Ahlan Wasahlan Sugeng Rawuh ....

"SELURUH DUNIA ADALAH PESANTRENKU" demikian fatwa Sunan Kalijaga, 600 tahun yang lalu. Sabda pangandika ini mengisyaratkan bahwa tugas dakwah adalah ke seluruh alam tanpa batas. Maka Pesantren Khusnul Khatimah, nyendikani dawuh ini dengan mengirim ratusan santri, kyai, ulama, ustadz ke seluruh penjuru dunia untuk terus mengabarkan ketauhidan Allah SWT.

Zakat Mal, Sumbangan, Infak dan Sedekah Anda
akan kami salurkan untuk membantu program dakwah ke pelosok-pelosok nusantara.

Sabtu, 22 Mei 2010

KANJENG SUNAN GESENG




1. Ki Cajrajaya
Ki Cajrajaya atau Sunan Geseng adalah tokoh mubaligh dari tanah Bagelen yang namanya terkenal bukan saja di wilayah tanah Bagelen namun juga tenar di wilayah Bantul DIY maupun di Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang. Dalam Babad Demak, perihal Ki Cakrajaya digambarkan dalam tembang Dhandanggula :

“ Tanah Bagelen wijile kang jalmi,
Cakrajaya nderes karyanira,
desa Bhedug ing dukuhe,
tan wonten rowangipun,
among garwa myang anak siji,
jalu wanci jejaka,
meski kelangkung,
wisma celak lawan wana,
pakaryane nderes klapa mung sauwit,
matenge pendak pasar,
Datan darbe karya malih-malih,
pan mung nderes setangkep sepasar,
tan mangan-mangan liyane,
mung nrima lawan turu,
yen wis nderes nembang sawengi,
kongsi prapteng raina,
lagon ning nong ning nung,
lamun kendel srah kang murba,
sepradene jiwane mentas kelimis,
labete anarira”

Tersebutlah di desa Bedhug hidup seorang bernama Cakrajaya, tukang “nderes” nira kelapa atau aren. Cakrajaya dikenal sebagai seorang petani melarat. Ia hidup dengan isteri dan anaknya. Meski melarat Cakrajaya kuat dalam tirakat dan tapabrata sehingga akhirnya ia dikenal sebagai seorang yang mempunyai keluhuran / kesaktian.

Di dalam Babad Demak dikisahkan pula pertemuan antara Cakrajaya dengan Sunan Kalijaga yang diuraikan dalam tembang Dhandhanggula :

Pan cinoba mring Jeng Sunan Kali,
Nujwa nembang winulang parikan,
klimah loro parikane,
Cakrajaya miturut,
aparikan kalimah kalih,
enjang nggen nitis gula,
pan dadi mas sepuh,
mung setangkep katharira,
Cakrajaya anjumbul kasmaran ngelmi,
lajwarsa puruhita


2. Dua Tembang Parikan
Sunan Kalijaga memberikan pengajaran kepada Cakrajaya yang berwujud dua tembang parikan. Cakrajaya menerima dua kalimat parikan yang akhirnya menggugah hati Cakrajaya untuk menuntul ilmu lebih dalam pada Sunan Kalijaga. Demikian akhirnya Cakrajaya kemudian menjadi murid Sunan Kalijaga.

Menurut naskah Bappeda Purworejo tahun 1982, disebutkan bahwa perjalanan Sunan Kalijaga dan Ki Cakrajaya sampai di desa Megulung. Sedangkan sebuah cerita rakyat lainnya yang hidup di daerah Yogyakarta dikatakan bahwa Sunan Kalijaga bersama Cakrajaya meninggalkan daerah Bagelen melakukan pengembaraan. Selama berkarya itu Sunan Kalijaga mengajarkan agama Isalam kepada Cakrajaya.
(Bambang Suwondo, ed., Sunan Geseng, dalam Ceritera Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta., 1980 / 1981)

Cakrajaya yang kemudian namanya terkenal menjadi Sunan Geseng dikarenakan tubuhnya “geseng” atau hangus. Menurut kisahnya, Sunan Kalijaga memerintahkan kepada Cakrajaya (Sunan Geseng) untuk keluar dari rerumpunan bambo tempat Cakrajaya menunggu Sunan Kalijaga yang bertapa. Tetapi Cakrajaya tidak dapat keluar dari rerumpunan bamboo tersebut yang dipenuhi duri. Sunan Kalijaga menguji ketaatan Cakrajaya dengan membakar rerumpunan bambo tersebut. Cakrajaya tidak merasa takut dan taat pada perintah Sunan Kalijaga dan akhirnya dapat keluar dengan selamat dari kobaran api di rerumpunan bamboo hanya kulitnya menjadi hitam karena hangus (geseng). Sunan Kalijaga merasa ujian yang diberikan kepada Cakrajaya sudah lulus kemudian memberikan sebutan sunan kepada Cakrajaya. Karena tubuhnya “geseng” atau hangus, Sunan Kalijaga menyebutnya Sunan Geseng. Sejak saat itulah Kyai Cakrajaya dikenal dengan sebutan Sunan Geseng.

3. Sunan Geseng
Kisah Cakrajaya yang menjadi murid Sunan Kalijaga dan dirubah namanya menjadi Sunan Geseng tidak hanya meninggalkan bekas di daerah Bedhug Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, tetapi juga meninggalkan jejak di beberapa daerah lain.

- Dari api yang berkobar menghanguskan tubuh Cakrajaya, menurut ceritera rakyat di daerah Yogyakarta meninggalkan bekas nama di daerah Kabupaten Bantul yaitu “Muladan”. Desa Muladan terletak di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bamtul.
- Di suatu tempat, Kanjeng Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya. Setelah tongkat itu dicabut munculah sumber air dan menjadi ‘sendang”. Sunan Geseng disuruh mandi di sendang tersebut. Seketika pula kotoran hangus pada tubuh Sunan Geseng dapat dibersihkan dan hanyut dibawa aliran air sampai ke sungai yang dinamakan “Kedhung Pucung”. Sedangkan sendang tadi dinamakan “Sendang Banyu Urip”

- Sunan Kalijaga memgajak Sunan Geseng berjalan kearah barat dan sampai di suatu tempat mengajarkan agama Islam kepada Sunan Geseng. Dengan tekun Sunan Geseng “ngaji” ilmu yang diajarkan Sunan Kalijaga. Tempat itu akhirnya terkanal dengan nama Desa Ngajen yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.

4. Perjalanan Hidup Cakrajaya
Babad Demak karya Raden Tumenggung Suryadi dalam bentuk tembang Dhandanggula.

Sunan Kali kang pininta ing sih,
Cakrajaya tinendha temenya,
kinen mengkurep kismane,
laminya wus setahun,
Sunan mengke karsa nuweni,
marang madyane wana,
kentarnya wus rawuh,
Nggening tapa Cakrajaya,
Kathukulan ri bandhil kelawan sisir,
nulya glis binabadan,

Sagung murid sami ngupadosi,
katur Sunan kang tapa tan ana,
kinen mbesmi babadane,
nulya ingubar sampun,
ponang glagah wus sirna enting,
telas pinangan brama,
kang tapa tan keguh,
sandhange kobar sedaya,
Cakrajaya kewudan mangkurep njengking,

Jeng Sunan lon ngandika,
“Cakrajaya tangia sun prapti,
apa lali marang swaraningwang,
nganti geseng ya awake”,
Cakrajaya gya wungu,
ngaras pada pan esmu tangis,
Jeng Sunan rum ngandika,
“Sun trima styamu,
ngaliha aran ya sira,
Pangran Geseng dene geseng kena geni,
tan owah idhepira.
Maneh panas geni jroning kapti,
geseng kayu saka kukusing dal, genira aja jenenge,
genira aja jenenge,
geni kelawan kukus,
saka kayun wijine sami,
lingen wruha dukala,
mula-mulanipun,
kabeh iki kang gumelar,
pan sakehe manungsa tinitah luwih,
sinung rasa-pegrasa,
Mulya dhewe sangking kang dumadi,
aja mengeng ing sacipta tunggal,
tunggal rasa sasolahe,
isining buwana gung,
anggep siji manungsa jati,
mangku sagung kahanan,
ya manungsa tuhu,
lan diwruhi sikseng tunggal,
nut ing sukma sliring jagad dumadi,
ku tekat wus sempurna”.

Perintah Sunan Kalijaga kepada Sunan Geseng untuk membuka hutan Loano :

Pangran Geseng kelangkung nuwun sih,
wus kadriya sawulang Jeng Sunan,
wus tan pangling jro driyane,
pamungkasaning sawujud,
nanging lair sasat piningit,
sakrehing kapandhitan,
ing tyas wus kawengku,
pamurbaning jagad raya,
kelairan jatine pan ora silip,
Jeng Sunan malih nebda,

“Ya wismaa neng Lowano becik
dene anakira ya si jaka,
nungggak semi ya arane,
ngran Cakrajaya patut,
wis ta jebeng muliha aglis,
dimantep mring agama,
yen Jumungah wetu,
salata mring mesjid Demak,
sesat sira marang Mekah munggah kaji”,
Pangram nuwun tur sembah.

1 komentar:

  1. kisah NYATA berbagi info...
    saya belum lama ini
    bulan juni 2016
    tepat di hari jumat (10-6-2016) sampai hari minggu (12-6-2016)
    KU DI TIPU

    rumah juru kunci (PALSU)
    a/n:Ading 36thn (PENIPU)
    hp.081223871269
    ciri-ciri: orang kurus,kulit kuning sawo,tinggi 160+
    (PRAKTEK DGN BONEKA JENGLOT PALSU)
    melakukan pesugihan dana Goib
    di desa pagundan
    kampung dusun kliwon
    kuningan (jawa)
    tempat tinggal istri ke 1(TUA)
    (anak 2 cowo)
    juru kunci (PALSU)
    a/n:Ading 36thn (PENIPU)
    mempunyai 3 istri
    selama menipu sebagai juru kunci PALSU 8 thn...

    tempat makam keramat&sumur keramat
    desa pagundan (TIPUAN/PENIPU)
    kampung dusun kliwon (KUNINGAN)
    aku hari jumat (10-6-2016) sampai hari minggu (12-6-2016) melakukan ritual selama 3x..(Ritual)...
    sampai aku merogoh kocek ku sebesar 35jt lebih...
    membeli CERUTU JANGKRIK (komplit)
    35pcs x 600rb = 21 jt
    mebeli sesaji (komplit):
    nasi tumpeng
    buah,menyan,kembang dll
    sebesar 14jt lebih...

    juru kunci (MENIPU KU)
    a/n:Ading 36thn (PENIPU)
    hp.081223871269
    alamat Rumah tinggal >>>>
    istri (MUDA) ke 2 anak 4 (3 cewek 1 laki)
    Desa sidarja
    kampung cisalak
    blok pahing
    kecamatan ciawi gebang
    kabupaten kuningan (jawa)
    Rumah a/n:Ading 36thn (PENIPU)
    yg mengaku juru kunci..
    di belakang sekolah SD negri
    turun lapangan bola
    sidaraja kuningan

    ku mengadakan Ritual dana goib
    hari jumat (10-6-2016) sampai hari minggu (12-6-2016)
    di makam keramat & sumur keramat
    di desa pagundan
    kampung dusun kliwon (KUNINGAN)
    selama 3x...(3 hari komplit sesajen)
    tepat ritual yg ke 3 hari minggu,
    juru kunci PALSU
    a/n: Ading 36thn (PENIPU)
    hp.081223871269
    berkata di makam keramat,mengatakan uang dana goib,akan di antar langsung oleh arwah makam keramat
    desa pagundan
    kampung dusun kliwon (kuningan)
    tepat jam 1 malam di Rumah aku
    tggu di jembatan ke5 dekat Rumah ku

    setelah melakukan ritual yg ke3x..
    (komplit sesajen dari ke 1x-3x)
    ku lansung bergegas pulang ke Rumah
    dan ku sampai di jembatan yg ke5
    hari minggu pkl 11 malam...
    ku tunggu,sambil baca mantra panggil arwah makam keramat
    ku baca mantra sampai pkl 3 subuh (minggu 12-6-2016)
    arwah makam keramat tak kunjung hadir/datang...
    juru kunci PALSU
    a/n:Ading 36 thn (PENIPU)
    hp.081223871269
    ku tlp&sms juru kunci palsu itu
    tidak di angkat&tidak membalas sms ku sama sekali (ku di tipu)..

    hati-hati saudara ku
    jangan mudah percaya,apa lagi baru kenal&mengaku juru kunci,paranormal,dukun dsb
    (modus penipuan)

    www.ading36thn_penipuan.com
    sekian dan terima kasih

    alamat rumah yg di tinggal&di tempati >>>>
    juru kunci (PALSU)
    a/n: Ading 36 thn (PENIPU)
    hp.081223871269
    (PRAKTEK DGN BONEKA JENGLOT PALSU)
    istri (MUDA) ke 2 mempuyai
    anak 4 (cewe 3 cowo 1)
    desa sidarja
    kampung cisalak
    desa pahing
    kecamatan ciawi gebang
    kabupaten kuningan (jawa)
    di belakang SD NEGRI
    SiDARAJA KUNINGAN

    BalasHapus