Ahlan Wasahlan Sugeng Rawuh ....

"SELURUH DUNIA ADALAH PESANTRENKU" demikian fatwa Sunan Kalijaga, 600 tahun yang lalu. Sabda pangandika ini mengisyaratkan bahwa tugas dakwah adalah ke seluruh alam tanpa batas. Maka Pesantren Khusnul Khatimah, nyendikani dawuh ini dengan mengirim ratusan santri, kyai, ulama, ustadz ke seluruh penjuru dunia untuk terus mengabarkan ketauhidan Allah SWT.

Zakat Mal, Sumbangan, Infak dan Sedekah Anda
akan kami salurkan untuk membantu program dakwah ke pelosok-pelosok nusantara.

Sabtu, 22 Mei 2010

ZIARAH MAKAM SUNAN BONANG

KANJENG SUNAN BONANG


1. Maulana Makdum Ibrahim
Nama lain Sunan Bonang yaitu Raden Makdum atau Maulana Makdum Ibrahim. Diduga, ia lahir di daerah Bonang, Tuban, pada 1465. Semasa kecil, Sunan Bonang sudah mendapat pelajaran dari ayahnya, Sunan Ampel, dengan disiplin yang ketat. Tak heran jika diapun kemudian masuk ke dalam Wali Sembilan. Sunan Ampel semula memberi ia nama Maulana Makdum. Nama ini diambil dari bahasa Hindi, yang bermakna cendekiawan Islam yang dihormati karena kedudukannya dalam agama .
Dalam bidang sastra budaya sumbangan beliau yaitu:
a. Dakwah melalui pewayangan
b. Membantu Raden Patah
c. Ikut mendirikan Masjid Demak
d. Menyempurnakan instrumen gamelan, terutama bonang, kenong dan kempul
e. Suluk Wujil
f. Tembang macapat.
Pada zaman sekarang ajaran yang mempunyai butir lima dalam kehidupan pesantren telah dibuat syair puji-pujian yang populer dengan nama singiran tamba ati. Kelima butir syair itu berbunyi demikian :
Tamba Ati
Tamba ati iku lima sak warnane :
1. Maca Quran angen-angen sak maknane
2. Kaping pindho, shalat wengi lakonana
3. Kaping telu, wong kang soleh kencanana
4. Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
5. Kaping lima zikir wengi ingkang suwe
Salah saijine sapa bisa ngelakoni,
Insya Allahu taala ngijabahi.

Terjemahan :
Pelipur Lara

Pelipur lara ada lima macamnya :
1. Membaca Al Qur’an dengan memahami maknanya
2. Kedua shalat malam lakukanlah.
3. Ketiga orang shaleh dekatilah.
4. Keempat dzikir malam yang lama.
5. Kelima harus tahan lapar perutnya,
Siapa bisa melaksanakan itu semua
Insya Allahu taala mengabulkan.

Menurut tembang ini, ada lima macam, “penawar hati”, atau pengobat jiwa yang “sakit”. Yakni membaca Al Qur’an, mengerjakan shalat tahajud, bersahabat dengan orang saleh, berzikir, dan hidup prihatin. Syair Tamba Ati hingga kini masih kerap dinyanyikan sejumlah santri di pesantren dan masjid di sejumlah desa. Tembang ini adalah peninggalan Raden Maulana Makdum Ibrahim, yang lebih dikenal sebagai Sunan Bonang. Pada masa hidupnya, Sunan Bonang menyanyikan Tamba Ati utuk menarik warga masyarakat agar memeluk Islam. Pada saat berdendang, pria yang diduga berusia 60 tahun itu menabuh gamelan dari kuningan, yang dibuat oleh sejumlah warga Desa Bonang, Jawa Timur. Nama desa inilah yang kemudian melekat pada gelar Sunan (Rahimsyah, 2001).
Meski terampil, Sunan Bonang bukan putra penabuh gamelan. Ia justru putra Sunan Ampel, yang menikah dengan Candrawati, alias Nyai Ageng Manila. Nyai Ageng merupakan anak angkat Arya Teja, Bupati Tuban. Tidak ada catatan mengenai tanggal kelahiran Raden Makdum.
Kitab Suluk Wujil berisi ajaran Sunan Bonang kepada si Wujil, seorang bajang yang diceriterakan orang bekas budak dari pada raja Majapahit; raja yang keberapa dan yang mana tidak diterangkan. Sudah barang tentu ajaran-ajaran tersebut berkenan. Sudah barang tentu ajaran-ajaran tersebut berkenan dengan ilmu kesempurnaan atau mistik. Adapun mistik yang diajarkan oleh Sunan Bonang itu hamper sama saja dengan mistik yang dipaparkan di dalam kitab yang lain-lain, seperti: Dewaruci, Nirarthaprakerta dan Suluk Sukarsa. Bedanya hanya dalam kata-katanya saja; maksudnya sama saja (Poerbatjaraka, 1952).
Suluk Wujil itu semuanya ada 104 bagian (pupuh); bagian (pupuh) yang ke-55, sekar-ageng Aswalalita, yang ke-56, Mijil, yang lain-lain Dandang gula. Sekar Aswalalita tersebut masih terang jalan guru-lagunya (iramanya), yang membuktikan bahwa tua usianya. Sebab sepanjang pengetahuan saya, sejak jaman Kartasura hingga sekarang ini, sudah tidak ada lagi orang Jawa yang dapat menggubah sekar-ageng dengan guru-lagu (irama).
Di dalam kitab tersebut terdapat angka tahun yang berbentuk sangkalan: panerus-tingal-tataning-nabi = 1529, masih juga dalam tahun Saka = 1607 tahun Masehi. Akan tetapi angka tahun itu berkenaan dengan apa, tidaklah terang. Akan tetapi bagaimanapun juga halnya, pada tahun tersebut kitab itu sudah ada, sebab tidak ada tanda-tandanya bahwa angka tahun tersebut susulan baru. Itu berarti, bahwa kitab Suluk Wujil itu tatkala jaman pemerintahan Sinuhun Seda Krapyak, ramanda Sinuhun Sultan Agung di Mataram, sudah ada.
Di bawah ini kami sajikan kutipan sedikit dari Kitab Suluk Wujil: Dipun weruh ing urip sejati, lir kurungan raraga sedaya, becik den wruhi manuke, rusak jen sira tan wruh, hih ra-Wujil salakuneki, iku mangsa dadya, jen sira ‘jun weruh, becikana kang sarira, awismaa ing enggon punang asepi, sampun kacakrabawa.
Aja’ doh dera ngulati kawi, kawi iku njata ing sarira, punang rat wus aneng kene, kang minangka pandulu, tresna jati sarira neki, sijang dalu den awas, pandulunireku; punapa rekeh pracihna, kang njateng sarira sakabehe iki, saking sipat pakarja.
Mapan rusak kajatinireki, dadine lawan kaarsanira, kang tan rusak den-wruh mangke, sampurnaning pandulu, kang tan rusak anane iki, minangka tuduh ing Jang, sira wruh ing Jang iku, mangka sembah puji nira, mapan awis kang wruha ujar puniki, dahat sepi nugraha.
Hendaklah tahu akan hidup sejati, (sesungguhnya) laksana sangkar jisim seluruhnya, baik diketahui sang burung, celaka jika tuan tak tahu, wahai sang Wujil akan segala peri kelakuan tuan, takkan tercapai itu (oleh tuan); jika tuan ingin tahun, sucikanlah diri tuan, tinggallah di tempat sepi, yang tak diketahui orang.
Tak usah jauh-jauh tuan mencari kawi, kawi itu sungguh pada diri (pribadi), semesta alam telah terkandung di dalamnya, yangakan jadi alat melihat, cinta jati (akan) diri tuan, ingat-ingatlah siang malam, akan penglihatan tuan itu, apa gerangan alamat, yang nampak pada jisim kita seluruhnya ini, (yang timbul) oleh sifat fa’al.
Memang rusak kejatiannya itu, kejadiannya dengan kehendak tuan, (oleh karena itu) maka yang tak rusak hendaklah tahu, kesempurnaan pandangan, (dan) yang tak rusak keadaannya ini, akan jadi petunjuk akan (tempat) Tuhan, (dan) yang tahu akan Tuhan akan jadi sembah pujinya, memang jarang yang tahu akan ujar ini, (yang) sangat kesepian anugerah. Suluk Wujil ini sudah dicetakkan dengan huruf Latin, diterjemahkan dalam Bahasa Belanda dan dikupas lagi dibandingkan dengan Tijdschriet Jawa tahun 1938.


2. Berguru pada Syekh Awalul Islam
Sunan Ampel kemudian mengirim Sunan Bonang ke Negeri Pasai, Aceh masa kini. Di sana Sunan Bonang menuntut ilmu pada Syekh Awalul Islam, ayah kandung Raden Paku alias Sunan Giri. Bersama Raden Paku, ia juga belajar pada sejumlah ulama besar yang banyak menetap dan mengajar di Pasai, seperti ulama ahli tasawuf dari Baghdad, Mesir, dan Iran (Aries Kelana, 2001).
Pulang dari menuntut ilmu, Sunan Bonang diminta Sunan Ampel berdakwah di Tuban, Pati, Pulau Madura, dan Pulau Bawean di utara Pulau Jawa. Seperti halnya Raden Paku alias Sunan Giri, yang mendirikan pesantren di Gresik, Sunan Bonang juga mendirikan pesantren di Tuban .
Dalam berdakwah, Sunan Bonang kerap menggunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati masyarakat, antara lain dengan seperangkat gamelan Bonang. Bila di pukul dengan kayu lunak, bonang itu melantunkan bunyi yang merdu. Bilan Sunan Bonang sendiri yang menabuhnya, gaung sang bonang sangat menyentuh hati para pendengarnya (Aries Kelana, 2001).
Masyarakat yang mendengarnya berbondong-bondong datang ke masjid. Sunan Bonang lalu menerjemahkan makna tembangnya. Karena kekuatan suaranya itu pula, Sunan Bonang juga mendapat julukan lain : Sang Mahamuni. Tembang itu berisi ajaran Islam, sehingga tanpa sengaja mereka telah diberi penghayatan baru (Aries Kelana, 2001).
Pada masa itu, daerah Bonang masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit, yang mayoritas-dan “resmi”-beragama Hindu. Kebetulan, para penganut Hindu ketika itu sangat akrab dengan musik gamelan. Pengaruh gendingnya cukup melegenda. Bahkan gamelan itu telah menjadi bagian dari cerita kesaktian Sunan Bonang.

3. Kesaktian Sunan Bonang
Misalnya dikisahkan oleh Aries Kelana (2001) bahwa Sunan Bonang pernah menaklukan Kebondanu, seorang pemimpin perampok, dan anak buahnya, hanya menggunakan tembang dan gending Dharma dan Macapat. Mendengar tembang itu, Kebondanu dan anak buahnya tidak mampu menggerakan tubuhnya itu.
Setelah diminta bertobat, Kebondanu dan gerombolannya pun menjadi pengikut Sunan Bonang. Tapi, kesaktian Sunan Bonang tak hanya terletak pada gamelan dan gaungnya. Cerita lain mengisahkan seorang brahmana, yang berlayar dari India ke Tuban. Tujuannya ingin mengadu kesaktian dengan Sunan Bonang.
Namun, sebelum mendarat di Tuban, kapalnya dihajar ombak. Akibatnya, kitab-kitab kesaktiannya hanyut terbawa air. Beruntung, sang brahmana berhasil mencapai pantai. Di tepian laut itu berjumpa dengan seorang pria berjubah putih. Kepada pria itu ia menyatakan ingin berjumpa dengan Sunan Bonang untuk uji kesaktian.
Tapi, demikian katanya, ia tak lagi mampu melakukannya, karena semua kitabnya sudah raib di telan ombak. Pria berjubah itu mencabut tongkatnya yang tertancap di pasir pantai. Air muncrat dari lobang bekas tongkat itu…bersama semua kitab sang brahmana. Setelah pria tadi menyebut namanya yang tiada lain daripada Sunan Bonang, Brahmana itu berlutut.
Pada masa hidupnya, Sunan Bonang termasuk menyokong kerajaan Islam Demak, dan ikut membantu mendirikan Masjid Demak. Oleh masyarakat Demak ketika itu, ia dikenal sebagai pemimpin bala tentara Demak. Dialah yang memutuskan pengangkatan Sunan Ngudung sebagai panglima tentara Islam Demak.
Misalnya dalam kisah pengadilan atas diri Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang. Lokasi “pengadilan” itu sendiri punya dua versi. Satu versi mengatakan, sidang itu dilakukan di Masjid Agung Kasepuhan, Cirebon. Tapi, versi lain menyebutkan, sidang itu diselenggarakan di Masjid Agung Demak. Sunan Bonang juga berperan dalam pengangkatan Raden Patah.
Dalam menyiarkan ajaran Islam, Sunan Bonang mengandalkan sejumlah kitab, antara lain Ihya Ulumudin dari Al Ghazali, dan Al Anthaki dari Dawud Al Anthaki. Juga tulisan Abu Yazid Al Busthami dan Syekh Abdul Qadir Jaelani. Ajaran Sunan Bonang, menurut disertasi JGH Gunning dan disertasi BJO Schrieke, memuat tiga tiang agama, tasawuf, ushuludin, dan fikih.

4. Tasawuf Sunan Bonang
Ajaran tasawuf, misalnya menurut versi Sunan Bonang menjadi penting karena menunjukan bagaimana orang Islam menjalani kehidupan dengan kesungguhan dan kecintaannya kepada Allah. Para penganut Islam harus menjalankan, misalnya, shalat, berpuasa dan membayar zakat. Selain itu, manusia harus menjauhi tiga musuh utama: dunia, hawa nafsu dan setan .
Untuk menghindari ketiga, “musuh” itu, manusia dianjurkan jangan banyak bicara, bersikap rendah hati, tidak mudah putus asa, dan bersyukur atas nikmat Allah. Sebaliknya, orang harus menjauhi sikap dengki, sombong, serakah serta gila pangkat dan kehormatan. Menurut Gunning dan Schrieke, naskah ajaran Sunan Bonang merupakan naskah Wali Sanga yang relatif lebih lengkap (Aries Kelana, 2001).
Ajaran wali yang lain tak ditemukan naskahnya. Di situ disebutkan pula bahwa ajaran Sunan Bonang berasal dari ajaran Syekh Jumadil Kubro, ayahanda Maulana Malik Ibrahim, yang menurunkan ajaran kepada Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria .
Dalam sejarah, Prabu Adiningkung menjadi raja Majapahit menurunkan Hayamwuruk. Prabu Hayamwuruk ber¬putrakan Lembu Amisani; yang kemudian menggantikan ramanda menjadi raja juga. Ketika itu Patih Majapahit dipegang oleh De¬wining Wulan. Lembu Amisani berputrakan lagi seorang Ksatria bernama Bratanjung. Dari Bratanjung berputrakan Raden Alit, dan Raden Alit ini kemudian setelah memangku takhta kerajaan berganti nama dengan Kanjeng Sinuwun Prabu Brawijaya. Majapahit di bawah kekuasaan Kanjeng Sinuwun Prabu Brawijaya dengan Patih Gajah Mada, pulau Jawa mulai menginjak babak baru dalam sejarah dengan kejayaan Majapahit yang gemilang.
Pada suatu malam Kanjeng Sinuwun Prabu Brawijaya mimpi akan menikah dengan seorang putri kerajaan seberang yaita putri dari negeri Campa. Pada pagi harinya ketika dia bangun dari tidur segera dipanggilnya sang Patih Gajah Mada, Kanjeng Rekryana Patih diperintahkan melamar putri Campa. Sang Patih berangkat dengan membawa surat yang diamanatkan kepada raja Campa, perjalanan jauh ke negeri seberang itu ditempuhnya dengan naik kapal laut. Karena keuletan dan kesabaran akhirnya rombongan Majapahit dengan selamat tiba di Campa dan menemukan Prabu Campa betul mempunyai tiga orang putri dan seorang putra yang bungsu. Setelah Patih Gajah Mada menyampaikan surat lamaran Sinuwun Prabu, Brawijaya, Prabu Campa meneruskan lamaran itu, dan memperkenankan putri sulung¬nya menjadi prameswari kerajaan Majapahit, menjadi istri Brawi¬jaya.
Keberangkatan Putri Sulung ke Majapahit disertai beberapa bawaan seperti gong, gong itu diberi nama Kyai Sekardelima, sebuah gerbong, gerbong itu pun diberi nama Kyai Balelumur, sedang sebuah pedati namanya Kyai Jebatbetri. Patih Gajah Mada setelah memperoleh karya memboyong putri segera saja berangkat kembali. Rombongan Patih Gajah Mada berikut putri Campa dengan selamat tiba di Majapahit. Terlaksana sudah Sinuwun Kanjeng Sinuwun Prabu Brawijaya mempersunting putri seberang.
Babak baru dalam cerita ini adalah kisah Sinuwun Prabu, Ratu negeri Campa ketika itu kedatangan tamu dari seberang bernama makdum Brahimasmara. Tamu itu ternyata adalah seorang muba¬liq yang sedang menyebarkan agama Islam. Brahimasmara yang sangat akrab dengan Sinuwun Prabu, pada suatu hari bersembembah tutur pada Sinuwun Prabu menasehatkan satu wawasan baru mmgenai agama baru yaitu agama Islam. Sinuwun Prabu diajak agar masuk agama Islam. Raja Campa menurut jejak nasehat dan masuklah ke agama Islam. Tindakan Sinuwun Prabu ini diikuti oleh seluruh kerabat berikut kawula seluruh negeri. Mereka meninggalkan agamanya yang lama dan berganti masuk Islam. Ketika itu maka putri Campa tinggal seorang yang bungsu, putri itu akhirnya dikawinkan dengan sang makdum Brahimasmara, dengan Brahi¬masmara putri Campa dianugerahi dua putra pria. Demikian Campa dalam perkembangannya.
Kini terlintas dalam cerita di suatu hutan, di tengah rimba lebat termasuk wilayah negeri Majapahit terdapat sepasang denawa bertapa. Raksasa itu pria dan istri masih kerabat saudara. Sang denawa perempuan sebelumnya adalah manusia wanita biasa, ia ingin sekali agar dikawin oleh Kanjeng Sinuwun Prabu Brawijaya Ratu Majapahit yang termasyur. Malang bagi nasib raksasa wanita ujud lahiriahnya yang bersifat denawa tak mungkin diterima oieh Kanjeng Sinuwun, raksasa itu mengheningkan cipta, maka berubahlah wajahnya menjadi Seorang wanita cantik rupawan, bersilih nama Endang Sasmita¬pura. Endang Sasmitapura kemudian minta izin kepada saudaranya untuk mengarungi hutan dan rimba hendak menghadap Kanjeng Sinuwun Prabu Brawijaya.
Saudara lelakinya mengizinkan. Setelah tiba di negeri Majapahit banyak orang mengagumi keelokan wajah sang gadis Endang Sasmitapura kabar cerita tentang orang cantik ini sampai ke telinga Sinuwun Prabu. Kanjeng Sinuwun Prabu Brawijaya memerintahkan memanggil Endang Sasmitapura agar dihadapkan ke Keraton. Sinuwun Prabu mau menerima dia sebagai selir. Setelah lama Endang Sasmitapura bisa mengandung. Terbawa oleh isi kandungan itu, ia mulai ngidam ingin makan gecok mentah. Kanjeng Sinuwun memperkenankan istrinya membuat gecok mentah. Tetapi apa yang terjadi, setelah Endang sasmita makan rujak daging mentah dirinya tiba-tiba berubah memnajdi wujud aslinya menjadi seorang raksasa wanita. Sinuwun Prabu terkejut sekali, meluap amarahnya. Diambilnyalah sebatang tombak Endang Sasmitapura akan dibunuh. Tetapi niat Sinuwun Prabu tidak terlaksana, karena Endang cepat-cepat mengelak dan lari masuk ke dalam hutan. Waktu berselang, hari berganti hari, tibalah sang bayi lahir dari kandungan. Bayi itu lahir pria dan tampan rupanya, diberilah nama Ki Dilah.

5. Joko Dilah
Setelah Dilah menginjak dewasa, anak mulai tanya siapa ayahnya yang sesungguhnya, reaksi Endang Sasmita terpaksa menjabar¬kan siapa sesungguhnya ayah Dilah. Segera saja sang teruna Dilah berkelana menuju ke Majapahit. Di keraton ini dia bertekad hendak mengabdikan diri kepada Sinuwun Prabu. Tak seorang dapat menghalangi niat Joko Dilah, juga ibunya pun tak berhasil. Anak ini memaksa harus berangkat.
Selamat sampai di kerajaan Majapahit, bertempat di pagelaran, Ki Dilah bertemu dengan Kyai Patih Gajah Mada. Patih Gajah Mada setelah mendengar maksud yang dikandung hati Ki Dilah, Kyai Patih langsung melapor kepada Kanjeng Sinuwun, dan raja memperkenankan Ki Dilah diangkat menjadi abdi.
Suatu hari Kanjeng Sinuwun Prabu Brawijaya menghendaki agar pengiring kraton memeprsiapkan hiburan berburu ke hutan. Seorang pelayan Dilah segera maju mempersembahkan usulnya agar Kanjeng Sinuwun tidak usah menempuh jalan jauh susah payah berburu sendiri, Ki Dilah bersedia menggiring hewan seisi hutan ke alun-alun. Mendengar tutur yang ajaib ini Kanjeng Sinuwun Prabu Brawijaya agak tercengang dan memperkenankan Ki Dilah melaksanakan karya¬nya, dengan syarat, apabila tak terbukti berhasil akan dijatuhi hukuman mati. Joko Dilah lalu mulai berjalan masuk hutan untuk menemui ibunya, serta menjelaskan tentang kesanggupannya menjalankan perintah raja. Sang ibu menyatakan menunjang kesanggupannya, juga untuk membantu anaknya, akan dikumpul¬kan binatang rimba seluruhnya. Tak lama kemudian berbondong¬bondong binatang rimba dikerahkan, dan oleh ihunya diserahkan kepada Joko Dilah untuk digiring ke lapangan alun-alun (Maja¬pahit).
Sinuwun Prabu sangat suka dan bergembira di hati. Joko Dilah mendapat pujian, pengabdiannya diterima dengan baik setelah dia dapat membuktikan kemampuannya yang luar biasa. Joko Dilah sekarang diangkat menjadi raja di Palembang, namanya dirubah menjadi Arya Damar, dan keberangkatannya diberi pengiring seketi jumlahnya. Arya Damar segera berangkat dari Majapahit, dan mereka berhenti di Gresik.

6. Saudara Putri Cempa
Tersebut dalam cerita, Sinuwun Prabu kawin lagi dengan seorang putri elok dari negeri Cina. Putri Cina menjadi Prameswari kedua. Prameswari kesatu Majapahit juga putri sulung dari Campa, setelah mendengar bcrita perkawinan baru dari raja, amatlah muramnya. Siang malam sang prameswari mandi air mata menge¬luh, kepada dewa, daripada hidup di Majapahit dimadu lebih baik pulang saja ke negeri ayah bundanya. Sinuwun Prabu merasa amat sayang dengan istri yang pertama, karena itu Kanjeng Sinuwun Prabu Brawijaya menyangguni unt+zk mengirim pulang putri Cina ke negerinya. Patih Gajah Mada dipanggilnya diutra agar dia :nembawa putri Cina kepada Arya Damar.
Penyerahan itu disertai surat. Sang Patih sudah berangkat mengiringkan putri Cina yang hendak diserahkan. Sesampainya di Gresik dia bertemu dengan Arya Damar, dan surat telah disampaikan, isi surat itu berbunyi bahwa putri Cina dihadiahkan untuk menjadi istri dari Arya Damar, tetapi karena putri sedang mengandung tak diperkenankan campur dahulu, sabarlah menunggu sampai sang bayi lahir di dunia. Arya Damar bersembah sanggup menetapinya, segera saja Ki Damar bongkar sauh berlayar menuju negeri Palembang. Dan di sana dia bertakhta menjadi raja.
Di negeri Campa, Makdum Brahim Asmara dalam perkawinan¬nya dengan putri Campa telah dikaruniai dua putra, yang pertama bernama Raden Rahmat yang kedua bernama Raden Santri. Yang menjadi raja Campa ketika itu juga sudah mempunyai anak satu pria, diberi nama Raden Burereh. Suatu hari Raden Rahmat meminta izin kepada pamannya, raja Campa, bahwa dia bersama adiknya hendak menyeberang ke pulau Jawa mengunjungi paman¬nya yaitu Kanjeng Sinuwun Prabu Brawijaya Maharaja Majapahit. Ratu Campa mengizinkan asai Burereh diikutsertakan. Tiga pemuda kini berangkat menuju ke Majapahit. Mereka bertemu sudah dengan sang uwak Prabu Majapahit. Mereka tinggal di Jawa hingga setahun lamanya.
Rombongan Raden Rahmat ternyata akhirnya terpikat dengan alam dan putri-putri pulau Jawa. Rahmat kawin dengan seorang putri dari Tumenggung Wilatikta, tumenggung itu ber¬nama Ki Manila. Selain seorang putri rupawan, pak Tumenggung juga mempunyai putra lelaki bernama Joko Said. Joko Said dalam urutan jatuh lebih muda. Raden Burereh dengan Raden Santri juga teiah menikah dengan putra Arya. Teja. Putri Teja yang pertama kawin deugan Raden Santri, yang muda dengan Raden Burereh. Rahmat kemudian merintis desa bertempat tinggal di Ampeldenta, sedang Santri dan Burereh bermukim di Gresik.

7. Ajaran Suluk Wujil
Tersebutlah seorang yang bernama Wujil. Berujarlah dia kepada Sang Panembahan Agung, Ratu Wahdat namanya, bersujud pada debu kaki Sang Mahamuni, yang berasrama di Bonang seraya mohon ampun karena ingin diberi keterangan tentang seluk beluk agama yang terpilih sampai ke rahasia yang sedalam-dalamnya.
Sepuluh tahun Wujil berguru kepada Sang Panembahan Agung, belum mendapatkan ajaran yang penting. Adapun asalnya, Wujil berasal dari Maospait sebagai abdi kesayangan raja di Majalangu. Tamatlah dipelajari seluruh tata bahasa. Kemudian Wujil berujar kepada Sang Panembahan Agung yang sangat dihormati dengan mohon ampun.
Sang Wujil sungguh memohon belas kasih di hadapan kaki Sang Jati Wenang menyerahkan hidup-mati. Telah makin dikuasai akan semua pelajaran. Sastra Arab yang Tuan ajarkan, akhirnya pergi sekemauan hati, senantiasa mengikuti kemauan hati, setiap hari bermain topeng, sampai bosan hamba bertingkah laku sebagai badut, dijadikan tumpuan ejekan.
Ya Paduka Sang Panembahan Agung, keterangan tentang ajaran rahasia mengenai huruf tunggal menurut paham pangiwa dan panengen karena masih ada dalam tatanan gending, masih dalam tatanan syair. Mengingat kedua hal tersebut, tidak membawa hasil senantiasa mengembara meninggalkan cinta dari Majapahit, tidak mendapatkan usada.
Oleh karena itu, hamba pergi pada suatu malam untuk mencari rahasia tentang kesatuan, kesempurnaan dalam semua tingkah laku. Hamba datangi setiap orang suci, mencari inti sari kehidupan, titik akhir dari kekuasaan yang sebenarnya, titik akhir dari utara selatan, terbenamnya matahari dan bulan, tertutupnya mata dan keadaan akhir kematian, titik akhir dari ada dan tiada.
Sang Ratu Wahdat tersenyum. “Hai anakmas Wujil betapa kamu gegabah, berujar yang bukan-bukan, terlalu berani, hatimu ingin menagih oleh karena besarnya jasamu yang telah diberikan”. Tidak layak aku disebut orang suci di dunia, jika menjual ajaran membeli ajaran kitab, lebih baik aku jangan dipanggil ahli wahdat.
Siapa saja menjajakan ajaran, bersikap sombong, seolah-olah segala sesuatu, orang tersebut dapat diibaratkan seperti burung bangau yang sedang bertapa di atas air, diam tidak bergerak, pandangannya tajam, berpura-pura alim melihat mangsanya, seperti telur yang tampak putih di luarnya, di dalam bercampur merah.
Matahari terbenam, hari berganti malam. Sang Wujil mengumpulkan kayu untuk api unggun di bawah pertapaan Sang Wiku, di ujung di tepi laut, yang disebut Dukuh Bonang serta keadaannya sunyi senyap, gersang tiada tumbuhan buah-buahan yang dapat dimakan, makanannya hanya berupa riak gelombang laut yang menerjang batu-batu karang yang berbentuk gua yang menyeramkan.
Sang Ratu Wahdat berujar pelan: “Hai anakmas Wujil kemarilah segera”. Kemudian dipeganglah kucirnya, seraya diusap-usap, diberi anugerah ajaran rahasia, “Wujil dengarlah kata-kata rahasiaku ini”. “Kalaupun karena kata-kataku ini kamu masuk di neraka, saya sendiri yang akan masuk ke dalamnya, bukanlah kamu”.
Segera Wujil menyembah. Berujarlah ia kepada Sang Guru Yang Sangat Mulia (dengan) sangat berterima kasih. “Jangan paduka, lebih baik hamba Sang Wujil yang masuk di neraka biarlah Sang Wujil sendiri”. Karena semua sudah saling mengetahui maksudnya, guru dan siswa tidak pernah berselisih paham, keduanya selalu kompak.
Peringatanku padamu, hai anakmas Wujil, berhati-hatilah dalam hidup di dunia, jangan lengah, sembrono dalam tindakan. Hendaknya diketahui benar-benar bahwa kamu bukanlah kesejatian, kesejatian tersebut bukanlah kamu. Siapa saja mengenal diri, semata-mata dia mengenal Yang Widhi. Demikianlah jalan yang sebaik-baiknya.
Perihal keunggulan diri manusia hendaknya diketahui kesejatian salat, sembah, dan pujiannya. Kesejatian salat, bukan Ngisa atau Magrib, itu hanya dapat disebut sembahyang, kalaupun disebut salat itu karena kembangnya salat daim dan merupakan sopan santun.
Manakah yang disebut dengan sembah yang sebenarnya? Sebaiknya jangan menyembah jika tidak diketahui (siapa yang disembah). Akibatnya akan direndahkan martabatmu. Jika kamu tidak tahu akan yang disembah di dunia ini, (maka kamu) seperti menulup burung, pelurunya disebarkan, burungnya tidak akan kena, akhirnya menyembah adam sarpin sembahnya gagal total.
Dan manakah yang disebut pujian? Meskipun orang-orang memuja malam dan siang, jika tidak disertai petunjuk, tidak akan sempurna tindakan tersebut. Jika kamu ingin tahu tentang pujaan, sebaiknyalah kamu tahu akan keluar masuknya, yang menunjukkan adanya Yang. Masuk keluarnya nafas sebaiknya kau ketahui, juga perihal anasir halus yang empat jumlahnya.
Empat anasir tersebut adalah tanah, api, angin dan air. Dahulu kala ketika Ada diciptakan, (adapun) sifatnya ada empat: kahar, jalal, jamal dan kamil yang mengandung sifat-sifat Yang yang jumlahnya ada delapan. Sifatnya dalam badan keluar masuk jika keluar ke mana arahnya, jika masuk ke mana arahnya.
Tua muda adalah sifat unsur bumi. Sifat tersebut hendaknya diketahui. Jika tua dimanakah mudanya, jika muda di manakah tuanya. Adapun unsur api itu bersifat kuat dan lemah. Jika kuat di manakah lemahnya, jika lemah dimanakah kuatnya, itu harus diketahui. Adalagi unsur angin, sifatnya ada dan tiada. Jika tiada di mana adanya, sifatnya ada dan tiada. Jika tiada di mana adanya, jika ada di mana tiadanya. Adapun unsur air bersifat mati-hidup. Jika hidup di mana matinya, jika mati ke mana arah hidupnya. Akan tersesat bila kamu tidak mengetahuinya.
Hendaknya diketahui pedoman hidup adalah mengetahui akan dirinya sendiri dan tidak putus-putus memuji. Di mana letaknya yang berdoa dan yang dituju dengandoa, jangan sampai kamu tidak mengetahuinya. Adapun karenanya orang yang agung mencari pribadinya sendiri ialah (untuk) mengetahui dengan tepat hidup mereka yang sebenarnya, hidup mereka di dunia.
Hendaknya diketahui hidup yang sejati. Tubuh ini seluruhnya bagai sangkar, baiklah diketahui burungnya. Akan sengsara jika kamu tidak mengetahuinya, hai Wujil, semua tindakanmu tidak mungkin akan berhasil, jika kamu ingin mengetahuinya, perbaikilah dirimu, tinggallah di suatu tempat yang sepi, jangan terpengaruh gebyar dunia.
Jangan jauh-jauh kamu mencari pujangga, pujangga tersebut telah ada dalam dirimu, bahkan seluruh dunia telah ada di sini. Sebagai penerangannya Kresna jati dalam dirimu ini. Siang malam perhatikan penglihatanmu, apa pun kasunyatannya yang tampak di tubuh semuanya ini adalah dari sifat tingkah laku.
Akan rusak sebenarnya dirimu karena terjadi karena kemauanmu, maka yang tidak rusak kini harus kau ketahui. Kesempurnaan pengetahuan akan tidak rusak, adanya itu merupakan petunjuk adanya. Siapa yang tahu hal itu, (maka adanya itu) menjadi pujiannya, karena jarang yang mengetahui ajaran ini, mendapat anugerah yang besar.
Sebaiknya, kini kamu Wujil, kenalilah dirimu sendiri. Benar-benar seperti terlentang badanmu itu. Wujil, jika kamu matikan yang mengenal diri, tindakannya tak bosan mengurung. Yang mengurung tubuhnya, yang diperhatikan hanyalah kekurangannya, yang diingat terus-menerus.
Wujil, yang mengenal diri sendiri, dia mengenal Tuhan. Tidak bicara jika tiada rahasia yang diajarkannya, ada lagi yang mendapatkan kasunyatan, benar-benar mencari diri sendiri, kata-katanya tak pernah menyimpang dari kesucian, tak pernah keliru dari tempatnya, demikianlah yang disebut jalan kesucian (lampah).
“Keadaan Tuhan jelas berbeda (dengan keadaan manusia), jernihkanlah Tuhan itu. Ada orang yang mengaku tahu, tetapi perilakunya tidak sesuai, ajaran pengendalian nafsu tidak dipatuhi, mengesampingkan kehidupan yang saleh, orang yang benar-benar mengetahui, kuat mengendalikan hawa nafsu, siang malam memelihara penglihatannya, tidak pernah tidur.
Demikianlah dasarnya, hai anakmas Wujil supaya dapat mematikan hawa nafsu. Jangan hanya mendengar saja, berbenar-benarlah dalam jalan kesucian, kemauan dan keyakinan, jika keduanya telah jelas masuk dan keluarnya tiada kesulitan seperti halnya memotong seruas bambu pikulan, lain halnya dengan orang yang belum mengerti.
Penglihatannya terbatas karenanya (dia) tidak tampak karena terlalu tidak berbentuk rupanya, tetapi dia tetap ada. Menurut ajaran orang-orang yang unggul (dia) tidak mempunyai tempat tertentu. Bila orang berhenti melihat, malah mempunyai penglihatan sejati yang sempurna. Melihat penampilan umum yang nampak sebenarnya, melihat wujud yang sejati.
Karena tiada bedanya, hai Wujil, karena tertutup oleh gerakan-gerakan. Bedanya bukan berasal dari sumbernya. Hai Wujil, jangan kaulupakan bahwa sesudah dibicarakan hal itu, Wujil, tidak akan ada habisnya. Siang malam dibicarakan orang banyak, kitabnya dapat diumpamakan perkutut yang unggul, yang sering digunakan sebagai pemikat.
Sekalipun dibicarakan siang dan malam, jika tidak disertai dengan ajaran yang unggul, tetap tiada manfaatnya. Lebih baik orang diam saja. Kalaupun orang hendak membicarakannya, apa yang akan dikatakannya, segala gerak hatinya sebenarnya tampak pada matanya. Pancaran matanya (menunjukkan bahwa ia telah) menerima inti pengetahuan. Sebaiknyalah tahu akan diam dan bicara.
Sebaiknyalah kamu tahu tentang hakikat diam dan bicara. Jika kamu tidak tahu, itu tiada gunanya. Diamnya tiada isinya. Jika berbicara, jangan dengan suara keras. Burung di pohon kanigara berteriak, demikianlah perumpaannya, tiada artinya. Jika menyangkut perkataan rahasia, hai Wujil, jangan berbuat seperti orang yang dapat berbicara. Demikian, kata orang yang telah sempurna.
Apa gunanya rupa orang yang berjaga di malam hari, orang yang sudah buta matanya, keduanya tiada manfaatnya. Jika tidak dituntun untuk melihat kebenaran yang sebenarnya, bagaimana bisa tahu diri sendiri. Aku pernah mendengar bahwa asal kesempurnaan itu karena berbicara, tidak boleh tinggal diam.
Bukan karena diam, bukan karena berbicara, Wujil. Hai Wujil, bertanyalah kamu kepada orang yang bertapa. Sembah dan pujian sebaiknyalah kamu ketahui. Sembah itu bermacam-macam. Kata orang yang unggul orang memuji sekejap saja itu banyak pengaruh baik, sama dengan orang yang melakukan sembahyang seratus tahun, jika tahu tujuannya.
Siapa saja sudah tahu sarana, pujiannya terus menerus, tidak mengenal waktu. Orang unggul yang lain mengatakan bahwa (pujian seperti itu) sama dengan (sembahyang) selama enam puluh tahun. Sudah bebas sempurna raganya, tidak terikat oleh waktu, tingkah lakunya di dalam masjid menjadi contoh, bukan seperti burung bangau.
Tidak boleh tidak dipercaya, Wujil, sabda pemimpin cahaya dunia ini. Wujil bertanyalah kini. Ada orang memuji di malam hari dan di siang hari, amat besar pengaruh baik, asal dilakukan menurut aturan. Hal itu sama dengan (sembahyang) dua belas tahun. Sebaiknya kamu Wujil melakukan tapa, jangan sampai gagal.
Ada lagi orang yang sungkem darma bakti sekejap saja sangat besar pengaruh baik asal tahu petunjuknya. (Itu) sama dengan (sembahyang) dua belas tahun. Disebut tafakur. Jika sedang (dalam keadaan) diam ke mana arahnya, tanyakanlah hal itu. Siapa yang akan menerangkan naik turunnya diam dan bicara, itu harus diketahui.
Hai Wujil, orang yang diam itu lebih baik. Demikianlah sembahyang tanpa terputus tanpa terikat waktu. Sempurnalah orang itu, tubuhnya tiada yang tertinggal, bahkan termasuk kotoran dan air kencingnya. Inilah perjalanan yang sebenarnya. Bergurulah secara jelas, pada pujangga yang benar-benar mengetahui (tentang) kebenaran. Demikianlah pesan utusan Sang Utusan Yang Unggul.
Sebaiknya jangan menyembah wahai kamu Wujil, jika tidak kelihatan nyata. Sembah dan pujian tiada gunanya. Bila yang disembah itu jelas ada dihadapanmu, (maka kamu) mengerti adamu sebagai Tuhan, adamu sendiri tiada. Demikianlah yang dinamakan diam pada orang yang memuji, menjadi nyata Kemauan Purba.
Seterusnya bertanyalah kamu lagi karena jarang orang yang mengerti keadaan yang sebenarnya, yaitu perihal tingkah laku itu, jika tidak dikerjakan, bagaimana akan dapat diselesaikan? Yang tidak lupa mengerjakan, itu sudah menunjukkan bahwa (dia) mendapat anugerah dari Tuhan. Siapa yang tidak mengerjakan, itu menunjukkan dosanya, akan terkena kemalangan dan penderitaan.
Seterusnya, Wujil, bertanyalah tentang hakikat niat. Jangan hanya terbatas pada gagasan. Yang menggagas dan menyebut, bukan hal itu yang disebut niat yang sejati. Tidak mudah yang disebut dengan salat, sembah dan pujian itu. Jika tidak tahu akan siapa yang menerima tugas, yang mendapat denda dengan hal-hal yang bersifat kasar, yang mendapat denda, hukuman mati dan hukuman cambuk, maka orang ramai mempertengkarkan giliran.
Kebaktian yang unggul tidak mengenal waktu. Semua tingkah lakunya demikianlah sembahyangnya. Diam dan bicara serta segala gerak tubuhnya, tak urung jadi sembah, sampai pada wudunya pun kotoran dan air kencingnya menjadi sembah. Demikianlah yang dikatakan niat yang sejati, pujian yang tak putus-putusnya.
Hai Wujil, niat itu lebih penting dari tingkah laku yang banyak. Bukan bahasa maupun suara! Niat untuk melakukan tindakan itu, yang terungkap pikirannya. Sebenarnya niat itu bukan niatnya, (melainkan) niat untuk melakukan tindakan itu, yang terungkap. Niat melakukan sembahyang tiada bedanya dengan niat merampas.
Hai Wujil karenanya orang menjadi sirik kafir karena dikafirkan oleh aturan, (karena ia) mengandalkan segala kepandaiannya. (yang digunakan untuk) saling meyakinkan, terlalu berpegang teguh pda bunyi kata-katanya. Sesudah melakukan sembahyang Maghrib, ramai saling bertengkar mulut, akhirnya berganti memukul dengan (menggunakan) bajunya sehingga ikat kepalanya terlepas.
Pukul-memukul di dalam masjid, akhirnya saling marah bersembahyang sendiri-sendiri. Demikianlah hasil kesesatan karena memegang teguh bunyi tulisan, tidak mengetahui niat yang sebenarnya. Demikianlah akibat dari orang yang bingung, laki-laki dan perempuan saling berusaha mencari niat yang sebenarnya, (tetapi) tidak tahu jalannya.
Sebaiknyalah mengendalikan hawa nafsumu, hai Wujil. Jika sudah kau ikat, jangan terlalu banyak bicara, jangan terlalu memaksakan kemauan, menuruti kemauan pribadi. Itu jalan yang sesat, yang diandalkan pendapat sendiri. Yang mengangungkan permainan rebananya, tak urung jika rebananya dibuang ke atas akan saling melempar.
Hari mulai siang, matahari telah terbit di ufuk timur, kemudian Sang Ratu Wahdat berujar kepada Wujil untuk diutus. “Hai Wujil kamu kuutus, ke marilah kamu cepat”. “Pergilah ke pondok putri”. Si Satpada itu, segeralah ia kau suruh kemari”. Kemudian Sang Wujil berangkat, tibalah di pondok putri.
Berujarlah Sang Wujil: “Wahai Gendhuk, aku diutus mengundang kamu, Sang Panembahan Agung yang mengutus. Ken Satpada berujar: “Hai Wujil apakah maksudnya, pagi-pagi benar dipanggil, cemas hatiku”. “Tidak tahu maksud tugas ini”. Berangkatlah Satpada segera, telah diharap-harapkan oleh Sang Panembahan Agung.
Satpada berangkat sambil bertanya: “Hai Wujil jangan salah paham, Ki Wujil saya bertanya, apa karenanya kamu mendapat nama Ki Wujil”. Wujil berujar di dalam hati: “Dia ini orang yang cerdik, pertanyaannya sederhana, di balik kesederhanaan itu menyelipkan sesuatu di belakang”. “Baiklah saya (akan mengatakan) jika (kamu) tidak tahu”.
Karenanya saya disebut Wujil, karena antara nama dan rupa tiada perbedaannya. “Saya tidak harus mengulang jalan, enam perkara rasa jati sudah hamba jelajahi, tuan putri”. Si Satpada agak kebingungan, “Hai Wujil, anda bukanlah ‘wujil’ seperti orang sekarang ini, melainkan berasal dari Wilwatikta”.
Segera Wujil dan Satpada tiba, duduk di hadapan sang Guru, (kemudian) menyembah. Yang Mulia bertanya: “Apa khabarmu, wahai Satpada, ketika kamu datang kemarin, dari Jawana?”. Satpada berujar: “Adapun adik paduka, tuanku, Syekh Malaya, bermain topeng di Pati, lamanya tujuh hari”.
Sang Ratu Wahdat berujar : “Hai Wujil, segeralah kamu mencari kembang teratai, segera”. Tidak dikisahkan, segeralah ia datang. Kembang teratai kemudian ditulisi semua daun kembangnya. Di dalamnya diisi dengan “kembang rambuyut” yang dibentuk menjadi sumping “surengpati”. “Berikanlah kembang teratai ini, Wujil, kepada adikku Syekh Malaya”. Ini adalah sumping untuk orang bermain wayang, orang yang menari topeng pantas memakainya. Sang Wujil segera berangkat, mohon diri sambil menyembah, berangkatlah ia ke Pati. Tidak dikisahkan di jalan. Tibalah ia di tempat yang dituju. Bertanyalah ia kepada orang-orang di desa, kalau-kalau mengetahui pemain gambuh yang sangat terkenal, bernama Syekh Malaya.
Yang ditanya segera menjawab. “Benar ada seorang yang bernama Syekh Malaya, kini sedang bermain topeng, di desa Wasana Kidul, banyak orang yang menonton”. Wujil melanjutkan perjalanan, tidak lama sampailah. Syekh Malaya sudah selesai bermain topeng, Wujil pun berdatang sembah memberikansurat.
Kembang teratai segera diterima, segera dibuka, di dalamnya berisi rakitan “surengpati”. Syekh Malaya berujar: “Kemarilah kamu, hai anakmas Wujil sangatlah indahnya kembang rambuyut, yang dibentuk menjadi sumping ‘surengpati’, dirangkai dengan biji saga dihias dengan kembang melati”. Sangat sayang Sang Panembahan Agung.
Apakah maknanya “surengpati” dengan biji-biji saga dalam kembang teratai. “Hai Wujil apakah maksudnya?” Wujil menyembah, menjawab: “Hamba tidak tahu Gusti”. Syekh Malaya berujar : “Hai Wujil, rupanya Sang Panembahan Agung di Murya mempunyai maksud begini, segala tindakan mencapai istirahat pada penghujung kematian, titik akhir penyerahan”.
Teratai itu pun berkali-kali dipandangi, dibaca, dicamkan dalam hati tulisan itu beserta segala isi hatinya, dirinya terharu, hancur oleh isi tulisan. Banyak kiasannya, maknanya indah dan halus. Berulang-ulang dibacanya. Keindahan tulisan, bunyinya berupa bait kakawin, sebagai nyanyian pada akhir surat.
Ketika Dimas pergi dari rumah sendiri, beribadat (?), bertapa. Aku berbenar-benar terhadap kata-kataku, ingatanku, pikiranku, wahai Dimas. Kalau kakanda tersembunyi, mungkin akan pingsanlah pohon kepala?, sebaliknya kesejahteraanlah yang diingatnya, (untuk) yang sungkem darma bakti berpindah-pindah. Seperti rumput, tumbuh-tumbuhan melata, dan pohonlah sedang aku musim kering yang sangat luar biasa mengharapkan hujan.
Seperti kembang yang penuh sari, wahai sahabatku, aku ibarat seekor kumbang yang tidak dapat memperoleh bau wanginya. Ada kembang yang penuh dengan sari, kumbang, merintih, ingin mendapatkan tepung sarinya.
Sesudah selesai membaca, teratai dengan tertegun kembang tersebut diletakkannya, diam termenung dalam hatinya bertanya Wujil bertanya: “Apakah karenanya diam tidak berbicara?”. Hamba ingin mengetahui kata-kata yang dirangkai dalam surat tersebut”. “Isi perkataan dari sesembahan(mu) kepergianku ke Mekkah”.
Seterusnya Wujil segera di bawa pulang. Pulanglah mereka ke dhukuh Pagambiran, janda-janda mengikuti semua, Wujil berjalan di belakang. Tidak dikisahkan hal ikhwal di jalan, kemudian sampailah di pondok, sudah mulai menyiapkan makanan, Wujil disuruh makan bersama orang banyak. Sesudah makan, sisanya dibawa kedalam rumah. Kemudian mereka bersama-sama mengunyah sirih.
Ketika matahari terbenam, Syekh Malaya berujar: “Wujil, besok jika kamu pulang”, sampaikan segala yang kukatakan nanti, sebaiknya jangan diperhatikan bentuk perkataan, segala perkataanku ini sebaiknyalah disampaikan, sebaiknyalah terlihat sebagai perkataanmu, jangan sampai terlihat sebagai perkataanku, hai Wujil sekuatmu.
Karenanya, Wujil mengapa aku kembali ketika pergi ke Mekkah pulang di Malaka, guru pulang di Pase, karenanya Sang Panembahan Agung kembali, karena disuruh ke Nusa Jawa, yang menyuruh pulang adalah saudaranya yang bernama Maulana Magribi.

8. Makam Sunan Bonang
Sunan Bonang wafat di Pulau Bawean, pada 1525. Aries Kelana (2001) menceritakan saat Sunan Bonang akan dimakamkan terjadi perebutan antara warga Bawean dan warga Bonang, Tuban. Warga Bawean ingin Sunan Bonang dimakamkan di pulau mereka, karena Sang Sunan sempat berdakwah di pulau utara Jawa itu. Tetapi, warga Tuban tidak mau terima. Pada malam setelah kematiannya, sejumlah murid dari Bonang mengendap ke Bawean, “mencuri” jenazah Sang Sunan.
Esoknya, dilakukanlah pemakaman. Anehnya, jenazah Sunan Bonang tetap ada, baik di Bonang maupun di Bawean. Karena itu, sampai sekarang, makam Sunan ada di dua tempat. Satu di Pulau Bawean, dan satunya lagi di sebelah barat Masjid Agung Tuban, Desa Kutareja, Tuban. Kini kuburan itu dikitari tembok dengan tiga lapis halaman. Setiap halaman dibatasi tembok berpintu gerbang.
Salah satu wali yang menjadi guru Sunan Kalijaga adalah Sunan Bonang. Sunan Bonang adalah putra sulung Sunan Ampel. Sunan Drajat atau Syarifudin itu termasuk adiknya. Adik bungsunya yang bernama Dewi Sarah menikah dengan Sunan Kalijaga.
Sunan Bonang termasuk Wali Sanga yang sukses dalam menyiarkan agama Islam. Ajaran Sunan Bonang disampaikan dengan pesan-pesan simbolik yang harus ditafsirkan secara jernih. Ajaran Sunan Bonang termuat dalam Suluk Wujil. Wujil adalah seorang abdi kesayangan Prabu Brawijaya, raja Majapahit. Suluk Wujil berisi tentang ilmu kesempurnaan hidup dan mistik.
Dipun weruh ing urip sejati
lir kurungan raraga sadaya
becik den wruhi manuke
rusak yen sira tan wruh
hira Wujil salakuneki
iku mangsa dadia
yen sira yun weruh
becikana kang sarira
awismaa ing enggon punang asepi
sampun kacakrabawa

Aja doh dera ngulati kawi
kawi iku nyata ing sarira
punang rat wus aneng kene
kang minangka pandulu
tresna jati sariraneki
siyang dalu den awas
pandulu nireku
punapa sekeh pracihna
kang nyateng sarira sakabehe iki
saking sipat pakarya

Mapan rusak sajatinireki
dadine lawan kaarsanira
kang tan rusak den wruh mangke
sampurnaning pandulu
kang tan rusak anane iki
minangka tuduh ing Hyang
sing wruh ing Hyang iku
mangka sembah pujinira
mapan awis kang wruha ujar puniki
dahat sepi nugraha
(Suluk Wujil)

Terjemahan:

Hendaknya tahu hidup sejati
ibarat sangkar badan semua
baik mengetahui
rusak jika tidak tahu
hai segala lakumu
itu mustahil jadi
jika kamu hendak tahu
perbaikilah badanmu
tunggullah di tempat sepi
jangan sampai ketahuan

Jangan jauh memeriksa kawi
kawi itu nyata di badan
semua ada di sini
sebagai penglihatan
cinta sejati badan itu
siang malam waspada
penglihatan itu
sebagai barang tanda
yang nyata pada segalanya
dari sifat perilaku

Memang rusak badannya
jadinya dengan sekehendaknya
yang tak rusak diketahui
sebagai kesempurnaan mata
yang tak rusak keadaan itu
sebagai sembah semedi
memang jarang yang mengetahui
sangat sepi anugerah

9. Sunan Wadat Anyakra Wati
Sunan Bonang adalah anak kedua Sunan Ampel (Sunan yang menyebarkan Islam di daerah Ampel Denta, dekat Surabaya) dengan istrinya, Nyai Ageng Manila anak seorang Tumenggung dari Majapahit bernama Arya Teja yang ditugaskan di Tuban. Pada sumber lain disebutkan bahwa istrinya bernama Dewi Candrawati atau Nyai Malaka anak Raja Brawijaya. Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 M dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim, oleh Sunan Gunung Jati beliau diberi nana Syeh Masyaih yang Sempurna, karena tidak menikah beliau juga mendapat julukan Sunan Wadat Anyakra Wati.
Setelah dewasa beliau mengembangkan dan menyebarkan agama Islam di daerah Pati, Madura, Bawean, Tuban, dan Jawa Timur pada umumnya. Dalam menyiarkan agama Islam beliau menggunakan cara-cara yang tidak bertentangan dengan kebudayaan yang telah berkembang di masyarakat pada masa sebelum Islam masuk, seperti mengubah dan mengganti beberapa nama dan istilah Hindu dengan nama baru yang bersifat Islam atau berasal dari nama para Nabi dan mendirikan pondok pesantren. Dikisahkan pula beliau pernah belajar agama Islam ke Pasai bersama Raden Paku (Sunan Giri), beliau juga memberikan pendidikan agama Islam kepada Raden Patah, putera raja Brawijaya V dari Majapahit.
Selain dengan cara tersebut di atas beliau menggunakan alat musik tradisional Jawa yang dinamakan bonang (semacam gong kecil). Bonang itu dimainkan disertai dengan lagu-lagu bernafaskan ajaran Islam sehingga banyak orang tertarik untuk mendengar, kemudian memainkannya. Raden Maulana Makdum Ibrahim mengizinkan orang-orang yang datang ke masjid untuk memainkan alat musik tersebut dengan syarat membasuh kaki di kolam yang dibangun di depan masjid kemudian mengucapkan dua kallimat syahadat terlebih dahulu. Karena metode dakwahnya itulah Raden Maulana Makdum Ibrahim kemudian dikenal dengan nama Sunan Bonang. Selain menggunakan alat musik tradisional, beliau juga menggunakan media Sastra Jawa untuk menyebarkan Islam dengan cara menulis kitab yang disebut dengan Suluk Bonang atau Suluk Wujil. Wujil yang artinya cebol adalah seorang tokoh terpelajar Majapahit yang meninggalkan agama Hindu dan menjadi penganut Islam yang taat. Masyarakat tidak ada yang merasa terpaksa dalam mempelajari ajaran agama dan kemudian memeluk agama Islam. Keberhasilan Sunan Bonang dalam menyebarkan agama Islam ditunjukkan dengan membantu pendirian Masjid Agung Demak, juga membantu berdirinya kerajaan Islam Demak.

Tinggalan Sunan Bonang
Semasa hidupnya Sunan Bonang mengabdikan diri untuk menyiarkan ajaran dan agama Islam sebagaimana para pendahulunya. Mengenai tahun meninggalnya belum diketahui secara pasti, namun ada dugaan kira-kira pada pada tahun 1525 M. Oleh masyarakat saat ini ada empat makam yang diyakini sebagai makam Sunan Bonang.

Pertama dan yang paling populer adalah makamnya yang ada di Tuban di belakang Masjid Agung Tuban, berupa sebuah komplek yang terdiri dari tiga halaman yang tersusun ke belakang Utara-Selatan), dan dibatasi tembok keliling dengan empat gapura. Halaman I terdapat pintu berbentuk semar tinandu serta prasasti berhuruf arab berbunyi hijratun Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam dan 1238 sanatul alifi Muharam 1794/5. dan sebuah prasasti lagi berhuruf arab dan Jawa baru yang berbunyi sirrun ataukhidun syaikhu’lmuwakhidatu dan rasa tunggal pandhita wa…(tidak terbaca karena aus)
Prasasti tersebut menimbulkan beberapa pertanyaan, misalnya, apakah gapura itu ada hubungannya dengan Sunan Bonang yang menjadi fokus utama dari Kompleks Makam tersebut? Pertanyaan ini muncul karena Sunan Bonang diperkirakan meninggal pada abad XVI Masehi, padahal angka tahun 1794/5 Muharam sama dengan 1866 Masehi.
Untuk masuk ke halaman II juga harus melalui pintu berbentuk paduraksa, pada halaman ini hanya terdapat bangunan masjid yang pada bagian atas mihrab terdapat tulisan berupa penanggalan, yaitu tanggal 1 bulan Muharam tahun 1340 atau 1921 Masehi, dan tulisan berhuruf arab pada bagian pintu tengah yang berbunyi masjidu astana assayyidi syaikhi ibrahimal ‘arabi dan tidak ada makam.
Halaman III berada di belakang Masjid, terdapat dua buah pintu gerbang. Pintu gerbang utama halaman III ada di sebelah selatan, di belakangnya terdapat kelir yang dihiasi dengan keramik. Pada pintu ini terdapat prasasti berhuruf Jawa baru. Di halaman III terdapat cungkup makam beratap joglo yang dindingnya berhiaskan flora, fauna, geometris, serta tulisan jalma wihana kayuning sawit jagat yang menunjukkan angka tahun 1611 Jawa atau 1689 M. Angka tahun ini menunjukkan pembangunan cungkup tersebut.
Di dalam cungkup Makam Sunan Bonang ditutup dengan kelambu dan diapit oleh dua makan lain. Makam Sunan Bonang berbentuk persegi panjang dengan hiasan simbar pada setiap sudut, nisannya berbentuk lengkung dengan puncak datar. Pada halaman tersebut terdapat pula makam para kerabat Sunan Bonang. Kompleks makamnya dihiasi dengan piring-piring keramik berhiaskan suluran, bunga dan tulisan dalam huruf arab.
Dalam ROD 1915 No. 1536, hlm.147 disebutkan bahwa Komplek Makam Sunan bonang terdiri dari lima gapura yang disampingnya terdapat sebuah tempat air dan terdapat angka tahun 1293, tempat air ini sekarang terletak di samping gapura terakhir atau gapura ketiga. Jadi dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan gapura ke-3 adalah gapura ke-5. Sedangkan mengenai gapura yang lain yang mana dan dimana letaknya belum diketahui sampai saat ini.
Dari uraian di atas diduga bahwa ada pembangunan yang berkelanjutan, meskipun demikian siapa yang melakukan pembangunan belum diketahui. Pejabat yang memerintah pada masa itu adalah Pangeran Tjitrosoma VIII yaitu bupati Tuban yang berkuasa pada tahun 1850-1870.
Kedua berupa sebuah petilasan di sebuah bukit di pantai utara Jawa antara Rembang-Lasem yang disebut dengan mBonang; di kaki bukit terdapat batu yang konon terdapat makam Sunan Bonang tanpa cungkup dan nisan, ditandai dengan tanaman bunga melati, di atas bukit terdapat batu yang digunakan sebagai alas shalat – terdapat jejak kaki Sunan Bonang, konon karena kesaktiannya membuat batu itu melesak
Ketiga di Tambak Kramat, Pulau Bawean, terdapat dua makam Sunan Bonang di tepi pantai, sampai sekarang belum ada cara yang cukup masuk akal untuk menetapkan bahwa kedua makam tersebut adalah makam Sunan Bonang –tentang makam ini terdapat legenda sebagai berikut, konon setelah Sunan Bonang wafat, murid-murid di Tuban menghendaki agar Sunan Bonang dimakamkan di Tuban tetapi para santri Bawean berpendapat sebaliknya. Syahdan para murid dari Tuban menidurkan dengan mantra para penjaga makam, sehingga kemudian jenazah berhasil dibawa dan dimakamkan di dekat astana Masjid Tuban. Menurut Santri Bawean yang berhasil dibawa ke Tuban hanya kain kafannya, demikian pula menurut para murid dari Tuban yang berada di Bawean hanya kain kafannya.
Keempat, sementara orang percaya makam Sunan Bonang terdapat di Singkal, suatu daerah di tepi Sungai Brantas, Kediri. Di Singkal terdapat masjid yang konon didirikan oleh Sunan Bonang sehingga tempat tersebut menjadi pusat penyebaran Islam pada waktu itu.

Aktivitas Ziarah
Peninggalan Sunan Bonang selain berupa artefak tersebut di atas juga berupa tradisi ziarah berupa upacara untuk memperingati haul Sunan Bonang yang diselenggarakan setahun sekali pada bulan Selo = bulan Dzulqoidah (bulan Jawa) pada hari Rabu Paing atau Rabu Legi dalam bentuk pengajian di tiga tempat. Aktivitas lain adalah Penjamasan Bendhe Becak, yang dimaksudkan untuk mensucikan bendhe. Alat ini oleh masyarakat dipercaya bahwa dahulu digunakan oleh Sunan Bonang untuk memanggil masyarakat untuk berkumpul mendengarkan dakwah Sunan Bonang melalui tembang dan gending. Waktu pelaksanaan Penjamasan Bendhe Becak adalah pada Hari Raya Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah/Besar setelah shalat Ied, dan dimulai pada jam 08.00 WIB sampai menjelang shalat zuhur. Masyarakat yang mengikuti upacara tersebut berasal dari berbagai kalangan dan bagi masyarakat yang percaya mengikuti upacara tersebut akan memperlancar rezeki, usaha, jodoh, dapat digunakan sebagai obat, serta tolak bala

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar