Ahlan Wasahlan Sugeng Rawuh ....

"SELURUH DUNIA ADALAH PESANTRENKU" demikian fatwa Sunan Kalijaga, 600 tahun yang lalu. Sabda pangandika ini mengisyaratkan bahwa tugas dakwah adalah ke seluruh alam tanpa batas. Maka Pesantren Khusnul Khatimah, nyendikani dawuh ini dengan mengirim ratusan santri, kyai, ulama, ustadz ke seluruh penjuru dunia untuk terus mengabarkan ketauhidan Allah SWT.

Zakat Mal, Sumbangan, Infak dan Sedekah Anda
akan kami salurkan untuk membantu program dakwah ke pelosok-pelosok nusantara.

Sabtu, 22 Mei 2010

MAKAM SYEKH MAGHRIBI TROWULAN



Makam Troloyo merupakan salah satu Makam Islam kuno yang ada di pulau Jawa. Jika dilihat dari sejarahnya, Makam Troloyo sudah ada sejak abad ke XIV M. Dari Makam Troloyo membuktikan bahwa Islam sudah berkembang sejak masa kerajaan Majapahit. Artinya masyarakat Majapahit ketika itu sudah ada yang menganut agama Islam. Di sinilah keunikannya, bahwa kerajaan Majapahit yang berciri Hindu-Budha ternyata juga memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk memeluk agama yang sesuai dengan keyakinannya.
Dari kaitannya dengan sejarah masa Majapahit. Ternyata Makam Troloyo pun menjadi salah satu bukti awal penyebaran Islam di tanah Jawa. Khususnya daerah di pedalaman Jawa. Bahkan dari beberapa sumber lisan, ada yang menganggap bahwa Makam Troloyo merupakan sumber tertua tentang masuknya Islam. Terlepas dari benar atau tidaknya sumber ini, masih perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam. Serta dibandingkan juga dengan sumber-sumber yang lainnya.
Kenyataan menunjukkan bahwa Makam Troloyo merupakan sumber sekaligus saksi sejarah tentang perkembangan Islam di tanah Jawa. Mengalami perkembangan sampai saat ini, hingga menjadi destination atau semacam tempat tujuan wisata bagi masyarakat. Terletak di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Dengan pengembangan pariwisata, maka Makam Troloyo akan memberikan manfaat bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar. Yang perlu disadari adalah pengembangan pariwisata juga harus memperhatikan kaidah-kaidah dalam ilmu pengetahuan, khususnya bidang arkeologi dan sejarah. Sehingga pengembangan pariwisata tidak merusak atau menghilangkan keaslian peninggalan sejarah tersebut.
Demikian sejarah akan bermanfaat jika digunakan untuk motivasi membangun dan maju. Wallahua’lam bi as-shawaab
Pesanggrahan Madjapahit, Sabtu, 07 Maret 2009. 01.00 WIB.
Fendy Suhartanto, S.S.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar