Ahlan Wasahlan Sugeng Rawuh ....

"SELURUH DUNIA ADALAH PESANTRENKU" demikian fatwa Sunan Kalijaga, 600 tahun yang lalu. Sabda pangandika ini mengisyaratkan bahwa tugas dakwah adalah ke seluruh alam tanpa batas. Maka Pesantren Khusnul Khatimah, nyendikani dawuh ini dengan mengirim ratusan santri, kyai, ulama, ustadz ke seluruh penjuru dunia untuk terus mengabarkan ketauhidan Allah SWT.

Zakat Mal, Sumbangan, Infak dan Sedekah Anda
akan kami salurkan untuk membantu program dakwah ke pelosok-pelosok nusantara.

Sabtu, 22 Mei 2010

WALI GUNUNG JATI


1. Asal Usul Sunan Gunung Jati
Penobatan Sultan Demak menjadi sultan itu diberitakan dalam Hikayat Hasanuddin di Banten. Pangeran Bonang kiranya telah menggerakkan hati Sultan Demak untuk mengunjungi wali di Gunung Jati, diberi nama Syekh Nurullah. Pada kesempatan ini Nurullah menganugerahkan gelar dan nama Sultan Ahmad Abdul-Arifin kepada raja. Gelar Raja Agung diberikan kepada Sultan Demak pada 1546 itu merupakan peng-ungkapan betapa tinggi nilainya gelar Islam itu.
Kunjungan Sultan Demak ke Cirebon dapat dipahami jika Syekh Nurullah (yang kemudian menjadi Sunan Gunung Jati) datang ke Demak dan mendapat pengaruh di kalangan wangsa raja yang baru beberapa puluh tahun memeluk agama Islam. Syekh Nurullah pergi ke Tanah Suci Mekkah, hal itu merupakan keistimewaan, mengingat begitu buruknya perhubungan pada waktu itu. Di kota suci itu ia tentu mendengar bahwa Sultan Turki, Sultan Salim I Akbar, pada 1517 telah merebut Mesir, dan mengangkat dirinya menjadi khalifah.
Meningkatnya pemusatan kekuasaan dalam dunia Islam ini kiranya mengakibatkan Syekh Nurullah menganjurkan kepada Sultan Demak untuk bertingkah laku sebagai raja Islam benar-benar. Gelar dan nama bahasa Arab itu kiranya dapat dianggap sebagai sahnya niat untuk menjadikan Demak Ibukota kerajaan Islam. Masjid Agung di Demak mendapat posisi yang krusial dalam rencana tersebut. Syekh Nurullah dari Sumatera untuk memangku jabatan Khatib Agung Masjid Agung Demak.
Kerajaan Demak diperintah oleh para Sultan yang didukung penuh oleh para wali yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ngampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kalijaga Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati. Mereka gemar dengan kesenian dan budaya tlatah. Mereka menyempurnakan bentuk dan lakon wayang agar tidak bertentangan dengan agama Islam.
Ibukota Islam, Demak, telah menjadi titik tolak perjuangan, untuk menyebarkan agama Islam, bahasa dan kebudayaan Jawa di sepanjang pesisir utara Jawa Barat. Tindakan Syekh Nurulllah yang kemudian diberi gelar Sunan Gunung Jati tadi, dan juga tindakan anaknya, Hasanuddin, yang kelak menjadi raja Islam pertama di Banten, ternyata sangat krusial dalam upaya meluaskan tlatah pengaruh raja-raja Islam cdari Demak ini. Akan dilukiskan lahirnya kerajaan-kerajaan Islam baru.
Putra dan pengganti raja Islam pertama di Pasir, Senopati Mangkubumi, telah murtad. Maka, kekuasaan Demak-Islam dipulihkan kembali dengan ekspedisi keprajuritan, yang dikirim Sultan Demak. Pemimpin yang bernama Carang Andul dan Binatang Karya gugur dalam pabaratan melawan penyerbu itu, dan raja Pasir muda yang, murtad itu lalu tinggal glanggang colong payu ke Bocor. Seorang anggota garis keturunam lain dari wangsa raja itu diserahi kekuasaan pemerintahan di Pasir. Tindakan bersenjata yang dilakukan orang Jawa Tengah, untuk memulihkan atau memantapkan kekuasaan Sultan, dapat dianggap salah satu tindakan kekuasaan Raja Agung Islam itu.

2. Merantau Ke Cina
Akhir abad ke-15 perang berkecamuk di Malaka. Suatu peperangan antara Sultan Mahmud Syah yang mempertahankan wilayah kekuasaannya dengan bangsa pendatang Portugis. Bola api dan peluru meriam mewarnai langit di tengah samudra antara semenanjung Malaya dan Pulau Sumatera. Air laut berbau amis darah manusia yang bertempur mati-matian itu. Keluh pilu serdadu yang terluka, teriakan amarah, dan pekik kematian terdengar siang dan malam. Tak terbayangkan sudah berapa banyak mayat yang diceburkan ke laut menjadi santapan ikan. Mereka gugur dalam membela haknya masing-masing yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Sementara itu di daratan Semenanjung Malaya tepatnya di sekita wilayah Kesultanan Malaka pasukan Portugis mendesak tentara Sultan Mahmud. Dengan paksa mereka hendak merebut kedaulatan dan kemerdekaan rakyat Malaka dibawah pimpinan Sultan itu. Ketenteraman rakyat telah terganggu selama ini yang diakibatkan oleh perang. Rakyat Malaka yang sebagian besar memeluk agama Islam menjadi porak-poranda. Kehidupan bandar yang semula ramai oleh suasana jual beli secara damai nampak mulai mencekam. Api dan asap mewarnai setiap tempat. Mayat-mayat banyak yang bergelimpangan. Jerit tangis wanita dan anak-anak terdengar sangat mengerikan. Mereka menjerit karena ditinggal mati oleh ayah dan suami mereka. Masa depan telah menjadi suram oleh asap perang.
Pasukan Portugis dengan senjata modernnya terus mendesak pasukan Malaka. Mereka tidak segan-segan menganiaya bahkan membunuh orang-orang yang tidak berdosa sekalipun. Memang demikianlah resiko suatu perang. Perang itu kejam dan jahat. Dan semua itu dirasakan oleh seluruh rakyat Nusantara, khususnya rakyat Malaka. Kedudukan pasukan Malaka makin hari semakin terdesak. Kekuatan yang mereka miliki semakin berkurang. Dan akhirnya pada tahun 1511 tentara Portugis berhasil merebut Malaka, bandar yang sangat ramai dikunjungi oleh para pedagang Islam itu.
Masyarakat Cirebon dan sekitarnya sangat menghormati Sunan Gunung Jati. Banyak peziarah yang mendatangi makamnya. Di Jakarta berdiri pula IAIN Syarif Hidayatullah untuk mengenang jasa Sunan Gunung Jati dalam menyiarkan agama Islam. Nama lain Sunan Gunung Jati adalah:
a. Fatahillah
b. Falatehan
c. Syarif Hidayatullah
d. Seh Nurudin Ibrahim Ibnu Maulana Ismail
e. Said Kamil
f. Maulana Syekh Makdum Rahmatullah
Menurut Tantan dan Syafi’i (2001), beliau dilahirkan di daerah Pasai, Aceh. Menginjak dewasa beliau pergi ke Mekah untuk memperdalam ilmu agama selama tiga tahun. Waktu itu Bangsa Portugis sudah menguasai Malaka tahun 1511. Kemudian beliau merantau ke Jawa, yaitu Kerajaan Demak. Di Demak beliau diterima dengan tangan terbuka oleh Sultan Trenggana yang memerintah antara tahun 1521-1546. Kepribadian Fatahillah semakin menarik Sultan Trenggana sehingga beliau dikawinkan dengan adiknya, putri Demak.
Di kompleks pemakaman Gunung Sembung, sering terlihat penziarah - perorangan atau rombongan - dari kalangan etnis Cina sampai dengan para saudaranya dari kalangan Islam, umat Budha dan Konghucu itu bertujuan menyekar pemakaman yang terletak di Desa Astana, sekitar tiga kilometer di barat kota Cirebon, Jawa Barat itu.
Untuk mereka disediakan "kavling" khusus di sini barat serambi depan kompleks pemakaman. Tentu bukan karena diskriminasi. Peziarah muslim ataupun non muslim semuanya bisa berdoa di sini. Pemisahan tempat semata-mata karena ritual yang berbeda. Di sayap barat itu terdapat makam Ong Tien, salah seorang istri Syarif Hidayatullah, yang lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Dia adalah putri Kaisar Hong Gie dari Dinasti Ming.
Banyak versi tentang perjodohan mereka. Yang paling spektakuler tentulah versi “nujum bertuah” Sunan Gunung Jati. Dalam persinggahannya di Cina, Syarif Hidayatullah menyebarkan Islam sambil berpraktek sebagai tabib. Setiap yang datang berobat diajarinya berwudhu dan diajak shalat. Manjur, si sakit sembuh. Dalam waktu singkat, nama Syarif Hidayatullah semerbak di kota raja. Kaisar pun kemudian tertarik menjajal kesaktian “sinse” dari Tanah Pasundan itu. Syarif Hidayatullah dipanggil ke istana.
Sementara itu, Kaisar menyuruh putrinya yang masih gadis, Lie Ong Tien, mengganjal perutnya dengan baskom sehingga tampak seperti hamil, kemudian duduk berdampingan dengan saudarinya yang memang sedang hamil tiga bulan. Syarif Hidayatullah disuruh menebak: mana yang benar-benar hamil. Syarif Hidayatullah menunjuk Ong Tien. Kaisar dan para “abdi dalem” tertawa terkekeh. Tapi, sejurus kemudian istana geger. Ong Tien ternyata benar-benar hamil, sedangkan kandungan saudarinya justru lenyap. Kaisar meminta maaf kepada Syarif Hidayatullah, dan memohon agar Ong Tien dinikahi.

3. Putri Ong Tien
Masih menurut Tantan dan Syafi’I (2001), diceritakan bahwa sekretaris kerajaan pada masa itu, Ma Huan dan Feishin, sudah memeluk Islam. Dalam pertemuan itulah Syarif Hidayatullah dan Ong Tien saling tertarik. Kaisar tak setuju. Syarif Hidayatullah lalu dipersonanongratakan. Tapi, kecintaan Ong Tien kepada Syarif Hidayatullah sudah sangat mendalam. Dia mendesak terus ayahnya agar diizinkan menyusul kekasihnya ke Cirebon. Setelah mendapat izin, Ong Tien bertolak ke Cirebon dengan menggunakan kapal layar kerajaan Cina. Dia dikawal Panglima Lie Guan Cang, dengan nahkoda Lie Guan Hien. Putri membawa barang-barang berharga dari istana kerajaan Cina, terutama berbagai barang keramik. Barang-barang kuna ini kini masih terlihat di sekitar Keraton Kasepuhan atau Kanoman, bahkan di kompleks pemakaman Gunung Sembung. Dari Ong Tien, Syarif Hidayatullah tak beroleh anak. Putri Cina itu keburu meninggal setelah empat tahun berumah tangga. Besar kemungkinan, sumber yang dirujuk P.S. Sulendraningrat adalah Carita Purwaka Caruban Nagari.

4. Cincin Nabi Sulaeman
Di naskah-naskah itulah bertebaran mitos kesaktian Sunan Gunung Jati, dari cincin Nabi Sulaiman sampai jubah Nabi Muhammad saw. Tapi, mengenai asal usul Syarif Hidayatullah, semuanya ia berdarah biru, baik dari garis ayah maupun garis ibu. ayahnya Sultan Mesir, Syarif Abdullah. Ibunya adalah Nyai Rara Santang. Setelah menikah, putri raja Siliwangi dan adik Pangeran Walang Sungsang itu memakai nama Syarifah Mudaim. Rara Santang dan Walang Sungsang memperdalam agama Islam di Cirebon, berguru pada Syekh Idhofi Mahdi yang asal Baghdad. Syekh Idhofi terkenal juga dengan sebutan Syekh Jatul Kahfi atau Syekh Nurul Jati. Setelah khatam, keduanya disuruh ke Mekah menunaikan ibadah haji .
Di situlah, seperti dikisahkan dalam Cerita Purwakan Caruban Nagari, mereka bertemu dengan Patih Kerajaan Mesir, Jamalul Lail. Patih ini ditugasi Sultan Mesir, Syarif Abdullah, mencari calon istri yang wajahnya mirip dengan permaisurinya yang baru meninggal. Rara Santang kebetulan mirip, lalu diboyong ke Mesir.
Walang Sungsang pulang ke Jawa, kemudian jadi penguasa. Nagari Caruban Larang-cikal bakal kerajaan Cirebon. Sejak itu dia lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Cakrabuwana. Dari perkawinan Syarif Abdullah Syarifah Mudaim lahir Syarif Hidayatullah, pada 1448. Dalam usia 20 tahun, Syarif Hidayatullah pergi ke Mekah untuk memperdalam pengetahuan agama (Tantan dan Syafi’i, 2001).

5. Belajar ke Baghdad
Selama empat tahun ia berguru kepada Syekh Tajudin Al Kubri dan Syekh Ataullahi Sadzili. Kemudian ia ke Baghdad untuk belajar tasauf, lalu kembali ke negerinya. Di Mesir, oleh pamannya, Raja Onkah, Syarif Hidayatullah hendak diserahi kekuasaan. Namun Syarif menolak, dan menyerahkan kekuasaan menolak, dan menyerahkan kekuasaan itu kepada adiknya, Syarif Nurullah. Syarif Hidayatullah bersama ibunya pulang ke Cirebon, dan pada 1475 tiba di Negeri Caruban Larang yang diperintah pamannya, Pangeran Cakrabuwana. Empat tahun kemudian Pangeran Cakrabuwana mengalihkan kekuasaannya sebelumnya menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Ratu Pakungwati (Hoesein, 1913).
Untuk keperluan dakwah, Syarif Hidayatullah pada tahun itu juga menikahi Ratu Kawunganten. Dari pernikahan ini, dia dikarunia dua putra, Ratu Winahon, yang lebih dikenal dengan sebutan Ratu Ayu, dinikahkan dengan Facrullah Khan, alias Faletehan. Ajaran Syarif Hidayatullah yang masih dihafal oleh masyarakat antara lain :

Lamun sira kepengin wikan marang alam zaman kelanggengan, sira kudu weruh alamira pribadi. Lamun sira durung mikani alamira pribadi adoh ketemune.

Yen sira wus mikani alamira pribadi, mara sira mulanga marang wong kang durung wikan.

Lamun sira wus mikani alamira pribadi, alam zaman kalanggengan iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan.

Lamun sira durung wikan alamira pribadi, mara takona marang wong kang wus wikan.

Lamun sira durung wikan kadangira pribadi, coba dulunen sira pribadi.

Kadangira pribadi ora beda karo jeneng sira pribadi, gelem nyambut gawe.

Terjemahan:

Jikalau engkau ingin mengetahui alam abadi, engkau harus mengenal alam pribadimu. Kalau engkau belum mengetahui alam pribadimu, masih jauhlah alam abadi itu dari dirimu.

Kalau engkau sudah mengetahui alam pribadimu, hendaklah kamu mengajarkannya kepada yang belum mengetahui.

Jikalau engkau telah mengetahui alam pribadimu, alam abadi itu pun menjadi dekat tanpa dengan menyentuhnya, jauh dari dirimu tanpa ada yang membatasinya.

Jikalau engkau belum mengetahui alam pribadimu, tanyakanlah kepada yang telah mengetahuinya.

Jikalau engkau belum menemukan “kadang” (saudara) pribadimu, cobalah mawas dirimu sendiri.

“Kadang” pribadimu itu tidaklah berbeda dengan dirimu sendiri, suka bekerja.

Ekspansi Portugis ke daerah Jawa Barat kurang berkenan di hati kerajaan Demak. Di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah, Demak membendung Portugal di Jawa Barat. Pada tahun 1526 Brantas dapat dikuasai Demak. Pada tahun 1527 Sunda Kelapa dapat dikendalikan Fatahillah memindahkan Cirebon. Kerajaan Banten diperintah oleh putra Fatahillah, Sultan Hasanudin.
Fatahillah lantas tinggal di Cirebon untuk menyiarkan Agama Islam. Beliau wafat pada tahun 1570 di Gunung Jati. Oleh karena itu beliau lebih populer disebut sebagai Sunan Gunung Jati. Beliau merupakan salah satu peletak pondasi syiar agama Islam di daerah Jawa Barat (Hoesein, 1913).


6. Penerus Sunan Gunung Jati
Pada 1570, Sunan Gunung Jati sebagai pejabat Cirebon diganti oleh seorang cicitnya, yang hanya terkenal dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Di satu pihak, ia telah mengalami kemakmuran Banten sebagai kota pelabuhan dan runtuhnya kerajaan terakhir di Jawa Barat, yakni Pakuwan Pakuwan Pajajaran. Tidak ada bukti bahwa prajurit dari Cirebon ikut bertempur dalam penaklukan Pakuwan, konon Pakuwan diduduki oleh orang dari Banten. Di pihak lain, Raja Cirebon yang kedua mengalami kematian Sultan Pajang pada 1586 dan lahirnya Kerajaan Mataram di Jawa Tengah sebelah selatan.
Sungguh menarik perhatian bahwa raja-raja Mataram sejak semula dalam perempat terakhir abad 16, mempunyai hubungan yang cukup baik dengan pejabat setempat di sebelah barat tlatah inti kerajaan, yakni di sebelah barat Sungai Bogowonto. Para pejabat di tlatah pelosok bagian barat dan para Raja Cirebon agaknya tidak memberikan perlawanan dan mengakui pejabat Mataram. Pada 1590 Raja Mataram, Panembahan Senopati, membantu “para kyai” Cirebon, Pangeran Ratu, untuk mendirikan atau memperkuat tembok yang mengelilingi kotanya. Mungkin pada waktu itu Raja Mataram menganggap Cirebon suatu pertahanan keprajuritan di bagian barat kerajaannya.
Dapat dipastikan bahwa Pangeran Ratu dari Cirebon, pengganti Sunan Gunung Jati, dianugerahi usia panjang sekali, seperti pendulunya. Ia baru meninggal pada 1650. Penggantinya seorang raja yang dikenal dengan nama Pangeran Girilaya. Di Cirebon Pangeran Ratu pasti mengalami pergolakan zaman, yakni munculnya kekuasaan Belanda, berdirinya Batavia, dan perang raja-raja Mataram dan Banten melawan kota itu. Tidak ada bukti bahwa Pangeran Ratu bertindak dengan kekerasan dan itu mempengaruhi kondisi politik pada waktu itu. Meskipun begitu, wibawa kerohanian keluarga besar Sunan Gunung Jati tidak diragukan. Pada paruh kedua abad ke-17 keluarga besar itu terpecah menjadi beberapa cabang, yang masing-masing mempunyai kerajaan.
Pada abad ke-17 dan 18, di kerajaan-kerajaan Cirebon telah berkembang-biak kegiatan sastra yang sangat memikat perhatian. Hal itu antara lain terbukti dari kegiatan mengarang nyanyian keagamaan Islam, yang disebut suluk, yang bercorak mistik. Hal ini pun menunjukkan bahwa pengaruh rohani Sunan Gunung Jati itu masih berlangsung. Kerajaan-kerajaan para keluarga besar Sunan Gunung Jati di kota Cirebon masing-masing tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan dengan tunjangan uang.
Pelabuhan Sunda Kelapa, dekat muara Sungai Ciliwung tempat Jakarta kini, pada zamannya merupakan kota pelabuhan terpenting di Jawa Barat, lebih krusial dari Banten dan Cirebon. Sunda Kelapa terletak di sebelah hilir Pakuwan, kota kerajaan raja-raja Pakuwan Pajajaran. Tempat itu “Dayo” nama yang juga diberikannya kepada Ibukota Kerajaan Majapahit. Mungkin “Dayo”" itu hanya pengucapan yang kurang sempurna bagi kata Pasundan dayeuh yang artinya Ibukota.
Dengan memberikan penjelasan arti tahun peristiwa yang tertera pada Batu Tulis, prasasti Pasundan kuno di Bogor, menunjukkan adanya kemungkinan bahwa Pakuwan, kota Kerajaan Pakuwan Pajajaran, didirikan pada 1433-1434 (1355 Saka). Raja Pasundan yang kekalahannya di Bubat dilukiskan dalam balada Jawa Timur Kidung Pasundan mungkin seorang raja Pakuwan Pajajaran, ia hidup pada jaman Kerajaan Pakuwan Pajajaran.
Pada 1522 mengadakan perjanjian persahabatan dengan raja Pakuwan Pajajaran yang memakai gelar “Samiam” atau Sang Hyang. Raja Pasundan itu menganggap orang Portugis dapat membantunya dalam perang melawan orang Islam yang di Jawa Tengah telah mengambil alih kekuasaan dari tangan raja-raja taklukan Raja Agung Majapahit. Tetapi, orang Portugis tidak dapat mengambil manfaat dari perjanjiannya yang menguntungkan mereka itu. Baru beberapa tahun sesudah 1522 kota pelabuhan Sunda Kelapa, tempat mereka sebenarnya dapat mendirikan pos perdagangan yang kuat untuk perdagangan dengan izin Sang Hyang dari Pakuwan Pajajaran, sudah diduduki oleh pejabat Islam dari Banten.

7. Peletakan Dasar Islam di Banten
Sejak sebelum jaman Islam, di bawah kekuasaan raja-raja Pasundan Banten sudah menjadi kota yang agak berarti. Dalam buku Pasundan kuno yakni Carita Parahyangan, disebut-sebut nama Wahanten Girang: nama ini dapat dihubungkan dengan Banten. Pada 1524 atau 1525 Nurullah dari Pasei, yang kelak menjadi Sunan Gunung Jati, berlayar dari Demak ke Banten, untuk meletakkan dasar bagi pengembangan agama Islam dan bagi perdagangan orang Islam. Nurullah sudah menunaikan rukun ke-5, naik haji ke Mekkah sebelum tiba di kerajaan Sultan Demak. Sebagai haji yang saleh dan sebagai musafir yang mengenal percaturan dunia ia mendapat sambutan hangat di kerajaan itu. Ia mendapat salah seorang saudara perempuan Sultan Demak sebagai istri. Dapat diduga bahwa ia berpengaruh terhadap iparnya, seorang keluarga besar Cina yang baru beberapa puluh tahun masuk Islam. Pasei, kota pela¬buhan Sumatera Utara tempat asal Nurullah, sudah lebih dari dua abad Muslim. Ada alasan untuk menduga bahwa gelar Sultan yang dipakai Trenggana dari Demak dan sepak terjangnya sebagai pelindung agama, banyak berkaitan dengan ajaran dan pandangan agama Islam yang harus meliputi segala aspek hidup. Tentu hal itu sudah dipahami benar oleh Nurullah sepulang dari Mekkah.
Sesampai di Banten ia segera berhasil menyingkirkan bupati Pasundan di situ dan mengambil alih pemerintahan atas kota pelabuhan tersebut. Ia mendapat bantuan keprajuritan dari Demak. Langkah berikut yang dilakukan untuk mengislamkan Jawa Barat ialah menduduki kota pelabuhan Pasundan yang sudah tua, Sunda Kelapa, kira-kira pada 1527. Perebutan kota yang sangat krusial bagi perdagangan Kerajaan Pakuwan Pajajaran ini, berlangsung cukup sengit, karena letaknya yang tidak jauh dari kota Kerajaan Pakuwan (Bogor). Sebagai tanda bahwa perebutan ini sungguh krusial bagi agama Islam, kota itu diberi nama baru Betawi atau Surakarta, jaya berarti kemenangan dan sura pahlawan. Pada abad ke-16 dan 17, dan kemudian pada abad ke-20 ini, kota itu dikenal dengan nama Jakarta, singkatan dari Betawi. Orang Portugis, ka¬rena tidak tahu kota itu telah diduduki oleh orang Islam pada 1527, datang untuk mendirikan perkantoran berdasarkan perjanjian yang diadakannya pada 1522 dengan Sang Hyang dari Pakuwan Pajajaran. Mereka ditolak dengan kekerasan senjata.
Pada 1528-1529 (1450 J) Sultan Trenggana menghadiahkan sepucuk meriam besar buatan Demak yang dibubuhi tahun tersebut kepada pejabat baru di Banten sebagai tanda penghargaan atas hasil yang telah dicapai. Meriam itu mula-mula mungkin bernama Rara Banya, kemudian selalu disebut Ki Jimat. Meriam itu dibuat oleh seorang bangsa Portugis, yang berasal dari Algarvia, Portugis Selatan. Ia bernama Khoja Zainul-Abidin. Meriam tersebut pada paruh pertama abad ke-20 masih dapat dilihat di Banten, di Kampung Karang Antu.
Penguasa Islam baru atas Banten dan Sunda Kelapa rupanya tidak berusaha ngrabaseng yuda kota Kerajaan Pakuwan, yang terpotong hubungannya dengan pesisir oleh perluasan tlatah yang dilakukan oleh pejabat itu. Ia memperluas kekuasaannya atas kota-kota pelabuhan Jawa Barat lain yang semula termasuk Kerajaan Pakuwan Pajajaran. Cirebon yang mungkin sudah pada permulaan abad ke-16 menjadi kota dagang Cina-Islam, dan termasuk tlatah Sultan Demak, kemudian diserahkan juga ke bawah kekuasaannya. Ia selalu bersikap sebagai kadipaten terhadap Sultan Demak selama Sultan Trenggana masih hidup. Mungkin sekali-sekali ia tinggal di Banten dan sekali-sekali di Cirebon.
Pada abad ke-16 perdagangan merica penting di kota-kota pelabuhan Jawa Barat, mula-mula di Sunda Kelapa dan kemudian di Banten. Sanajan mekaten orang Portugis tidak berhasil tinggal di Sunda Kelapa, seperti yang diharapkan semula, mereka masih tetap singgah di Banten sebagai buruh, demi kepentingan perdagangan merica mereka. Orang Cina juga mengambil bagian dalam perdagangan merica itu. Yang aneh ialah bahwa menurut Tome Pires perahu-perahu Jawa Barat beberapa kali berlayar ke Kepulauan Maladewa di sebelah barat Pulau Srilanka untuk mengambil budak belian dan perempuan yang kemudian dijual di Jawa.
Sunan Gunung Jati menyuruh seorang putranya tinggal di Cirebon sebagai wakilnya. Putra ini nikah dengan seorang putri Demak, anak perempuan Sultan Trenggana. Ia meninggal dalam usia muda, mungkin pada 1552. Kematiannya merupakan alasan bagi ayahnya untuk pindah dari Banten ke Cirebon selama-lamanya. Pangeran Cirebon ini hanya dikenal de¬ngan nama anumerta Pangeran Pasareyan, sesuai dengan nama kota/desa tempat ia dimakamkan.
Putra yang kedua, Hasanuddin, telah lebih dulu menggantikan ayahnya di Banten. Waktu Sunan Gunung Jati secara pasti tinggal di Cirebon, Hasanuddin menjadi pejabat atas Banten dan Sunda Kelapa. Dalam kisah Banten, sudah sejak abad ke-17 ia dianggap sebagai raja pertama di Banten dan sebagai pendiri keluarga besar sultan-sultan Banten. Dia pun nikah dengan putri Demak, anak Sultan Trenggana, pada 1552.

8. Hasanuddin, Raja Banten Kedua
Hasanuddin bersikap taat terhadap ayahnya sebagai kepala keluarga, selama ayahnya, orang suci dari Cirebon itu, masih hidup. Sunan Gunung Jati meninggal dunia pada sekitar 1570. Di Cirebon ia digantikan oleh cicit laki-lakinya, yang pada saat itu masih di bawah umur. Sesudah orang suci itu meninggal dalam usia yang sangat lanjut, hubungan antara kedua cabang keluarga kerajaan di Jawa Barat itu menjadi agak renggang.
Hasanuddin dari Banten dan istrinya dari Demak mendapat dua anak laki-laki. Yang sulung, Yusuf, direncanakan menggantikan ayahnya di Banten, bila saatnya tiba. Anak yang kedua dijadikan anak angkat dan diasuh oleh bibi dari pihak ibunya. Bibi ini, yakni Ratu Kalinyamat dari Jepara, tidak mempunyai anak. Me¬nurut asal usulnya, ia juga seorang putri Demak. Sesudah Ratu Kalinyamat meninggal, Hasanuddin menggantikan bibinya sebagai pejabat Jepara. Dalam kisah tutur ia disebut Pangeran Jepara.
Penguasa Islam yang kedua di Banten meneruskan upaya ayah¬nya: meluaskan tlatah agama Islam. Ia memulai kekuasaan raja-raja Jawa Islam dari Banten di Lampung dan tlatah-tlatah sekitarnya di Sumatera Selatan yang menggunakan bahasa Melayu Selatan seba¬gai bahasa pergaulan. Tlatah taklukan raja-raja Banten ini ternyata penghasil merica yang besar. Perdagangan merica itu membuat Banten menjadi kota pelabuhan penting, yang disinggahi oleh kapal-kapal dagang Cina, Hindia, dan Eropa. jaman berpengaruhnya Banten -Jawa dalam bidang pemerintahan dan kebudayaan di Lampung berlangsung dari pertengahan abad ke-16 sampai akhir abad 18.
Mungkin nama Sura-Saji diberikan kepada kota pelabuhan Banten setelah diperbesar dan diperindah pada jaman Hasanuddin. Ko¬ta itu menjadi tempat posisi seorang pejabat penting, tidak sama dengan Banten Girang yang lama, yang letaknya lebih ke arah hulu sungai. Mungkin pernikahan raja muda yang ambisius dengan seorang putri Demak itu merupakan alasan untuk mengadakan pembangunan dan pemberian nama baru.
Hasanuddin, sama seperti ayahnya, meninggal pada 1570. Ibunya adalah putri yang telah dinikahi ayah¬nya - menurut perkiraan - sekitar 1525 atau 1526 di Kerajaan Demak. pejabat Islam yang kedua di Banten ini mengalami jaman sesu-dah jatuhnya Kerajaan Demak, waktu iparnya Sultan Pajang, Jaka Tingkir, berkuasa di pelosok Jawa Tengah. Dalam kisah tutur Jawa berita yang memberi petunjuk bahwa ada sengketa antara raja-raja Banten dan Pajang. Dalam perempat ketiga abad ke-16 Kerajaan Pakuwan Pajajaran masih menguasai sebagian besar tlatah pelosok Pasundan, sehingga tlatah-tlatah Raja Banten dan Sultan Pajang tidak langsung saling berbatasan.
Hasanuddin terkenal dengan nama anumertanya, Pangeran Saba Kingkin, sesuai dengan nama kota tempat ia dimakamkan, tidak jauh dari Banten. Pasareyanipun dijadikan tempat ziarah oleh anak cucunya. Namun, ia tidak pernah mendapat penghormatan religius seperti ayah¬nya, Sunan Gunung Jati.

9. Yusuf, Raja Islam Ketiga di Banten
Di Jawa Barat, runtuhnya secara pasti kerajaan tua Pakuwan Pajajaran, dan direbutnya kota Kerajaan Pakuwan tidak mengakibatkan timbulnya sejarah yang sangat banyak, seperti di Jawa Timur sehubungan dengan jatuhnya Majapahit dan lenyapnya Brawijaya yang terakhir. Dari perbedaan ini ternyatalah bahwa bagi generasi kemudian makna Majapahit sebagai utusan kebudayaan jaman sebelum Islam jauh lebih besar daripada Pakuwan Pajajaran. Memang begitulah kenyataannya.
Pada abad ke-15 kekuasaan politik Kerajaan Pakuwan Pajajaran di Jawa Barat bukannya tidak penting. Raja Islam di Banten dan Sunda Kelapa - berdasarkan pertimbangan keamanan - sudah tidak senang melihat adanya Kerajaan Pasundan di tanah pelosok. Mungkin mereka merasa penyaluran hasil bumi ke kota pelabuhan, guna upaya perdagangannya, terancam. Mungkin juga harapan untuk mendapat banyak rampasan perang merangsang semangat tempur mereka.
Hasanuddin adalah pahlawan yang merebut Pakuwan Pakuwan Pajajaran. Pakuwan ditaklukkan pada 1579, waktu Yusuf sudah sembilan tahun berkuasa di Banten. Dari uraian yang cukup panjang dalam Sejarah Banten mengenai bentrokan bersenjata ini, dapat disimpulkan bahwa kemenangan wadyabala Banten dipermudah oleh pengkhianatan seorang pegawai Raja Pakuwan Pajajaran. Pengkhianat ini membuka pintu bagi saudaranya yang memegang komando atas sebagian bregada Banten. Waktu istana raja direbut, dinyatakan bahwa Raja dengan keluarganya hilang. Kisah Jawa Barat tidak memberitakan apa-apa lagi mengenai mereka. Karena sederhana, kisah ini lebih dapat dipercaya. Dari kisah itu pun ternyata bahwa di pihak Raja Banten sudah ada orang Pasundan Islam yang ikut bertempur. Sesudah kota kerajaan jatuh dan Raja beserta keluarganya menghilang, kelompok ningrat Pasundan masuk Islam, karenanya mereka diperbolehkan tetap menyandang pangkat dan gelarnya.
Banyak penguasa, juga alim ulama, ikut dalam gerakan melawan Pakuwan. Pimpinan agama dipegang oleh Maulana Jeddah, mengenai Maulana ini, tidak ada lagi yang diketahui lebih lanjut. Tetapi, nyata bahwa Raja Banten -lah yang paling berkepentingan. Sesudah kemenangan ter¬capai, ia lebih giat melakukan pembangunan di Ibukota yang baru, Banten -Surasowan.
Maulana Yusuf meninggal hanya satu tahun setelah kemenangan tercapai, jadi masih agak muda. Sesudah meninggal, namanya tetap dikenal orang di Banten, yakni Pangeran Pasareyan, mengingat tempat pasareyanipun. Pemerintahannya hanya berlangsung sepuluh tahun.
Sesudah Maulana Yusuf meninggal pada 1580, adiknya, Pangeran Harya Jepara berusaha supaya diakui sebagai pejabat atas Banten, karena putra Yusuf almarhum masih kanak-kanak. Pangeran Jepara sendiri bersama pasukan bersenjata pergi ke Banten lewat laut. Dalam perang antara pembesar Jepara dan Banten, Demang Laksamana Jepara tewas. Laksamana ini mungkin sama orangnya dengan Manggala Yuda yang memimpin pabaratan melawan Malaka pada 1574 yang dikirim Kalinyamat. Karena kehilangan abdinya yang terpenting, Pangeran Jepara memutuskan mengurungkan niatnya, ia kembali ke Jepara.
Maulana Muhammad yang masih muda itu berkat tindakan tegas jaksa agung Islam di Banten, diakui sebagai raja oleh para pembesar kerajaan. Selama ia masih di bawah umur, kekuasaan pemerintahan dipegang oleh jaksa agung bersama empat pembesar lain. Ditolaknya campur tangan Adipati Jepara yang sudah dianggap sebagai orang luar, dan pengangkatan Maulana Muham¬mad yang masih di bawah umur itu sebagai raja oleh para pembesar di bawah pimpinan jaksa agung pada 1580, sangat besar pengaruhnya di Jawa Barat. Para pejabat setempat di Banten dan Sunda Kelapa pada waktu itu sebagian berasal dari Pasundan, atau mempunyai hubungan kerabat dengan keluarga Pasundan yang mem-punyai posisi krusial dalam Kerajaan Pakuwan Pajajaran.
Berbagai peristiwa pada 1580 di Banten dianggap sebagai pembebasan Jawa Barat yang sebagian bersifat Pasundan dan yang belum lama berselang menganut agama Islam dari kekuasaan raja-raja di Jawa Tengah. Sejak itu Cirebon merupakan tlatah perbatasan, baik dalam bidang kebudayaan maupun dalam bidang politik. Di Jawa Barat, Banten dan Sunda Kelapa menjadi pengganti kerajaan Pasundan Pakuwan Pajajaran. Tetapi, raja-raja Banten tidak pernah merasa berhubungan erat dengan para pendulu mereka di Pakuwan, seperti halnya raja-raja Islam Jawa Tengah terhadap raja-raja Brawijaya di Majapahit. Pakuwan Pajajaran memang tidak pernah men¬jadi pusat kebudayaan seperti Majapahit. Selain itu, tindakan keras para penyebar agama Islam di Jawa Barat mengakibatkan agama dan pemangkunya di Banten dan Pasundan lebih mempengaruhi jalan pemerintahan, perluasan tlatah raja-raja Islam di Jawa Tengah dan Jawa Timur berjalan secara berangsur-angsur. Jaksa tertinggi Islam di Banten ternyata sampai abad ke-19 berposisi penting di kerajaan, lebih krusial dari posisi para Khatib Agung di kerajaan Yogya-Solo.
Maulana Muhammad, raja Islam keempat di Banten, karena jasa jaksa agung yang membantu dia naik takhta, menja¬di pejuang untuk perluasan tlatah Islam. Lagi pula, ia terpengaruh oleh Sultan Demak yang terakhir. Raja ini, yang tinggal glanggang colong payu karena terus terdesak oleh kekuasaan Mataram, mula-mula mencari perlindungan pada orang Portugis di Malaka dan kemudian di kerajaan keluarganya, di Banten. Bukankah Sultan Pajang, Jaka Tingkir, yang mempunyai hubungan kerabat dengan keluarga kerajaan di Demak, waktu hidupnya berbaik hati terhadap para kemanakannya di Demak, Jepara, Cirebon, dan Banten ? Tetapi, kematiannya pada 1587 membuka kesempatan bagi Senopati dari Mataram untuk ngrabaseng yuda kota-kota pelabuhan lama yang kaya dan gemah ripah loh jinawi di tlatah pesisir Jawa dengan kekuatan angkatan bersenjatanya.
Saat itu Sultan Demak yang terakhir terpaksa tinggal glanggang colong payu. Dalam kisah Banten, Sultan Demak, yang mengungsi ini, dipanggil Pangeran Mas. Ia yang sedikit lebih tua dari Maulana Muhammad, membujuk saudara sepupunya yang saleh itu ngrabaseng yuda Palem¬bang guna memperluas tlatah Islam. Pangeran Mas dari Demak berpendirian bahwa ia masih dapat menuntut hak atas Kerajaan Pa¬lembang. Waktu kota dikepung, Maulana Muhammad yang masih muda itu gugur. Ini terjadi pada 1596.
Raja Islam keempat di Banten yang meninggal pada umur 25 tahun itu digantikan oleh seorang anak laki-laki yang baru berumur beberapa bulan, Abdul Kadir namanya. Selama tahun-tahun terakhir abad ke-16 dan dasawarsa pertama abad 17, Banten diperintah oleh anggota kerajaan yang lebih tua. Mereka bertindak sebagai wali untuk raja yang masih kecil itu. Pergantian-pergantian wali dan sengketa antar pangeran tidak menguntungkan Kerajaan Banten.
Pada waktu itu kapal-kapal Belanda dan Inggris mulai secara teratur singgah di Banten. Pada 1619 Sunda Kelapa direbut Belanda. Kelak Batavia akan menjadi yang paling berkuasa di Jawa Barat. Kerajaan Banten terpaksa merelakan hilang¬nya Sunda Kelapa ini. Pada abad ke-17 orang Banten mengkhawatirkan pengaruh raja-raja Mataram ke arah barat, dan serangan dari Palembang. Kekuasaan Belanda di Jakarta/Batavia ternyata membawa keamanan dan ketertiban bagi raja-raja Banten, juga bagi raja-raja Cirebon pada abad ke-17 dan 18.

10. Nyi Mas Rara Santang
Sunan Gunungjati semula bernama Syarif Hidayatullah yang merupakan seorang keturunan dari Bangsa Arab, Sulatan Syarif Abdullah yang menguasai Bani Israil pada abad XV Masehi. Ibu Syarif Hidayatullah berasal dari Jawa yaitu: Nyi Mas Rara Santang yang merupakan anak dari Raja Pajajaran Prabu Siliwangi dengan Nyi Mas Subang larang. Nyi Mas Rara Santang bersaudarakan R. Walang Sungsang dan R. Jaka Sangara/ Kian Santang.
Pada Thun 1420 datanglah rombongan pedagang dari Bagdad yang dipimpin oleh Syekh Idlofi Mahdi atau Syekh Nur Jati. Syekh Nur Jati kemudian tinggal di Kampung Pasambangan dimana terdapat Gunung Jati. Sejak itulah beliau menyebarkan Agama Islam di daerah Gunung Jati yang merupakan awal bnerdirinya pesantren Gunung Jati. Syekh Nur Jati inilah yang kemudian mengajarkan Agama Islam kepada R. Walang Sungsang dan istrinya yaitu Nyi Mas Indah Ayu, dan adiknya Nyi Mas Rara Santang.
Pada tahun 1445 Masehi, R. Walang Sungsang diperintah untuk membuka hutan di wilayah kekuasaan Raja Galuh, Prabu Cakraningrat. Pekerjaan pembukaan hutan segeralah dimulai untuk dijadikan tempat bercocok tanam, dan untuk menembah penghasilan mereka mencari rebon di laut. daerah yang telah dibuka oleh R. Walang Sungsang pada akhirnya terkenal dengan nama Cirebon dan R Walang Sungsang disebut sebagai Ki Kuwu Cirebon (penguasa Cirebon).
Setelah selesai membangun Cirebon makan R. Walang Sungsang dan adiknya menunaikan ibadah haji ke Arab. Pada waktu menunaikan ibadah haji mereka bertemu dengan Sultam Mesir, Sultan Syarif Abdullah yang pada akhirnya menikahi Nyi mMas Rara Santang. Dari perkawinannya dengan sultan Mesir lahirlah dua orang putra yaitu: Syarif Hidayatullah dan Syarif Narullah.
Setelah dewasa Syarif Hidayatullah berkeinginan pergi ke Jawa untuk menyebarkan Agama Islam. Sesampainya di Pulau Jawa, Syarif Hidayatullah segera bertemu dengan pamannya (R. Walang Sungsang) di Cirebon untuk ikut menyebarkan Agama Islam bersama dengan mubalig-mubalig yang telah ada. Syarif Hidayatullah kemudian menetap di daerah Gunung Sembung untuk meneruskan dakwah Islam terutama di Pesantren Gunung Jati. Syarif Hidayatullah kemudian menikah dengan anak pamannya (R. Walang Sungsang) yang bernama Nyai Mas Kawunganten dan dikaruniai dua orang putera. Kedua putera itu adalah: Maulan Hasanuddin ( Sultan Banten) dan Nyai Mas Winaon yang kemudian menikah dengan Sunan Kalijaga.

Keraton Pakungwati
Pada awal berdirinya keraton di Cirebon, atau Dalem Agung Pakungwati ditempati oleh R. Walang Sungsang ( Pangeran Cakrabuana/Ki Kuwu Cirebon). Kemudian pada tahun 1479 Masehi, Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaannya kepada menantunya Syarif Hidayatullah untuk menjadi penguasa di Dalem Agung Pakungwatidengan gelar Susuhunan atau Sunan. Sejak saat itulah Syarif Hidayatullah lebih dikenal sebagai Sunan Gunungjati.
Pada tahun 1506 Masehi, Pangeran Moh. Arifin II (cucu Sunan Gunung Jati) naik tahta dan memperluas Dalem Agung Pakungwati. Perluasan dengan membangun istana baru di sebelah barat daya Dalem Agung Pakungwati, sehingga pada saat ini Dalem Agung Pakungwati beserta istana baru disebut Keraton Pakungwati.

Kompleks Makam Sunan Gunung Jati
Selain sebagai mubalig, Sunan Gunung Jati juga dikenal sebagai tokoh perintis kerajaan Islam di Jawa. Hasil perjuangan Sunan Gunungjati adalah dengan mengalahkan Raja Galuh dan mengalahkan Raja Siliwangi dari Pajajaran. Bahkan pada waktu R. Patah mengalahkan Brawijaya VI, juga mendapat bantuan dari Sunan Gunungjati. Beliau meninggal dunia pada tahun 1568 Masehi pada usia 120 tahun.
Kompleks Makam Sunan Gunungjati terletak di Desa Astana, Kecamatan Cirebon Utara, Kabupaten Cirebon. Kompeks makam ini terletak di bukuit sembung sedangkan yang berada di Bukit Gunung Jati adalah Kompleks makam Syekh Datu Kahfi (guru Sunan Gunungjati).
Kompleks makam Sunan Gunungjati terbagi menjadi 10 bagian, dengan nisan makam Sunan Gunungjati berada di dalam cungkup di halaman paling atas (sepuluh). Di halaman pertama terdapat dua bangunan yang terbuat dari kau jati berdenah segi empat yaitu:
a. Balemangu Majapahit, adalah bale-bale berundak hadiah dari Demak yang berasal dari Majapahit sewaktu perkawinan Sunan Gunungjati dengan Nyi Mas Tepasari putri Ki Ageng Tepasari bekas pembesar Majapahit.
b. Paseban Besar, merupakan pendopo tempat upacara penerimaan tamu-tamu kehormatan.
Memasuki halaman berikutnya dengan melewati Gapura Bentar. Di halaman ini terdapat 5 bangunan yaitu:
a. Balemangu Pajajaran, adalah sebuah bale-bale besar hadiah dari Prabu Siliwangi sebagai tanda penghargaan pada waktu penobatannya.
b. Paseban Soko, adalah tempat diselenggarakannya permusyawaratan.
c. Gedung Jimat, merupakan tempat penyimpanan guci-guci Tiongkok dari berbagai dinasti dalam berbagai ukuran.
d. Balemangu Trusmi, adalah bale-bale kecil yang sudah diperbaiki oleh rakyat Desa Trusmi.
e. Balemangu Pos Penjagaan
Memasuki halaman ketiga dengan melewati sebuah pintu yang diberi nama Pintu Krapyak. Pada halaman ini terdapat sebuah bangunan Pelayonan, adalah sebuah bangunan tempat jenazah keluarga kraton disholatkan. Pada halaman ini juga terdapat komplek makam Sultan Raja Sulaiman. Para peziarah umum hanya diperkenankan sampai pada halaman ini dan berhenti di depan Gapura/pintu Pasujudan untuk mengadakan ritual ziarah. Sedangkan paziarah dari kerabat keraton dapat naik hingga ke Makam Sunan Gunungjati.
Memasuki halaman ke empat dengan melewati Pintu Pasujudan. Di dalam halaman ini terdapat bangunan dengan nama Karas/Lunjuk, merupakan tempat istirahat keluarga keraton setelah naik ke makam Sunan Gunungjati. Selain itu pada halaman ini terdapat tiga komplek makam yaitu: Komplek Makam Sultan Nurbuwat, Komplek Makam Sultan Sena Moh. Jamiuddin, dan Komplek Makam Sultan Saifuddin Matangaji.
Teras berikutnya adalah halaman ke lima dengan melewati gapura/pintu Ratnakomala. Pada sisi barat halaman ini terdapat Komplek Makam Adipati Awangga (Arya Kemuning). Naik ke teras berikutnya dengan melewati Pintu Junem. Di dalam halaman ini terdapat dua komplek makam yaitu: Makam Sulatan Mandurareja dan Makam Sultan Moh. Tajul Arifin. Memasuki halaman berikutnya (halaman ke tujuh) dengan melewati sebuah pintu yaitu Pintu Rararoga. Pada halaman ini terdapat tiga komplek makam. Ketiga komplek makam tersebut adalah: Makam Nyi Mas Rarakerta, Makam Sultan Moh. Komarudin, dan Makam Panembahan Anom Ratu Sesangkan.
Teras berikutnya adalah halaman ke delapan. Menuju ke halaman ini melewati sebuah pintu yaitu Pintu Kaca. Pada halaman ini terdapat juga tiga buah komplek makam, yaitu: Makam Adipati Anom Carbon (Pangeran Mas), Makam Sultan Moh. Badridin, dan Makam Sultan Jamaludin.
Memasuki halaman kesembilan dengan melewati Pintu Bacem. Pada halaman ini dapat dijumpai makam-makam sebagai berikut: Makam Pangeran Cakrabuana, Makam Nyi Ong Tien (istri Sunan Gunungjati dari China), Komplek Makam Sultan anemban Ratu, Komplek Makam Adipati Keling, komplek Makam Pangeran Sindang Garuda, Komplek Makam Sultan Raja Syamsuddin (Sultan Sepuh I), dan Komplek makam Ki Gede Bungko.
Halaman teratas dari Komplek Makam Sunan Gunungjati adalah sebuah cungkup yang besar. Untuk memasuki cungkup tersebut harus melewati sebuah pintu yaitu pintu Teratai. Didalam cungkup ini terdapat sepuluh makam, yaitu: Makam Sunan Gunungjati, Makam Tubagus Pasai Fatahillah, Makam Syarifah Muda’im (Nyi Mas Rara Santang), Makam Nyi Gedeng Sembung (Nyi Qurausyin), Makam Nyi Mas Tepasari, Makam Pangeran Dipati Carbon I (Pangeran Swarga), Makam Pangeran Jakalelana, Makam Pangeran Pasarean, Makam Ratu Mas Nyawa, dan Makam Pangeran Sendang Lemper.

Tradisi Yang Masih Berlangsung
Hingga saat ini masih banyak para peziarah yang berdatangan ke komplek makam ini untuk memberikan penghormatan pada Sunan Gunungjati. selain pada hari-hari biasa, terdapat tradisi yang hingga kini masih berlangsung yaitu: tiap minggu di halaman ketiga didepan pintu Pasujudan dilaksanakan tiga kali tahlilan berjamaah dengan waktu pelaksanaan dari jam 20.00 sampai jam 21.30 setiap hari Minggu, Rabu, dan Kamis malam.

11. Maulana Hasanudin
Banten pertamakali diislamkan oleh Sunan Gunung Jati atas nama Sultan Demak. Sunan Gunung Jati memperkuat kedudukan Banten dengan mengislamkan seluruh pantai utara sampai Cirebon. Pada tahun 1527 pelabuhan Sunda Kelapa direbut, dan diganti namanya menjadi Jayakarta. Pada masa itu pemerintahan Banten dipimpin oleh Sunan Gunung Jati dan Cirebon diserahkan pada anaknya yang bernama Pangeran Pasarean. Pada tahun 1552 Pangeran Pasarean wafat dan pemerintahan Cirebon diambil alih oleh Sunan Gunung Jati sedangkan Banten diserahkan pada putranya yang bernama Maulana Hasanudin.
Setelah kekuasan kerajaaan Demak surut sejak meninggalnya Sultan Trenggono dan Banten mengalami kemajuan melalui perdagangan, Maulana Hasanudin melepaskan diri dari kekuasaan Demak. Pada tahun 1552 Maulana Hasanudin menjadi raja pertama di Banten dengan gelar Sultan Maulana Hasanudin Panembahan Surosowan. Pada masa pemerintahannya pembangunan kerajaan lebih dititik beratkan pada bidang keamanan kota, perluasan wilayah perdagangan, serta penyebaran dan pemantapan kepercayaan rakyat kepada ajaran Islam. Maulana Hasanudin wafat pada tahun 1570 dan dimakamkan di sebelah utara Masjid Agung Banten. Pengganti Maulana Hasanudin adalah putranya yang bernama Maulana Yusuf.

Peninggalan-Peninggalan Maulana Hasanudin
Keraton Surosowan
Pendirian Surosuwan di dasarkan atas petunjuk dan nasehat Sunan Gunung Jati (Syarif Hidatullah kepada Maulana Hasanudin. Watugilang yang berada di pusat kota tidak boleh dipindahkan (digeser), karena akan merupakan pertanda keruntuhan kerajaan. Keraton Surosowan didirikan antara tahun 1552-1570 dalam beberapa tahap dengan luas sekitar 3 ha. Pada tiap sudut benteng terdapat bastion yang berbentuk intan dan dinding bagian utara dan selatan pada bagian tengahnya berbentuk setengah lingkaran. Benteng Surosowan memiliki 3 pintu gerbang yang terletak di sebelah utara, timur dan selatan dengan atap berbentuk silinder. Gerbang sebelah timur dan utara berbentuk lengkung yang berfungsi mencegah tembakan langsung apabila pintu gerbang dibuka. Di bagian luar terdapat kanal yang menyatu dengan sungai Cibanten sehingga mengelilingi keraton. Saat ini keraton Surosowan hanya tinggal reruntuhannya saja. Bangunan yang masih tersisa adalah pondasi, tembok yang sebagian sudah hancur, sisa bangunan petirtaan dan bekas kolam taman dengan bangunan Bale Kambang (Rara Denok).

Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Maulana Hasanudin yang dilanjutkan oleh Maulana Muhamad. Pendirian menara dibuat pada masa pemerintahan Maulana Muhamad.

Meriam Ki Amuk
Meriam Ki Amuk terletak di sisi benteng berdekatan dengan kanal di satu gubuk beratap tanpa dinding menghadap utara seolah-olah disiapkan untuk menembak kapal musuh yang hendak merapat ke pantai. Pada bagian atas mulut meriam terdapat prasasti berbahasa arab yang bunyinya “aqibatul khoirissalamatuliiman” yang berarti tahun 1450 Saka atau sekitar tahun 1528-1529 M. Meriam ini masih ada hubungannya dengan meriam Ki Jimat yang merupakan hadiah dari Sultan Trenggono dari Demak kepada Sunan Gunung Jati.

Watu Gilang
Watu Gilang merupakan batu berbentuk empat persegi panjang yang terbuat dari batu andesit yang terletak di depan Keraton Surosowan.. Menurut cerita batu ini dipakai sebagai tempat pentabhisan para sultan Banten. Menurut babad banten Watu Gilang ini merupakan tempat singgasana Maulana Hasanudin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar