Ahlan Wasahlan Sugeng Rawuh ....

"SELURUH DUNIA ADALAH PESANTRENKU" demikian fatwa Sunan Kalijaga, 600 tahun yang lalu. Sabda pangandika ini mengisyaratkan bahwa tugas dakwah adalah ke seluruh alam tanpa batas. Maka Pesantren Khusnul Khatimah, nyendikani dawuh ini dengan mengirim ratusan santri, kyai, ulama, ustadz ke seluruh penjuru dunia untuk terus mengabarkan ketauhidan Allah SWT.

Zakat Mal, Sumbangan, Infak dan Sedekah Anda
akan kami salurkan untuk membantu program dakwah ke pelosok-pelosok nusantara.

Sabtu, 22 Mei 2010

ZIARAH PARA SULTAN DEMAK

M. HARIWIJAYA

1. Perjuangan Raden Patah
Ketika Palembang diperintah oleh Arya Damar, negeri itu aman dan makmur. Banyak saudagar dari Jawa, Maluku, Malaka, Brunei, Tiongkok dan lain-lain, berdagang di kota itu. Mereka datang membawa barang dagangan. Gula dan tembakau dari Jawa Timur, rempah dari Maluku, barang-barang dari porselen dari Tiongkok dan lain-lain. mereka pulang ke negerinya membawa barang dagangan pula, seperti lada, rotan, damar, dan sebagainya (Senggana, 1952).
Arya Damar berputra dua orang, Raden Patah dan Raden Husein. Kedua pemuda itu tampan dan gagah, wjahnya bersinar-sinar. Sebenarnya Raden Patah adalah putra Prabu Brawijaya dengan putri Cina. Jadi Raden Huseinlah putra kandung Arya Damar. Betapapun, kasih sayang ayah kepada putra kandungnya itu sama saja dengan kasihnya kepada Raden Patah. Bahkan Raden Patah dicalonkan untuk menggantikannya memangku jabatan Adipati Anom.
Akan tetapi Raden Patah menolak. Ia tahu, bahwa Raden Husein yang berhak menggantikan ayahnya. Rahasia kelahirannya sendiri kebetulan dapat diketahui ketika kedua pengasuhnya membicaraakn asal-usulnya. Supaya jangan menjadi penghalang bagi Raden Husein, diputuskannya akan meninggalkan Palembang secara diam-diam.

2. Calon Adipati Anom
Demikianlah, suatu pagi kraton pun gempar. Raden Patah tiba-tiba menghilang. Seluruh penduduk kraton jadi sibuk. Calon Adipati Anom yang sangat dihormati oleh para punggawa ternyata telah melarikan diri malam-malam. Dicari kesana-kemari, ke segenap pelosok, namun tak juga bersua. Sementara itu matahari telah condong ke arah barat. Adipati mengadakan sidang darurat. Kepala rumah tangga kraton melaporkan tentang usaha yang telah dilakukan. Akhirnya Adipati menanyai Raden Husein, apakah ia tahu kemana Raden Patah pergi.
“Ayahanda, hamba tak tahu kemana kakanda pergi,” jawabnya.
“Tapi mengapa ia pergi? Kau tentu tahu,” desak sang ayah.
“Ampun ayahanda, hamba pun tak tahu.”
“Apa benar kau tak tahu?”
“Ampun ayahanda, anak tak berani berdusta.”
“Kau tentu cekcok dengan kakakmu!” hardik Adipati.
Kerapatan pun hening. Raden Husein tunduk, hampir tak kuasa menahan airmatanya. Kerongkongannya serasa tersumbat. Dengan gemetar ia menyembah, lalu mengundurkan diri. Hatinya sedih bukan kepalang. Telah ditinggalkan saudara, kini dimurkai pula oleh sang ayah. Ia berniat menyusul kakaknya dan berangkat malam itu juga. Kira-kira seperti dia juga Raden Patah meninggalkan kraton itu. menyelinap keluar dan terus menuju ke pasar. Ya, demikianlah Raden Patah ketika meloloskan diri. Berjalan tak tentu arah. Hanya menurutkan kehendak kaki dan hati. Sebentar berhenti melepaskan lelah, kemudian melanjutkan perjalanan kembali.
Setelah sampai di luar kota, Raden Patah pun mengaso agak lama. Duduklah ia di bawah sebatang pohon yang rindang di tepi sebuah danau. Ia menyandarkan badan di batang kayu itu dan melepaskan pandangan ke permukaan air yang meriak ditiup angin. Sebutir buah kayu jatuh, “Plung!” Air menyiprat naik dan di permukaan danau timbul lingkaran air, yang meluas menipis dan akhirnya menghilang.
Raden Patah asyik melihatnya. Di tepi danau banyak kembang teratai. Indah benar nampaknya. Sebentar terdengar kecipak ikan. Daunan kering melayang-layang jatuh ke permukaan air ditiup angin semilir. Bagi Raden Patah angin itu sangat menyegarkan. Dan karena amat lelah iapun tertidur, sebentar saja telah kedengaran dengkurnya. Belum lama ia tidur, Raden Husein sampai. Mula-mula tak tahu ia kakaknya ada disitu. Ia lagi lewat, ketika mendengar dengkur orang. Dikuakkannya semak dan ranting di depannya, lalu dilihatnya seorang pemuda tidur pulas. Setelah diperhatikan ternyata kakaknya sendiri. Bukan main girang hatinya.
“Enak benar tidur kakanda. Tentu ia amat letih,” pikirnya. Amat perlahan ia melangkah supaya tidak mengejutkan kakaknya. Akan tetapi tiba-tiba terpijak olehnya sebuah ranting kering. “Pletak, krosak!” Raden Patah terkejut bangun dan melihat adiknya berdiri di sampingnya. Ia segera melompat bangun dan merangkul Raden Husein. Lalu mereka berpeluk-pelukan dan saling tanya:
“Mengapa kakanda di sini?”
“Kenapa kau susul aku?”
“Kemudian hening sejurus. Seekor burung hinggap di sebuah ranting, berkicau sebentar, lalu terbang lagi. jatuh pula sebutir buah kayu kering ke air, “Plung!”
“Hai, kenapa kau susul aku?” tanya Raden Patah mengulangi.
“Ayahanda murka kepadaku,” jawab Raden Husein.
“Murka? Kenapa? Kau tentu suka membantah perintah ayah. Itu tak baik.”
“Bukan begitu. ayah murka karena kakanda meninggalkan kraton. Disangkanya kita cekcok.”
“O, begitu. tapi kini kau hendak ke mana?”
“Aku akan pergi ke Jawa.”
“Maksudku akan mengabdi kepada raja Majapahit.”
“Kalau begitu marilah kita pergi bersama-sama.”
“Tapi, … bukankah kanda akan dijadikan pengganti ayah?”
“Aku tak mau.”
“Kenapa?”
Raden Patah tak menjawab. Tak smapai hati ia mengatakan, bahwa ia sebenarnya bukan kakak Raden Husein.
“Bukankah kakanda jauh lebih tua?” kata Raden Husein.
“Sudahlah, aku tak mau. Karena itu aku meninggalkan kraton. Pendeknya, kalau kau benar-benar akan ke Jawa marilah kita mencari kapal.”
Lalu kedua pemuda itu bergegas pergi ke pelabuhan. Kebetulan ada seorang saudagar yang kapalnya telah siap akan berlayar ke Jawa. Dua bersaudara itu minta supaya diijinkan menumpang. Saudagar itu tidak keberatan, karena ia tidak tahu bahwa pemuda itu adalah putra Adipati yang sedang dicari-cari.

3. Mendarat Di Gresik
Demikianlah hari itu juga kapal berlayar dan setelah beberapa hari di lautan, sampailah mereka di Jawa Timur. Raden Patah dan Raden Husein mendarat di Gresik setelah mengucapkan terima kasih kepada saudagar tersebut. Ketika itu di Gresik sedang berkembang agama Islam. Maulana Malik Ibrahim yang mula-mula menjadi mubaligh di situ. Setelah beliau wafat, digantikan oleh Raden Rahmat, yang berkedudukan di Ampel Denta dan karena itu terkenal sebagai Sunan Ampel.
Telah banyak orang yang beragama Budha masuk Islam. Agama Islam semakin berkembang, berkat kegiatan dan kebijaksanaan Sunan Ampel. Masjid peninggalan Malik Ibrahim dipelihara dan diperindah. Pesantren Sunan Ampel makin maju. Namanya termasyur sampai ke Palembang. Raden Patah ingin mengabdi kepadanya, lalu mengajak adiknya. Walaupun Raden Husein sebenarnya ingin mengabdi kepada raja Majapahit, tetapi kakaknya tidak ditolaknya. Kedua pemuda itupun pergi menghadap. Mereka diterima oleh seoragn menteri dan disuruh menunggu di serambi masjid. Tak lama kemudian Sunan Ampel pun keluarlah bertanya:
“Wahai orang muda, siapakah kalian dan apakah maksudmu kemari?”
“Kanjeng Sunan, kami dari Palembang. Nama hamba Patah dan ini adik hamba Husein. Kami ingin mempelajari agama Islam.”
“Mempelajari agama tidak gampang. Hanya mereka yang sungguh-sungguh akan dapat memetik buahnya.”
Pendek kata pengabdian Raden Patah dan Raden Husein diterima baik. Ajaran baru merasuki jiwanya dan mereka pun menjadi penganut Islam yang taat.
Bagaimana juga, Raden Husein tak dapat melupakan niatnya semula akan mengabdi kepada raja Majapahit. Setelah berunding dengan Raden Patah dan Sunan Ampel, ia pun diijinkan pergi ke Majapahit menghadap Prabu Brawijaya. Pengabdiannya diterima dan berkat kecakapannya ia kemudian diangkat menjadi Adipati Terung.
Sementara itu Raden Patah menjadi murid yang rajin dan sangat disayangi oleh Sunan Ampel. Ia cerdas, giat, dan sopan santun dan bercita-cita besar. Oleh Sunan ia dinikahkan dengan seorang cucunya dan disuruh membuka setumpak hutan untuk dijadikan kampung. Kampung baru itu diberi nama Bintoro dan diberi sejumlah pasukan bersenjata. Sejak itu Raden Patah bergelar Adipati Bintoro. Ia pandai memerintah, adil dan bijaksana. Lama-lama prajurit Majapahit tertarik oleh ajaran Islam, tanpa dipaksa. Pengaruh agama baru itu makin meluas dan mendalam. Sang Adipati makin disegani dan dipatuhi, dan akhirnya diangkat menjadi Sultan oleh rakyatnya.
Suatu hari Adipati Terung datang mengunjungi Sultan Bintra untuk menyampaikan titah Sang Prabu, supaya segera menghadap ke Majapahit. Sultan Bintoro menolak dan sebaiknya menanyakan tentang perselisihan sang Prabu dengan Sunan Giri dan tentang para Adipati yang telah melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.
Adipati Terung terkejut, lalu bertanya, “Apa yang sebenarnya kakanda maksud?”
“Aku ingin sang prabu diganti,” jawab Sultan Bintoro.
Sementara itu kedengaran suara gemuruh yang makin mendekat. Tak lama kemudian kelihatanlah tentara dari Giri, Gresik dan Tuban, amat banyaknya.
“Ah, kini aku mengerti,” kata adipati Terung.
“Ya, itulah jawabanku atas panggilan Sang Prabu,” kata Sultan Bintoro.
Ketika itu alun-alun telah penuh sesak oleh prajurit yang berangkat ke Majapahit. Mereka lagi menunggu perintah. Berita tentang ini telah sampai pula ke Majapahit. Ketika angkatan perang Bintoro memasuki ibukota Majapahit, Sang Prabu serta seisi kraton telah menyingkirkan diri. Angkatan perang Bintoro menduduki kraton tanpa perlawanan.
Sejak itu kekuasaan Majapahit pun lenyap sama sekali. Kraton dipindahkan ke Demak dan sultan Bintoro, yakni Raden Patah menjadi raja dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar Al Fatah.
Menurut babad, Raden Patah, yang nama kecil¬nya Pangeran Jimbun, adalah putra raja Majapahit, Kertabumi Brawijaya V (memerimtah 14(i8-147S). Ibunya, Putri Campa, seorang muslimah. Sebagai¬mana ibunya, Raden Patah menganut agama Islam. Pada masa mudanya Raden Patah memperoleh pendidikan yang berlatarbelakang kebangsawanan dan politik. Dua puluh tahun lamanya ia hidup di istana adipati Majapahit penguasa Palembang, Aria Damar. Sesudah dewasa ia kembali ke Maja¬pahit.
Raden Patah dilahirkan di saat Majapahit se¬dang mengalami situasi yang tidak menentu setelah Hayam Wuruk meninggal. Sejak itu terjadi pere¬butan kekuasaan antara Wikramawardhana, me¬nantu Hayam Wuruk yang memperoleh limpahan mahkota Majapahit, dan Wirabhumi, putra dari salah seorang selir Hayam Wuruk. Keadaan ter¬sebut terus berlangsung hingga masa pemerintahan Brawijaya V, yang kekuasaannya selalu diincar oleh Girindra Wardhana yang berkuasa di Keling.
Setelah berumur 20 tahun, Raden Patah dikirim kepada Raden Rahmat (Sunan Ampel) untuk memperoleh pendidikan agama. Ia mendalami agama Islam bersama dengan pemuda-pemuda lainnya, seperti Raden Paku (Sunan Giri) dan putra Raden Rahmat, Maulana Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Kosim (Sunan Drajat).

4. Nyi Ageng Maloka
Setelah dianggap mampu oleh Raden Rahmat, Raden Patah dikawinkan dengan cucunya, Nyi Ageng Maloka. Selanjutnya ia dipercaya untuk menjadi mubalig dan membuat pemukiman masya¬rakat muslim di Bintoro, yang kemudian menjadi Demak, dengan diiringi oleh sultan Palemhang, Aryadila, beserta 200 tentaranya. Ia memusatkan kegiatannya di Bintaro karena daerah tersebut di¬rencanakan oleh Wali Songo sebagai pusat keraja¬an Islam di Jawa. Di daerah itu ia mendirikan pon¬dok pesantren. Penyiaran agama Islam di daerah itu sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahu¬an. Perlahan-lahan daerah tersehut menjadi pusat keramaian dan perdagangan. Para wali bersepakat mengangkatnya sebagai sultan Demak dengan gelar Sultan Alam Akbar al-Fatah. Kemudian ia me¬lepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Ia meme¬rintah sampai tahun 1518 dan Demak menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa sejak pemerin¬tahannya. Palembang menjadi kawah candradimuka bagi pendiri Kraton Demak.
Kasultanan Demak Bintoro yang didirikan dengan cara penuh kedamaian itu, tentu saja sesuai dengan visi-misi Jimly Asshiddiqie yang menghendaki adanya cita-cita supremasi hukum. Dalam masa pemerintahannya, Raden Patah te¬lah berhasil dalam berbagai bidang, di antaranya (1) perluasan dan pertahanan kerajaan, (2) pe¬ngembangan Islam dan pengamalannya, dan (3) sistem musyawarah dan kerja sama ulama dan umara.
Keberhasilan Raden Patah dalam perluasan dan pertahanan kerajaan hisa dilihat ketika ia dapat menaklukkan Girindra Wardhana yang merebut tahta Majapahit (tahun 1478) dan dapat mengam¬bil alih kekuasaan Majapahit. Selain itu ia juga mengadakan perlawanan terhadap Portugis, yang telah menduduki Malaka dan ingin mengganggu Demak. Ia mengutus pasukan di bawah pimpinan putranya, Adipati Muhammad Yunus atau Pati Unus (1511), tetapi gagal. Perjuangan Raden Patah kemudian dilanjutkan oleh Pati Unus yang meng¬gantikan ayahnya pada tahun 1518.
Dalam bidang pengamalan Islam dan pengembangannya, Raden Patah telah mencoba secara perlahan-lahan dan bijaksana untuk menerapkan hukum Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Di samping itu, ia juga membangun keraton dan mendirikan masjid (1489) yang sampai sekarang ter¬kenal dengan Masjid Agung Demak. Pendirian masjid itu dibantu sepenuhnya oleh para wali atas ban¬tuan daerah-daerah lainnya yang sudah lebih da¬hulu menganut Islam (seperti Jepara, Tuban, dan Gresik), Raden Patah, sebagai adipati Islam di De¬mak, secara terang-terangan memutuskan ikatan dengan Majapahit, yang pada masa itu sedang ber¬ada di ujung kemunduran. Ia mendirikan kerajaan Islam dengan Demak sebagai ibu kota.
Tome Pires, seorang pengelana Portugis pada masa itu, menggambarkan bahwa peralihan ke¬kuasaan politik ke tangan orang Islam telah terjadi sejak akhir abad ke-15, baik karena para bang¬sawan Jawa memeluk agama Islam secara sukarela maupun karena pengaruh orang-orang asing dari berbagai bangsa Islam, yang membuat pemukiman di bandar-bandar pantai utara Pulau Jawa, misal¬nya di Tuban, Demak, dan Jepara.
Babad pada masa sebelum munculnya raja Ma¬taram pertama dipenuhi dengan legenda yang menghubungkan munculnya Kerajaan Demak de¬ngan runtuhnya Majapahit pra-Islam dan dengan Raden Patah sebagai pahlawan besarnya. Ia memindahkan perangkat upacara kerajaan dan pu¬saka Majapahit ke Demak sebagai lambang tetap berlangsungnya kesatuan kerajaan besar yang tua tersebut, tetapi dalam bentuk baru, yaitu Kesul¬tanan Demak.
Menurut catatan-catatan Tome Pires maupun buku-buku sejarah Jawa Barat, Kesultanan Demak secara berturut-turut dikuasai tiga raja, yakni: Raden Patah sebagai raja pertama; Pati Unus atau Pati Yunus (dalam versi lain disebut Pate Rodin, Jr., Cucu Pangeran Palembang Anom, Prabu Anom, Arya Sumangsang, dan Pangeran Sabrang Lor) sebagai raja kedua, menggantikan ayahnya yang wafat pada tahun 1518; dan Sultan Trenggono (dalam versi lain disebut Ki Mas Palembang, Pate Rodin, Jr., dan Molana Trenggono), saudara Pati Unus, sebagai raja ketiga (1524-1546).
Di antara ketiga raja Demak lersebut, Sultan Trenggono dikatakan mengantar kesultanan ter¬sebut ke masa kejayaannya. Pada waktu itu daerah kekuasaan Demak meliputi seluruh Jawa serta bagian-bagian besar pulau-pulau lainnya. Peda¬gang Islam di Banten dengan bantuan Demak pada tahun 1527 berhasil meruntuhkan Kerajaan Pa¬jajaran di Jawa Barat. Dengan jatuhnya Pajajaran, kesultanan Islam tersebut dapat melakukan kontrol atas Selat Sunda. Lampung sebagai sumber lada di seberang selat tersebut dikuasai dan penduduknya diislamkan.
Menurut sebuah sumber, Sunan Bonang meng¬gerakkan hati raja ketiga tersebut untuk berkun¬jung kepada Sunan Gunungjati, seorang wali di Gunungjati. Sunan itulah yang menganugerahi Trenggono gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin. Se¬dang gelar entperador (maharaja) yang diberikan pada tahun 1546 oleh Mender Pinto, seorang pengarang Portugis, adalah cerminan betapa tinggi nilai gelar Islam tersebut.
Ada sumber yang menyebutkan bahwa gelar Islam seperti itu sebelumnya telah diberikan kepa¬da Raden Patah, yaitu ketika ia berhasil menga¬lahkan Majapahit yang diperintah oleh Brawijaya, ayahnya sendiri. Sebagai maharaja seluruh Jawa, Raden Patah memperoleh gelar Senapati Jimbun Ngabdur Rahman Panembahan Palembang Sayyi¬din Panata Gama.
Ada sejarawan yang menyimpulkan bahwa ta¬hun 1535 Majapahit sudah jatuh, meskipun ada juga yang berpendapat bahwa kejatuhan itu terjadi pada tahun Jawa 1400 (1478), bahkan lebih dini dari itu. Yang pasti, pada tahun-tahun tersebut bangkit sebuah kerajaan Islam Demak, menggeser kejayaan Majapahit dalam sejarah.
Menurut sebuah laporan Portugis, di antara raja-raja yang telah memeluk Islam, raja Kesul¬tanan Demaklah yang paling gigih dan terus-me¬nerus memerangi orang Portugis, yang dipandang sebagai orang kafir.
Demak sebagai ibu kota kerajaan Islam men¬jadikan dirinya sebagai tonggak perjuangan untuk menyebarkan agama Islam pada dasawarsa-dasa¬warsa pertama abad ke-16. Untuk itu, Kesultanan Demak meluaskan pengaruhnya bukan hanya ke wilayah barat Pulau Jawa, melainkan juga ke wila¬yah timur pulau tersebut, bahkan juga ke daerah¬-daerah luar Jawa. Pada tahun 1527 tentara Demak menguasai Tuban, setahun kemudian menduduki Wirosari (Purwodadi, Jateng), tahun berikutnya menyerang Gagelang (Madiun sekarang); selanjut¬nya Mendangkungan (sekarang daerah Blora, 1530), Surabaya (1531), Pasuruan (153$), Lamong¬an (1542), wilayah Gunung Penanggungan (1543), Mamenang (nama kuno Kerajaan Kediri, 1544), dan Sengguruh (1545).
Pengaruh kesultanan ini sampai ke Kesultanan Banjar di Kalimantan. Sebuah sumber menyebut¬kan bahwa calon pengganti raja Banjar pernah me¬minta agar sultan Demak mengirimkan tentara guna menengahi masalah pergantian raja Banjar. Calon pewaris mahkota yang didukung oleh rakyat Jawa pun masuk Islam dan oleh seorang ulama bangsa Arab pewaris itu diberi nama Islam. Ter¬sebut pula bahwa selama masa Kesultanan Demak, raja Banjar setiap tahun mengirim upeti kepada sultan Demak. Tradisi ini berhenti ketika kekuasa¬an beralih kepada raja Pajang di Jawa Tengah.
Pengaruh Kesultanan Demak di Banjar mem¬buka peluang untuk pengembangan Islam di ka¬wasan tersebut. Para sultan setempat menjadi pelopor utama berkembang suburnya Islam di Ka¬limantan. Pada masa-masa selanjutnya Kerajaan Kotawaringin menjadi Islam (1620), demikian pula Kesultanan Kutai (1700); sejak itu sampai Indonesia merdeka Kesultanan Kutai diperintah oleh tujuh raja Islam bergelar sultan.

5. Masjid Agung Demak
Masjid Agung Demak sebagai lambang ke¬kuasaan Islam adalah sisi lain dari Kesultanan De¬mak, yang kaya dengan legenda. Para wali di Jawa konon berpusat di masjid itu, yang didirikan oleh Wali Songo dan dianggap keramat. Masjid itulah tempat mereka untuk bertukar pikiran tentang soal-soal keagamaan, khususnya tentang mistik. Su¬nan Kalijaga disebut sebagai yang berjasa mem¬betulkan dan menetapkan arah kiblat masjid ter¬sebut.
Masjid Agung Demak merupakan masjid tertua di Pulau Jawa. Menurut sebuah versi, masjid itu didirikan pada tahun 1388, tetapi menurut versi lainnya didirikan pada tahun-tahun sesudah tahun tersebut. Masjid tersebut telah mempengaruhi alam pi¬kiran orang Jawa selama berabad-abad, menjadi pusat kegiatan ibadat dan keagamaan, pusat ke¬rajaan Islam pertama di Jawa. Menurut riwayat, baju ontokusumo, yang sampai sekarang masih tersimpan di makam Sunan Ka¬lijaga di Kadilangu, Demak, adalah anugerah Nabi Besar Muhammad SAW yang dikirim secara gaib ke atas mimbar masjid tersebut sesudah para wali melakukan salat subuh sebagai tanda syukur atas selesainya masjid tersebut. Berdasarkan permin¬taan Sunan Kalijaga sebelum wafatnya, upacara pencucian baju tersebut dilakukan setiap bulan Be¬sar (tahun Jawa) atau 10 Zulhijah. Setiap tahun pada bulan tersebut masyarakat dari berbagai pen¬juru berbondong-bondong untuk menyaksikan upacara itu, yang kini dikenal dengan Grebeg Be¬sar. Penting dicatat ucapan Susuhunan Paku Bu¬wono I di Kartasura pada tahun 1708, bahwa Amangkurat III, pendahulunya yang dibuang kom¬peni ke Sri Lanka, membawa semua pusaka keraja¬an; tetapi Masjid Demak dan makam di Kadilangu merupakan "pusaka" dan tidak boleh hilang.
Setelah Sultan Trenggono mengantar Kesultan¬an Demak ke masa kejayaannya, keturunan keluar¬ga kesultanan tersebut silih berganti berkuasa hing¬ga munculnya Kesultanan Pajang, dengan raja pertama Adiwijoyo, yang lebih terkenal dengan na¬ma Joko Tingkir, menantu Sultan Trenggono sen¬diri. Sebuah masjid ter¬tua di Indonesia; masjid agung kerajaan Islam per¬tama di Jawa; terletak di alun-alun kota Demak, 22 km di sebelah timur laut Semarang, Jawa Tengah. Menurut legenda, masjid ini didirikan oleh Wali Songo secara bersama-sama dalam Tempo satu malam. Babad Demak menunjukkan bahwa masjid ini didirikan pada tahun Saka 1399 (1477) yang ditandai oleh candrasengkala "Lawang Trus Gunaningjanmi, “ sedang pada gambar bulus yang berada di mihrab masjid ini terdapat lambang ta¬hun Saka 1401 yang menunjukkan bahwa masjid ini berdiri tahun 1479.
Bangunan yang terbuat dari kayu jati ini ber¬ukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi ber¬ukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh empat buah tiang kayu raksasa (saka guru), yang dibuat oleh empat wali di antara Wali Songo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, se¬belah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, se¬belah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut, yang tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal), merupakan sumbangan dari Sunan Kalijaga. Se¬rambinya dengan delapan buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adi pati Yunus (Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor), sultan Demak ke-2 (1518-1521), pada tahun 1520. Dalam proses pembangunannya, Sunan Kalijaga memegang peranan yang amat penting. Wali inilah yang berjasa membetulkan arah kiblat. Menurut riwayat, Sunan Kalijaga juga memperoleh wasiat antakusuma, yaitu sebuah bungkusan yang berisi baju 'hadiah' dari Nabi Muhammad SAW, yang jatuh dari langit di hadapan para wali yang sedang bermusyawarah di dalam masjid itu.
Bangunan Masjid Agung Demak mempunyai unsur kebudayaan Hindu Jawa yang bentuk ba¬ngunannya cenderung mirip candi yang runcing ke atas, seperti nasi tumpeng. Motif-motif hiasan yang terdapat di dalamnya tampaknya punya hubungan dengan zaman Kerajaan Majapahit. Ciri lain yang kelihatan dari bangunan masjid ini ialah corak mas¬jid 'kuburan' yang diliputi oleh suasana mistik. Atapnya yang bersusun tiga tingkat, melambang¬kan Islam, iman, dan ihsan. Jumlah pintunya (lima) melambangkan kelima rukun Islam, sedang jen¬delanya yang berjumlah enam buah melambangkan keenam rukun iman.

6. Pusat Kegiatan Islam
Pada awalnya, Masjid Agung Demak menjadi pusat kegiatan kerajaan Islam pertama di Jawa Te¬ngah, bahkan di seluruh Pulau Jawa. Bangunan ini dijadikan markas para wali untuk bermusyawarah guna mengadakan sekaten. Pada upacara ini di¬bunyikanlah gamelan dan rebana di depan serambi, sehingga masyarakat berduyun-duyun mengeru¬muni dan memenuhi depan gapura. Para wali lalu mengadakan tablig, dan rakyat pun secara sukarela dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat. Cepatnya kota Demak menjadi pusat perda¬gangan dan lalu-lintas serta pusat kegiatan peng¬islaman tidak lepas dari andil Masjid Agung De¬mak. Dari sinilah para wali dan raja Kesultanan Demak mengadakan ekspansi yang dibarengi oleh kegiatan dakwah islamiah ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Dalam kerangka ini pula¬lah masjid tua di kota Demak ini merupakan lam¬bang kerajaan Islam.
Jemaah Masjid Agung Demak merupakan ge¬nerasi awal dalam proses Islamisasi di Jawa. Para raja memberikan kuasa kepada seorang imam untuk mengasuh dan membimbing masyarakat da¬lam beribadah, terutama salat. Kemudian, ke¬kuasaan rohani yang diberikan kepada imam itu meluas pula ke lapangan kehidupan kemasyara¬katan. Dari sinilah awal-mula pemakaian istilah "penghulu" di Jawa, yang menandakan bahwa ke¬kuasaan imam tidak lagi terbatas untuk kegiatan keagamaan semata-mata.
Menurut Hikayat Hasanuddin, Masjid Agung Demak pernah mempunyai lima orang imam yang amat berjasa dalam proses Islamisasi di Jawa. Imam pertama adalah Pangeran Bonang (Sunan Bonang), yang memangku jabatan itu atas permin¬taan Pangeran Ratu di Demak. Setelah meletakkan jabatan, imam ini melakukan perjalanan sambil berdakwah, antara lain ke Surabaya, Tuban, dan Ampel Denta.
Imam berikutnya ialah Ibrahim, seorang alim yang dikenal pula sebagai Pangeran Karang Ke¬muning. Menjelang akhir hayatnya ia melawat ke Surabaya. Pengganti Ibrahim ialah Makhdum Sampang, yang ayahnya berasal dari Majapahit. Pada mula¬nya ia tinggal di Undung (dekat Kudus sekarang), kemudian ke Surabaya, Tuban, serta terakhir men¬jadi imam di Demak. Ia memenuhi panggilan tugas sebagai imam atas permintaan Pangeran Ratu, di samping ia sendiri amat keberatan bekerja di ba¬wah kekuasaan adipati Majapahit yang masih kafir. Setelah wafat ia dimakamkan di sebelah barat mas¬jid itu.
Imam keempat ialah Penghulu Rahmatullah da¬ri Undung, yang menjadi imam atas permintaan Adipati Sabrang Lor (sultan kedua Demak). Imam ini gugur dalam salah satu pertempuran dan di¬makamkan di samping Masjid Agung Demak. Penghulu Rahmatullah digantikan oleh Pange¬ran Kudus yang dikenal pula dengan Pandita Rab¬bani. Imam inilah yang berhasil mendirikan kota Kudus (Quds, kota suci) sesudah melakukan tugas ketentaraan melawan Majapahit. Imam ini dikenal sebagai seorang yang memegang andil besar dalam merebut Majapahit.
Masjid Agung Demak pernah ditawarkan se¬bagai tempat untuk mengucapkan sumpah setia ra¬ja Mataram, Sunan Amangkurat II (Adipati Anom), dengan kompeni pada tahun 1688. Pada tahun 1710, bangunan masjid ini direhabilitasi atas perintah raja Mataram berikut, Paku Buwono I (Sunan Puger), dengan alasan bahwa tempat ini merupakan 'pusaka mutlak' yang tidak boleh hilang.
Di zaman Indonesia merdeka, Masjid Agung Demak telah beberapa kali dipugar. Tahun 1965 pemugarannya dimulai dengan memperhatikan ke¬indahan dari depan, sehingga bangunan lain yang ada di sana dipindahkan ke tempat lain. Tahun 1966 dibangun pagar depan dengan menggunakan ornamen batu; instalasi listrik dipasang, sedang Tratag rahmat (ruang pertemuan semacam pendo¬po) yang bukan merupakan bangunan asli dibong¬kar. Tahun berikutnya diperbarui tempat wudu sebelah kiri dan kanan. Pada tahun 1969 dibongkar bangunan bagian serambi serta dibangun kembali. Seterusnya tahun 1971, 1973, 1974, dan 1975 di¬adakan berbagai perbaikan. Tahun 1980-an, diada¬kan pula pemugaran dengan mempertahankan bentuk asli. Peresmian sesudah pemugaran dilaku¬kan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 21 Maret 1987. Negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) menetapkan Masjid Demak sebagai peninggalan sejarah Islam. Rahmah El-Yunusiyyah memang sangat giat dan bersemangat sekali untuk mengembangkan sekolah yang didirikannya ini. Pada tahun 1930, untuk meningkatkan kemampuan murid madrasah yang terdiri dari tujuh kelas itu, ia mendirikan tingkat menengah, dengan tujuan untuk memberikan pe¬lajaran dan pendidikan yang lebih tinggi kepada murid-murid, terutama supaya mereka mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam mengajar. Pada tahun 1937, sebuah sekolah guru untuk putri pun didirikan. Pada tahun-tahun 1930-an itu, perguru¬an ini mengalami peningkatan. Murid-muridnya te¬rus bertambah banyak. Mereka bcrasal dari Yogya¬karta, Lombok, Ternate, Halmahera, Sulawesi, dan Malaya, di samping berasal dari Sumatra sendiri. Pada tahun 1935, Diniyah Puteri mendirikan sebuah cabangnya di Jakarta yang membina tiga buah sekolah, yaitu di Gang Nangka Kwitang, di Kebon Kacang Tanah Abang, dan di Rawasari.
Dalam masa perjuangan mempertahankan ke¬merdekaan Republik Indonesia, proses pendidikan perguruan ini sempat terhenti. Setelah Belanda menduduki Padangpanjang pada agresi kedua, ge¬dung perguruan diniyah ini berfungsi sebagai Ru¬mah Sakit Umum khusus untuk pasien wanita. Gedung ini baru kembali berfungsi sebagai lem¬baga pendidikan setelah penyerahan kedaulatan. Sejak itu Madrasah Diniyah Puteri ini kembali ber¬usaha meneruskan cita-citanya.
Kemajuan-kemajuan yang dicapainya sebelum dan sesudah kemerdekaan mengundang banyak pemerhati pendidikan ke lembaga ini, seperti dari Malaysia, Singapura, dan negara-negara Timur Tengah, di samping dari dalam negeri sendiri. Pada tahun 1955, Rektor Universitas al-Azhar Cairo mengadakan kunjungan khusus ke perguruan ini. Syekh al-Azhar sangat kagum melihat usaha besar ini dan mengakui secara terus terang bahwa Mesir dengan al-Azharnya yang sudah berusia seribu tahun itu masih ketinggalan. Lembaga pendidikan khusus putri waktu itu belum ada di Mesir, apalagi di negeri-negeri Arab yang lain. Pada tahun 1957, Rahmah El-Yunusiyyah diundang ke al-Azhar dan mendapat gelar kehormatan keagamaan yang ter¬tinggi dari Rapat Senat Guru Besar a1-Azhar, yaitu Syaikhah, gelar yang belum pernah dianugerahkan sebelumnya. Karena keberhasilannya, Pemerintah Mesir memberikan beasiswa bagi lulusan madrasah ini untuk melanjut ke al-Azhar, yaitu pada tahun 1950, 1965, dan 1972. Pada tahun 1969, pemerintah Kuwait melakukan hal yang sama di salah satu lem¬baga pendidikan tinggi di Kuwait.
Dari dalam negeri sendiri, per6atian dan peng¬hargaan pemerintah juga besar. Pada tahun 1969, pemerintah melalui Departemen Agama RI me¬ngeluarkan surat keputusan yang mempersamakan ijazah Fakultas Tarbiyah dan Dakwah perguruan itu dengan ijazah IAIN. Meskipun demikian, apa yang dicita-citakan oleh pendiri perguruan ini be¬lum lagi tercapai, dan oleh karena itu, perkembang¬an perguruan ini masih terus berlanjut. Rahmah El-Yunusiyyah menginginkan agar perguruan ini juga mendirikan Universitas Islam khusus untuk wanita dengan lima fakultas, yaitu Adab, Dakwah, Syari'ah, Kesehatan, dan Perindustrian. Sepeninggal Rahmah EI-Yunusiyyah, pimpinan Diniyah Puteri dipegang oleh Dra. Hajjah Isnani¬yah Saleh. Pada tahun 1990, Diniyah Puteri beker¬jasama dengan Pondok Modem Gontor mem¬buka Diniyah Putera. Setelah Isnaniyah Saleh meninggal (8 Agustus 1990), lembaga ini dipimpin oleb H Husainah Nurdin oleh karena orang Palembang juga mempunyai rasa handarbeni atas Kesultanan Demak Bintara.

7. Putri Campa
Raden Patah merupakan raja pertama Kerajaan Demak. Menurut Babad Tanah Jawi Raden Patah adalah putra Brawijaya raja Majapahit yang terakhir dari istrinya yang berasal dari Cina yaitu Putri Campa. Pada saat istrinya sedang mengandung diserahkan kepada Arya Damar Adipati Palembang. Setelah dewasa kembali ke Jawa dan berguru kepada Sunan Ampel di Ngampel Denta yang kemudian diambil menjadi menantu. Raden Patah oleh Sunan Ampel diperintahkan membuka hutan Bintara di daerah Glagahwangi untuk dijadikan perkampungan dan menyebarkan agama Islam. Perkampungan tersebut akhirnya berkembang pesat menjadi kota. Oleh Raja Brawijaya Raden Patah diangkat menjadi Adipati di Demak.
Salah satu sebab runtuhnya kerajaan Majapahit menurut Babad yang ditandai dengan sengkalan “sirna ilang kertaning bhumi” yang diartikan sebagai tahun 1400 Saka atau tahun 1478 M, merupakan akibat serangan dari Demak yang dipimpin oleh Raden Patah. Setelah Majapahit runtuh, Sunan Ngampel Denta yang merupakan Sunan tertua di antara para wali menunjuk Raden Patah menjadi Raja Demak sebagai pengganti ayahnya. Akan tetapi untuk menghilangkan atau memusnahkan bekas kekafiran kerajaan Majapahit Sunan Giri ditunjuk untuk memegang pimpinan tertinggi selama 40 hari. Raden Patah dinobatkan menjadi raja Demak yang pertama dengan gelar Senopati Jimbun Ngabdur Rahman Panembahan Palembang Sayidin Panata Gama.
Kerajaan Demak merupakan kerajaan bercorak Islam pertama di Jawa yang tidak hanya menurunkan raja-raja Islam berikutnya, akan tetapi juga mendorong tumbuh dan berkembangnya ajaran agama Islam yang di sebarkan oleh para wali. Munculnya kerajaan Demak merupakan awal masuknya pengaruh agama Islam dalam bidang politik dan pemerintahan di Jawa. Pusat kerajaan Demak terletak di daerah Bintoro di muara sungai Demak, yaitu antara Bergota dan Jepara. Bergota merupakan sebuah pelabuhan yang pada masa Mataram Kuna pernah menjadi pelabuhan ekspor bagi Mataram Kuna. Sedangkan Jepara berkembang menjadi pelabuhan penting bagi kerajaan Demak.

8. Bukti-Bukti Arkeologis
Sumber-sumber historis menunjukkan bahwa Demak merupakan Kerajaan Islam yang cukup besar pengaruhnya di kawasan Nusantara. Oleh karena itu tentunya memiliki ibu kota kerajaan sebagai tempat tinggal raja dan para pejabat dalam rangka menjalankan roda pemerintahan. Akan tetapi sampai saat ini belum ditemukan bukti-bukti arkeologis yang bersifat artefaktul yang dapat menunjukkan letak bekas ibu kota kerajaan. Satu-satunya peninggalan bangunan yang dapat ditemukan kembali adalah Masjid Agung yang berdiri tegak di pusat korta Kabupaten Demak.

Menurut Babad Demak, Masjid Demak dibangun pada masa pemerintahan Raden Patah yaitu pada tahun 1399 Saka atau 1477 M (“Lawang Trus Gunaning Janma“). Setelah dua tahun sejak peletakan batu pertama Masjid Agung Demak selesai dibangun, yaitu pada tahun 1401 Saka atau 1479 M yang dilambangkan dengan sengkalan bergambar kura-kura yang terdapat di Mihrab Masjid Agung Demak. Selain itu, juga terdapat sengkalan memet dan prasasti yang mungkin juga berhubungan dengan tahun pendirian Masjid Agung Demak, yaitu Hiasan Lawang Bledhek yang terdapat pada pintu utama masjid yang ditafsirkan berbunyi “ naga mulat salira wani “ yang berarti tahun 1388 Saka atau 1466 M. Prasasti yang berhubungan dengan pendirian masjid terdapat di atas pintu masjid bagian dalam berhuruf dan berbahasa Jawa yang berbunyi “ handegipun masjid yasanipun para wali nalika dinten Kemis Kliwon malem Jumu’ah Legi tanggal 1 Dulkaidah tahun 1428 “ Prasasti ini ditafsirkan swebagai angka tahun peresmian Masjid Agung Demak yaitu tahun 1428 Saka atau 1506 M. Raden Patah meninggal pada tahun 1518 M dan dimakamkan di dekat Masjid Agung Demak. Pengganti Raden Patah adalah putranya yang bernama Pati Unus, akan tetapi 3 tahun kemudian diapun meningggal dan digantikan oleh adiknya yang bernama Pangeran Trenggono yang memerintah sampai tahun 1546 M.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar