dalam persidangan tersebut terjadi dua kelompok yang satu membela mati-matian Syeh Ahmad Mutamakin sedangkan kelompok yang satu menentang keras apa yang pernah dilakukan oleh Syeh Ahmad Mutamakin. Dalam persidangan tersebut yang paling menonjol dalam adu argumentasi adalah Khotib Anom Kudus, Patih Danurejo, dan utusan Demang Irawan yang merupakan utusan yang ditugaskan oleh Raja untuk mengawasi persidanganSyeh Ahmad Mutamakin.

Persidangan menjadi a lot, karena pihak penuntut menghendaki Syeh Ahmad Mutamakin dihukum pancung, karena telah melanggar syareat Agama, sedangkan kelompok yang satu membela matia-matian Syeh Ahmad Mutamakin. Akhirnya sidang ditunda sampai besuk. Karena bukti-bukti yang mengarah untuk dijadikan bukti untuk memvonis belum ada.

Raja Kartosuro memanggil Demang Irawan untuk mengetahui hasilnya dan kondisi terakhir persidangan tersebut. Atas saran Demang Irawan, Raja ingin memanggil Syeh Ahmad Mutamakin langsung empat mata. Raja bermimpi tentang sebidang petak sawah yang sebagian ditanami, sebagian menguning, sebagian Ketam. Mimpi tersebut selalu menghantui pikirannya, akhirnya Syeh Ahmad Mutamakin disuruh menafsirkan mimpi sang Raja. Syeh Ahmad Mutamakin menafsirkan mimpi Raja, bahwa Syeh Ahmad Mutamakin dapat bebas dari tuntutan pengadilan.

Setelah peristiwa tersebut, paduka Raja memrintahkan kepada Patih Danurejo untuk segera membebaskan Syeh Ahmad Mutamakin. Namun hal ini masih ada ulama seperti Khotib Anom yang masih keberatan akan keputusan raja tentang vonis bebas Syeh Ahmad Mutamakin. Mereka berhadapan dengan ulama uang membela Syeh Ahmad Mutamakin seperti Ki Kedung Gede.

Akhirnya Syeh Ahmad Mutamakin dan Khotib Anom dipanggil menghadap keraton. Tentang perbedaan pendapat yang tidak ada habis-habisnya. Dan diadakan tafsir Serat Dewa Ruci dan Bimo Suci diantara keduanya. Syeh Ahmad Mutamakin menerjemahkan serat tersebut dan mempraktekaan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan Khotib Anom kesulitan dalam memaknai atau tafsir mimpi Dewa Ruci/Bima Suci. Akhirnya Khotib Anom mengakui kepandaian, dan kearifan Syeh Ahmad Mutamakin.[8]

Syeh Ahmad Mutamakin berhasil lolos dari hukuman pancung. Bahkan beliau mendapat bumi perdikan kajen. Yaitu daerah yang bebas pajak negara. Beliau diberikan kebebasan dalam menyebarkan Agama yang harus sesuai dengan kridor Islam. Syeh Ahmad Mutamakin memiliki murid-murid besar seperti Kyai /Syeh Ronggo Kusumo,Kyai Mizan, R. Sholeh dan murid-murid lainnya yang tersebar dimana-mana.

***FREEDOM***

[1] Cerita tentang Syeh Ahmad Mutahamakin berasal dari Serat Cebolek, yang mengisahkan Ki Cebolek dalam kiprahnya menyebarkan Agama Islam Di Pantai Utara Jawa.

[2] Ada versi yang mengatakan bahwa Syeh Ahnad Mutamakin, merantau dari negeri Arab kemudian terus mengajarkan agama ke pesisir. Ketika beliau habis menunaikan ibadah Haji, beliau diantar oleh murid-murid beliau sebangsa jin. Kemudian di alihkan kepada seokor Ikan Mladang. Yang disangka kayu balok.. kemudian mendarat ke Desa Cebolek “cebul-cebul melek” (tiba-tiba dapat membuka mata). Nama Desa Cebolek, ada versi yang mengatakan bahwa desa tersebut terletak di daerah Tuban, yang sekarang bernama Desa Winong. Kemudian ketika Syeah Mutamakin berada di wilayah Pati, nama-nama Desa yang ada di Tuban di gunakan di desa baru dfi wilayah Pati. Ini juga mirip dengan Sunan Kudus yang memberi nama wilayah Kudus seperti wilayah timur tengah “al Quds”.

[3] Syeh Ahmad Mutamakin melihat seberkas sinar dari sebelah barat. Ia menuju sinar tersebut dan bertemu dengan H. Syamsudin. Ia mendapat kepercayaan untuk tinggal di wilayah Kajen. Ini mirip dengan cerita Kudus, ketika K. Telingsing menyerahkan Kudus kepada Jafar Sidik (Sunan Kudus)

[4] Kontroversi Syeh Mutamaikn hampir sama dengan apa yang pernah dilakukan Syeh Siti Jenar, Sunan Panggung dan Syeh Among Rogo, al hallaj (Bagdad). Mereka adalah tokoh pernyebaran Islam di Jawa yang tidak sejalan dengan apa yang menjadi keputusan Agama Islam Keraton.

[5] Cerita ini ditulis dalam Serat Cebolek karya R. Ng. Yasadipura I (1729-1803). Penulis produktif istana Kartasura pada masa Paku Buwono II (berkuasa 1726-1749). Dalam Serat Cebolek tersebut terdapat 2 tokoh yaitu Kyai Rifai yang dikenal dengan Rifa’iyah yang berkembang di daerah Batang Jawa Tengah.

[6] Masa hidup beliau adalah sekitar abad XVIII atau sekitar pemerintahan susuhunan Amangkurat IV sampai dengan pemerintahan Paku Buwono II yaitu tahun 1727-1749 Masehi.

[7] Peristiwa ini kejadiaannya kira-kira pada tahun 1725 Masehi.

[8] Versi lain dalam persidangan dan tafsir mimpi tersebut Khotib Anom Kudus menang, sedangkan versi yang lain dimenangkan oleh pihak Syeh Ahmad Mutamakin.

SILSILAH SYAIH KH. AHMAD MUTAMAKIN

(Versi Kajen)

Dari Pihak Ayah Dari Pihak Ibu

Raden Patah Sayid Ali Akbar

Sultan Demak Dari Bejagung Tuban

Sultan Trenggono

Istri Hadiwijoyo Sayid Ali Ashgor

(Joko Tingkir)

Sumo Hadiningrat Raden Tanu

(Pangeran Benowo)

Sumohadinegoro X Putri Raden Tanu

Syekh Ahmad Mutamakin

Nyai Godheg K. Bagus K. Endro Muhammad